DUO J: GENIUS

DUO J: GENIUS
Banyak



Posisi duduk untuk makan malam bersama pastilah Gail berada di antara kursi Ellie dan Landon. The Brown selalu dalam peran sebagai perisai untuk ketakutan ajaib sang anak angkat.


Orang asing dan rasa aman, adalah dua hal yang jadi batasan Gail dalam bersosialisasi. Dia perlu ditemani orang terdekat agar tidak sampai cemas berlebihan sebab tubuh lemahnya akan merespon buruk.


Gail sangat berhati-hati. Dia tidak boleh jatuh sakit. Efeknya banyak, seperti domino jika dirinya sampai drop. Berimbas pada Duo J, The Brown, serta perkembangan usaha bisnis rumahan mereka.


Jadilah Gail tidak beranjak jauh dari Ellie atau Landon selama makan malam bersama itu. Lagipula pikirnya, tokoh utama acara adalah Nigel, si tuan rumah.


Lihat saja lelaki itu tak berhenti menampakkan wajah yang menyenangkan, cerah, ramah dan hangat ke semua yang ada. Gail tak menyangka cuma makan malam akan jadi seperti ini.


Yang duduk mengitari meja makan ada Nigel, Duo J, Evelyn, Wyatt, Miles dan Avery yang barusan dikenalkan pada Gail serta The Brown ditambah dirinya. Ada sepuluh orang. Itu sudah cukup banyak.


Lalu orang-orang yang berlalu lalang mengurusi makanan, minuman dan entah apalagi, tidak bisa Gail hitung dengan pasti. Baginya, jumlah mereka tidak sedikit.


Itu semua membuat Gail tak bisa berbuat banyak. Selain tersenyum, berkata seperlunya, dan tak melepaskan diri dari The Brown.


Landon yang paham situasi memanggil Jarrett lewat gerakan tubuhnya agar mendekat. Hanya cucu laki-lakinya itu yang memungkinkan untuk membantu.


"Ada apa, Kek?" kata Jarrett berbisik. Anak lima tahun itu paham jika sang kakek memanggilnya dengan cara tadi berarti ada perlu berdua saja.


"Kakek perlu bantuan Jarrett. Tolong katakan pada papamu untuk duduk berhadapan dengan letak kursi mamamu. Di sini terlalu banyak orang baru," ucap Landon ikut berbisik. Istilahnya orang baru yang asing bagi Gail.


"Baik, Kek. Serahkan padaku. Jarrett tidak akan mengecewakan."


Tidak berselang lama, permintaan tolong Landon sudah dikabulkan Nigel dan Jarrett memberi isyarat tangan bahwa urusan mereka beres pada sang kakek. Mereka bertiga saling balas senyum dalam arti yang sama.


Di posisi duduk sekarang, Nigel bisa melihat Gail lebih jelas. Benar yang Jarrett katakan tadi. Sekarang istrinya lebih banyak menunduk karena tak bisa nyaman dengan kehadiran orang-orang di sekitar mereka.


Sepuluh menit berlalu, Nigel sudah mendapat kode kepala pelayan bahwa semua menu makan malam sudah siap untuk disantap. Para pelayan yang bertugas sudah dilarang untuk masuk halaman lagi, yang disisakan hanyalah sang kepala.


Nigel sebagai tuan rumah segera mengucapkan beberapa kalimat untuk memulai makan malam bersama. Setelah itu, setiap tangan dan mulut bergerak menikmati hidangan.


Selain itu, suara dari yang hadir juga terdengar berbicara dengan orang yang sampai dalam jangkauan mereka. Seperti Nigel yang bisa mengobrol dengan Landon, sambil menatap sang istri yang kebanyakan menunduk.


Gail tidak sadar bahwa orang-orang yang ada tinggal sepertiga dari yang tadi dilihatnya. Itu jadi seperti berkah bagi Nigel, bisa melihat istrinya tanpa perlu dibatasi dengan curi-curi pandang.


Landon tidak bisa menahan diri untuk melayangkan gurauan dalam obrolan sambil makan itu. Kepada Nigel yang pandangan matanya seperti diikat kuat sehingga tidak bisa lepas dari Gail.


Bukan Nigel yang langsung merespon ucapan Landon, tapi Gail. Perempuan itu tersedak karena mendengar apa yang ayah angkatnya katakan.


Gail menyimak obrolan dua pria beda generasi itu sejak tadi meskipun dia tidak sanggup mengangkat pandangan matanya dari meja. Tidak ada yang terlewat, mulai dari pertanyaan bagaimana kabar hari ini hingga barusan.


Nigel spontan bangkit dari kursi rodanya. Dia mesti berdiri agar gelas air putih yang ada di tangannya sampai di jarak yang bisa lebih mudah diraih Gail. Perasaan khawatir sang suami pada istri.


