DUO J: GENIUS

DUO J: GENIUS
Untuk



“Gee, apa kotak yang kemarin sudah dibuka?”


“Kotak? Kotak yang mana, Nigel?”


“Kotak berwarna coklat. Ada tulisan Milik G di tutupnya. Aku membawakan itu kemarin ke rumah The Brown.”


“Aku belum melihatnya. Nanti aku tanyakan pada Bunda, ya.”


“Baiklah.”


“Apa isinya, Nig? Penting sekali?”


“Bukan sesuatu yang bisa basi, Gee. Sangat penting untukmu pada masa itu sehingga juga menjadi penting sekali olehku. Aku bersyukur barang-barang itu tidak ikut hilang.”


Gail bisa merasakan perubahan emosi ketika Nigel mengucapkan kalimatnya. Raut wajah sendu lelaki itu seakan terhubung dengan suasana hati Gail, jadi ikut sedih rasanya.


“Ada apa, Gee?” tanya Nigel menyadari sang istri terdiam sambil menatap dirinya.


Gail hanya tersenyum sebagai jawaban. Suapan terakhir puding stroberi pun habis di mulutnya.


Nigel ikut tersenyum melihat senyuman Gail yang semakin cantik di matanya. Tak ada kata-kata yang pas untuk menjelaskan betapa luar biasanya momen berdua sekarang.


“Nigel-” ucap Gail menggantung. Ada ragu untuk membahas apa yang terjadi antara mereka kemarin sore.


Tak ada yang berubah dari Nigel selama Gail bersama sang suami dari tadi. Pikiran dan perasaan Gail belum sejalan untuk membicarakan perihal kemarin.


“Papa, Mama,” panggilan berasal dari dua suara yang muncul dari pintu masuk kamar yang terbuka. Sudah pasti itu Duo J.


Perhatian kedua manusia di dalam ruangan beralih kepada anak-anak itu. Bagai malaikat penolong untuk Gail yang akan kebingungan jika Nigel memintanya melanjutkan kalimat yang menggantung.


“Papa dan Mama di meja makan, Duo J,” seru Nigel menyambut dua buah hatinya.


Jemma dan Jarrett lari berebutan untuk sampai di tempat kedua orang tuanya sedang duduk. Landon yang berada di belakang dua cucunya hanya geleng-geleng kepala.


"Selamat pagi, Ayah," sapa Nigel sambil berdiri ketika sang mertua ikut mendekat ke arahnya.


"Selamat pagi, Menantu," balas Landon.


Satu orang dewasa dan dua anak berusia lima tahun itu bergabung bersama Gail dan Nigel di meja makan.


"Jemma kehilangan Mama, aku juga diejek cengeng oleh Jarrett," adu sang putri sambil meminta tubuhnya diangkat ke pangkuan Gail.


"Maafkan Mama tidak menunggui Sang Putri bangun tidur dulu," ucap Gail kemudian mencium gemas pipi anak perempuan dalam pangkuannya itu.


"Mam, maaf Jemma ini sangat banyak untuk Mama."


"Tapi tetap saja penangis," sahut ringan Jarrett yang duduk di kursi samping Nigel. Tidak seru jika tidak menimpali saudari kembarnya hingga kesal.


"Jarrett, tadi aku tidak sampai menangis loh!" ucap Jemma yang nada suara meninggi. Dia pun turun dari pangkuan Gail.


"Mataku tadi melihat air mengalir di pipi gembulmu itu, Jemma."


"Air mata itu turun sendiri."


"Cengeng."


"Pap, Jarrett bilang cengeng lagi" adu Jemma kali ini kepada Nigel.


Gail dan Landon yang sudah tak asing dengan drama Duo J versi kekanakan itu hanya menonton. Mereka menikmati saja.


Sedangkan Nigel meladeni Jemma untuk menyenangkan hati perempuan kecil itu tanpa membuat Jarrett merasa tersisih. Momen yang tidak untuk dilupakan.


Beberapa selang waktu, tiba saatnya mereka untuk melanjutkan urusan masing-masing. Gail dan Landon pamit berangkat ke Dapur The Brown.


Tinggal Nigel dan Duo J tetap berada di villa Addison. Kamar besar yang sedang ditempati itu terasa tak sehangat saat ada Gail. Itu kesamaan yang ada dalam hati mereka.


"Pap, apa kita bisa tinggal bersama-sama? Ada Mama dan Papa, Nenek dan Kakek, bersama Jarret dan aku," ucap Jemma lirih.


Rasa aman dan nyaman yang Jemma dapatkan dari pelukan sang papa dan usapan sayang di kepalanya membuat perempuan kecil itu mengeluarkan isi hatinya.


"Bisa, Je. Kita hanya perlu lebih sabar supaya saat itu lebih cepat terjadi. Kenapa bertanya begitu, Sang Putri?"


"Tidak kenapa-kenapa, Pap," ucap Jemma lalu mengalihkan topik pembicaraan, "Pap, aku dan Paman Miel punya persamaan ya?"


Nigel paham Jemma tidak mau membahas apa yang dirasakannya. Sang papa pun tak akan memaksa, sehingga dia mengikuti kemana lontaran kalimat dari mulut manis putrinya.


