DUO J: GENIUS

DUO J: GENIUS
Sempurna



“Bagaimana, Pa?” ujar Jarrett penasaran.


Nigel menepuk sayang pundak sang putra. Layar tablet yang dia pegang menampilkan rancangan aplikasi perangkat lunak yang dibuat Jarrett.


“Sempurna. Kamu genius, Ja,” Kata Nigel tidak menyangka. Ada kejeniusan lain yang baru diketahuinya dari Jarret, ternyata tidak hanya olahraga dan aktifitas fisik.


“Maaf, Pa. Aku tidak menghitung papa jadi orang ke berapa yang mengatakan aku genius. Tidak tahu kalau Jemma,” ucap Jarrett menyombong namun terkekeh di akhir kalimatnya.


“Tidak masalah. Papa cukup terlambat untuk membantumu menghitung, Ja.”


Jarrett tertawa lebih keras karena humor dalam kalimat yang diucapkan Nigel. Sebab nada yang dibuat-buat sang papa sama dengan nadanya bicara tadi.


“Pa, apa perlu aku ambilkan kursi roda itu? Sebentar lagi waktunya pulang. Hari ini giliran mama yang menjemput aku dan Jemma bermain di villa.”


“Tidak, Ja. Biar Papa sendiri. Kamu hanya perlu melihat dengan baik hasil dari kerja cerdasmu pada Papa.”


Jarrett mengacungkan dua jempolnya. Dia paham dan pindah rebahan di karpet berbulu. Tadinya mereka duduk di dekat meja komputer Addison sedangkan kursi roda Nigel di dekat pintu masuk.


Nigel mulai bergerak. Kedua tangannya mengenggam ujung meja agar bisa berdiri. Setelah itu dia seolah berpegang pada dinding untuk bantu berjalan.


Tapi baru beberapa langkah Nigel berjuang menjalankan kakinya, Gail muncul dari balik pintu. Mata wanita itu terpaku sejenak lalu tangannya menyambar kursi roda dan didorongnya ke dekat yang punya.


Nigel kaget dengan apa yang baru saja Gail perbuat untuknya. Sisi perhatian dan jiwa penolong dari sosok Genaya didapatinya kembali.


Meski Nigel merasa Gail seperti tidak menganggap keberadaannya sejak pagi tadi. Betapa dia tersakiti dengan sikap dingin sang istri. Tapi satu tindakan barusan membuatnya bahagia.


“Jarrett,” panggil Gail dan nadanya menyebut nama sang putra adalah pertanda ada sesuatu yang membuat marah.


“Mama,” jawab Jarrett dengan takut karena dia tidak tahu apa yang salah. Otaknya mendadak lamban jika berhubungan dengan sang mama mode marah.


“Kita bicara nanti. Sekarang berdiri. Ayo pulang,”kata Gail sekenanya pada Jarrett. Namun bahasa tubuhnya pada Nigel masih menunggui kursi roda untuk menopang kembali kaki yang tidak normal.


Nigel peka bahwa ada yang tidak beres dan memilih menuruti apa yang sepertinya Gail inginkan. Dia pun mencoba membaca apa yang tampak di raut wajah Jarrett yang pertama kalinya dia lihat begitu.


Ketika sudah duduk dengan nyaman, Nigel yang berencana menggerakkan roda kursinya yang canggih itu lewat tombol batal dalam hitungan detik. Sebab Gail terlebih dulu mendorongnya.


Pengetahuan Gail terbatas pada kursi roda perlu didorong agar mempermudah penggunanya. Seperti dilihatnya dari perlakuan Miles kepada Nigel malam tadi. Padahal itu hanya kebiasaan Miles.


“Mama, Papa, Jarrett,” sambut Jemma berteriak riang dari balik piano. Sedangkan jari-jarinya masih memainkan tuts yang mengalunkan sebuah lagu bertempo cepat.


Ketiga orang tersebut membalas Jemma dengan bahasa tubuh. Mereka pun memasuki ruang musik villa Addison itu dan menikmati permainan sang pianis


Senyuman Jemma makin mengembang. Sempurna. Harinya sempurna. Memainkan lagu baru ciptaan sendiri untuk pertama kalinya, serta ditonton papa, mama, dan Jarrett.


