
"Tengah malam tadi, aku tidak bisa tidur. Aku minta tolong Papa untuk menemaniku ke ruang piano. Aku merekam lagu baru sampai dini hari."
Penjelasan Jemma ditanggapi Gail dengan tatapan mata yang menyipit. Dalam pikirannya, Nigel terlalu menuruti kemauan anaknya- baik yang keterlaluan padahal bisa dilakukan esok.
Jemma merasa hawa tak baik dari Gail. Dia melihat ke Jarrett untuk minta pertolongan.
"Ma, aku sudah dengar lagu baru Jemma. Bagus yang ini lebih bagus dari yang lainnya," ucap Jarrett sambil mengeluarkan ponsel untuk memutar lagu tersebut.
"Nanti, Jarrett. Mama belum selesai dengan Jemma," tolak Gail cepat.
"Iya, Mama," kata Jarrett lalu melihat Jemma sendu. Dia merasa tak enak hati.
"Dini hari lagunya selesai dan Jemma kembali tidur. Lalu Papa tidak tidur?" tanya Gail serius. Bahkan sendok yang digunakannya diletakkan ke piring.
"Iya, Mam. Papa bilang ada pekerjaan yang harus dikerjakan dan tidurnya nanti saja. Papa duduk di area kerjanya," jawab Jemma sejelas-jelasnya. Berharap ketegangan melonggar.
"Ketika Jemma bangun, Papa dimana?" interogasi Gail.
"Di dapur. Papa menyiapkan sarapan, Mam. Sepertinya Papa selesai mandi juga, karena sudah berganti pakaian."
Gail menghela nafas. Dia bisa memahami sekarang.
"Ya sudah. Lain kali, Jemma harus berpikir dua kali jika ingin melakukan sesuatu tidak pada waktunya. Malam hari saatnya tidur karena tubuh manusia perlu istirahat. Paham?"
Anggukan Jemma menjadi jawaban. Dia mencoba memahami dimana kesalahannya.
"Kita ambil Papa sebagai contoh. Jemma pikirkan, Papa bolak-balik ke Hicity kemarin dan itu melelahkan. Dari pagi Papa sudah sibuk banyak sampai malam. Mama yakin sekali, ketika Jemma minta tolong itu Papa baru tidur dan memaksakan diri untuk terjaga lagi. Mama paham Papa menyayangi Jemma tapi Jemma juga tidak boleh mementingkan diri sendiri. Sang Putri mengerti maksud Mama?"
"Jemma akan minta maaf pada Papa, Mam."
"Sini dulu. Mama peluk Sang Putri," pinta lembut Gail sambil merentangkan lengan. Dia selalu menahan diri untuk tak kelepasan marah pada Jemma, cukup menegur karena si genius manis itu seorang yang perasa.
"Mam, apa Papa baik-baik saja?" lirih Jemma dalam pelukan Gail.
"Papa baik-baik saja, Sang Putri. Tapi jika terulang lagi, Mama tidak tahu harus berkata apa. Jadi cukup sekali ini saja, ya?"
Anggukan Jemma ketiga kalinya membuat Gail tak tahan untuk menggelitik putrinya itu. Wajah ceria selalu lebih baik daripada muram.
"Mam, geli. Sudah. Aku capek ketawa, Mam. Tolong kakakmu yang manis ini Jarrett," kata Jemma di sela-sela tawa kegeliannya karena jemari Gail.
Jarrett yang dimintai tolong seolah tak mendengarkan. Dia pilih menikmati saja suara tawa renyah dua perempuan kesayangannya.
"Kesayangan Mama," ujar Gail mengakhiri aksinya dan melepaskan Jemma darinya.
"Silakan melanjutkan sarapan, Kesayangan Jemma," balas jenaka Jemma sembari naik kembali ke tempat duduknya.
Sedangkan Jarrett mulai berpikir apa yang akan dilakukannya tanpa Nigel saat ini. Untuk rapat virtual nanti tak mungkin dia membangunkan sang papa yang sedang mengganti jam tidur yang kurang, bahkan tidak ada sama sekali.
Mau tak mau, Jarrett melakukannya sendiri. Dia hanya punya waktu satu jam untuk bersiap-siap.
|Diw @diamonds.in.words -2022
Siapa dulu bapaknya J, hahahaa