"Tentu saja punya, Je. Kamu dan Pamanmu kan keluarga dekat. Beri tahu Papa, persamaan yang mana?"


"Sama-sama sedang dipeluk sambil duduk dan kepalanya diusap. Aku lihat Paman tertidur dipeluk Bibi. Kepala Paman juga diusap seperti ini. Aku kok jadi mengantuk."


Tawa Nigel terpancing oleh penuturan Jemma. Imut sekali putrinya berbicara. Dia juga jadi tahu kemana hilangnya pasangan yang dibicarakan itu.


"Sayangnya sekarang masih pagi, Je tidak bisa tidur sekarang. Semalaman sudah tidur, kan?"


"Iya, Pap. Jangan peluk dan usap kepalaku lagi. Jemma bersandar saja," ujar Jemma langsung menahan tangan Nigel.


"Oke. Apapun untuk Sang Putri."


Giliran tawa Jemma yang terpancing. Dia tidak ingin apapun selain harapan teruntuk keluarga sempurna terwujud.


"Pap, lihat Jarrett. Saudaraku itu semakin sering terlihat asik sendiri dengan tabletnya. Hadiah dari Papa itu jarang lepas dari tangannya."


"Jarrett sedang mempersiapkan kejutan. Tablet yang untuk hadiahmu masih sama Papa, kapan Je mau pakai?"


"Nanti saja saat aku sudah perlu. Kata Kak Ev, dia pakai tabletnya waktu sekolah. Pelajarannya ada di sana."


"Je bisa belajar musik pakai tablet itu. Nanti Papa atur program di dalamnya. Bagaimana, Sang Putri?"


"Terima kasih, Pap. Tapi aku sedang tidak mau. Untuk sekarang, besok, besok satu lagi, mungkin sampai besoknya besok."


"Kenapa, Je?"


Jemma tidak menjawab. Tubuh kecilnya itu memberi pelukan untuk Nigel dan mengeratkan dekapan mereka. Wajah cantiknya tenggelam di dada bidang sang papa.


Untuk sekian kalinya, insting Nigel meyakinkannya ada yang berbeda pada Jemma di hari ini. Otaknya mulai memikirkan siapa yang akan dia tanyai dan mencari tahu apa yang terjadi.


"Selamat pagi, Genius Tampan," sapaan diperuntukkan kepada Jarrett. Pasangan Miles dan Avery lebih dulu melihat anak laki-laki itu ketika masuk ke kamar Nigel.


"Selamat pagi, Paman dan Bibi. Tolong sapa dengan namaku saja," ucap Jarrett lalu kembali serius dengan bacaannya di layar tablet.


Padahal sudah tahu bahwa Jarrett tidak seperti Jemma yang bermulut manis, Miles tetap saja mengikuti Avery untuk menggoda si keponakan. Lihat istrinya menahan tawa, itu menyenangkan bagi Miles.


"Sayang, apa Jemma tertidur?" bisik Avery kepada Miles. Dia memastikan dulu sebelum bersikap.


Miles pun bertanya tanpa suara ke arah Nigel. Lewat isyarat, papa dari Jemma itu meminta keduanya menyapa juga sang putri yang wajahnya masih menempel pada Nigel.


"Selamat pagi, Keponakan Manis. Ini Bibi bersama Paman Jemma yang Menawan," ucap Avery energik supaya dibalas ceria pula oleh perempuan kecil itu.


"Selamat pagi, Bibi yang mempesona dan Paman yang menawan," sambut Jemma. Mulut manisnya sudah terlihat karena tidak lagi mendekap Nigel.


"Oh, kesayangan Bibi," ucap Avery tersipu.


Ucapan Jemma memang sesuatu. Setelah Miles, Avery pun kena. Untuk kedua orang dewasa itu, manisnya kata dan cara sang keponakan mengucapkan itu membuat hati tersanjung.


"Jemma, apa keripik-keripik ini kamu yang bawa?" tanya Avery sambil menunjuk bungkus-bungkus keripik yang ada di meja makan. Dia mengalihkan fokus agar tak meleleh oleh manisnya keponakan itu.


"Bukan, Bibi. Itu sudah ada sejak aku sampai di sini. Sepertinya Mama yang bawa. Sepertinya dibawakan khusus untuk Papa."


Sekali lagi Avery menahan diri untuk tidak kelepasan mengeluarkan tawa bahagianya. Sudah tahu itu isi dari kantong yang Gail bawa tadi saat dia jemput, tapi mendengar Jemma bicara menyenangkan baginya.


Nigel dan Miles berdiam untuk menyimak dua perempuan kesayangan itu bertukar suara. Ketika mendengar bagian terakhir kalimat Jemma, giliran Nigel untuk tersipu malu.


|Bersambung..


-Diw @ diamonds.in.words | Desember2021


Silakan beri ‘suka’, ‘vote, ‘hadiah’, juga jadikan ‘favorit’ lalu bagikan ajakan baca novel Diw ini, makasih loh dukungannya untuk keberlangsungan Duo J: Genius  :)