Imajinasi keluarga sempurna sudah Jemma ciptakan dalam pikirannya sejak mengerti konsep ayah, ibu, dan anak-anak. Sejak perkembangan otaknya cepat menangkap makna dari kata-kata yang didengar.


Sekarang di dekatnya bermain piano, ada kehadiran keluarga sempurna versi Jemma. Rasanya kini dia bisa memahami apa yang Evelyn katakan sebagai hadiah buah dari kesabaran waktu itu.


“Kita sudah bisa pulang, Sang Putri?” ucap Gail  sambil membalas mencium kedua pipi Jemma. Suasana hatinya bisa cepat berubah cerah karena musik ceria yang didengar barusan.


“Bisa, Mam. Tapi tunggu sebentar, papa belum mendapat cium pipi dari Sang Putri,” kata Jemma lalu dia beralih pada Nigel. Dia melakukan hal yang sama dengan memilih sebelah pipi sang papa.


“Terima kasih, Sang Putri,” balas Nigel pada Jemma dengan mengikuti apa yang Gail lakukan tadi. Dia memperhatikan bagaimana kedua perempuan itu bertingkah manis sekali.


“Sama-sama, Pap. Sang Putri memang berbaik hati,” ujar Jemma senang. Lalu badan kecilnya turun dari kursi roda Nigel.


“Aku?” suara Jarrett mengarahkan protes pada Jemma. Kebiasaan mereka tentu saja ada, yaitu memeluk satu sama lain. Pelukan salam, pelukan berbagi, pelukan usil, pelukan yang hanya mereka paham.


“Aku tidak baik hati padamu, Jarrett. Kamu membawa papaku ke ruang komputer dan tidak mengembalikannya dengan cepat,” kata Jemma ketus dan dia mendahului berjalan keluar.


Gail hanya geleng kepala terhadap drama Duo J, kelakuan yang memperlihat sisi kanak-kanak dari dua anaknya itu. Beda dengan Nigel yang jadi kaget terbengong.


Tidak disangka Nigel akan ada sikap Duo J yang disaksikannya barusan. Diingat lagi selama beberapa minggu bersama, dia hanya bertemu salah seorang dari mereka secara bergantian.


Nigel juga teringat bahwa sepertinya selama itu, fokus perhatian Duo J dan dirinya adalah pada kesembuhan pasca kecelakaan air. Sehingga dia terbiasa dengan sisi genius dan dewasa dari keduanya.


Kursi roda Nigel terus berjalan dengan dorongan dari Gail di belakang. Sepasang suami istri yang baru sehari bertemu itu sama-sama tidak buka suara.


Hening sepanjang jalan dari villa Addison sampai ke rumah The Brown. Baik Gail yang instingnya pada orang asing untuk bersikap awas dan Nigel yang berhati-hati untuk tidak melewati batas.


Berbeda dengan Duo J yang berjalan berdampingan di depan kedua orang tua itu, mereka saling mengusili, bertengkar kecil lalu terkekeh berdua. Ramai yang menyenangkan.


***


“Gail,” panggil Landon pada anak angkatnya yang baru selesai menata alat makan setelah dicuci. Lanjut berkata, “Ayah perlu bantuanmu.”


“Ada apa, Ayah?” ucap Gail berjalan mendekat ke Landon yang berdiri di pintu masuk rumah.


“Tolong Ayah untuk mengantarkan buah-buahan di kantong ini ke rumah seberang. Ayah lupa memberikannya ketika Duo J pamit bermain ke sana.”


Gail menatap Landon dengan menyelidik. Ada firasat lain dari permintaan tolong sang ayah kali ini.


Landon segera memberikan dua buah kantong ke tangan Gail. Dia menyerahkan dengan cepat agar putrinya itu segera bergerak.


“Ayah perlu melanjutkan perbaikan blender,” jelas Landon sembil menunjuk pada dua alat bantu masak yang jadi alibinya itu sedang tergeletak di meja ruang tamu. Gail menghela nafas pertanda memaklumi.


Rasanya Gail tidak ingin lagi bertemu Nigel. Cukup dua kali saja dalam seharian ini, pagi dan sore tadi. Tapi setelah ditambah malam ini, malah seperti dosis sempurna minum obat. Tiga kali sehari.


*bersambung..


-Diw @ diamonds.in.words | Oktober2021


**Silakan tekan tombol suka, hadiah, vote dan jadikan novel ini masuk favorit. Juga, bagikan. Makasih ya :))