Sontak semua mata tertuju pada Nigel. Termasuk Gail yang sambil meneguk air menatap ke arah sang suami. Terkejut tambahan.


"Gee, apa sudah lebih baik?" ucap Nigel dan masih ada cemas dalam nada bicaranya.


"Sudah. Terima kasih airnya, Nigel," jawab Gail. Kali ini dia bisa balas menatap lelaki yang duduk berseberangan meja dengannya.


"Aku menghawatirkanmu, Gee," kata Nigel setelah mengangguk sebagai respon ucapan terima kasih Gail. Lalu dia tersenyum dan kembali duduk di kursi rodanya.


Puluhan menit kemudian, makan malam selesai dan berlanjut dengan mengobrol santai untuk mempererat silaturahmi. Momen yang memang dikhususkan oleh keluarga Irey. Agenda penting untuk menjeda sibuknya hari-hari.


Tapi tidak untuk Gail, jadwal untuk waktunya tidur tidak lama lagi. Keajaiban tubuh yang membuatnya membatasi diri. Dia hanya terlihat seperti orang pada umumnya, tapi tidak senormal seharusnya.


"Mam, apa boleh Jemma tidur di sini malam ini? Jemma ingin menemani Evelyn menginap di The Twins," pinta si perempuan kecil pada wanita yang melahirkannya.


"The Twins?" ucap Gail minta penjelasan lebih lanjut dengan mengulang dua kata itu dengan bertanya. Dia perlu tahu banyak agar hatinya bisa tenang memberi izin.


"Rumah tempat papa ini, Mam. Jarrett dan aku memberi namanya tadi pagi. Supaya kita tidak bingung menyebut rumah yang mana."


Gail dibuat tertawa oleh cara penyampaian Jemma. Putrinya itu selalu menyenangkan, apalagi jika berhubungan dengan mengajukan keinginan yang perlu persetujuan sang mama.


"Baiklah. Apa hanya Jemma yang minta izin pada mama?"


Anggukan Jemma menjadi jawaban lalu perempuan kecil berumur lima tahun itu mencium pipi Gail. Bagian sebelah yang jadi favoritnya, ucapan selamat tidur. Dia hafal jadwal mama yang satu itu.


"Terima kasih, Mam."


"Terima kasih banyak, Sang Putri."


Keduanya pun saling memeluk lama. Gail tidak bisa mendekap putrinya sambil tidur malam ini. Bukan masalah, hanya perlu ada kompensasi pamit.


Ketika itu, Nigel yang berkursi roda dan Jerrett yang berjalan santai di samping sang papa mendekat pada dua perempuan kesayangan mereka. Gail jadi memperhatikan jalannya kursi roda yang tidak didorong ataupun digayuh itu.


"Apa sudah saatnya kembali ke rumah The Brown, Gee?" kata Nigel saat pelukan sang istri dan putri mereka selesai. Nada bicara pria itu lembut, hangat dan penuh kasih sayang.


"Iya. Rencananya aku menunggu Bunda dari toilet dulu. Setelah itu berpamitan padamu dan keluarga Irey," ucap Gail cukup tenang. Tidak sadar ada telapak tangan Jemma yang peka, menggenggam milik sang mama dengan penuh perasaan.


Jarrett hanya memperhatikan interaksi itu. Dia tahu besok Jemma akan membahas tentang momen ini padanya. Maka sekarang saksikan dengan baik.


"Baiklah. Aku punya sesuatu di dalam kotak ini untukmu, Gee. Besok pagi saja dibuka, ya. Kamu mesti tidur dengan baik malam ini," kata Nigel. Dia menyingkatkan apa yang ingin disampaikan.


Yang penting maksud hatinya sudah diucapkan. Nigel yang tidak tahan dengan semua batasan ini hanya bisa berusaha dalam gerak cepat. Banyak dukungan yang dia dapatkan membuat rasa menyerah jauh darinya.


Dilihat dari jauh, pemandangan dari dua pasang orang tua dan anak itu memancarkan kebahagian bagi yang melihat. Khususnya pasangan mata The Brown dan Irey Family.


Duo J pun berpindah posisi setelah Gail menerima yang Nigel ulurkan padanya. Jemma membawa dirinya untuk dipangku sang papa di kursi roda dan Jarrett menggantikan telapak tangannya untuk digenggam sang mama.


Kedua pasang itu bersamaan berjalan menuju tempat keluarga besar mereka sedang santai bercengkrama. Di bagian halaman rumah yang ditata dengan beragam kursi taman yang sesuai dengan kemampuan seorang Nigel Irey.


Ternyata Ellie sudah bergabung dengan Landon dan keluarga Irey di sana. Gail meyakinkan dirinya sendiri untuk bisa melalui sesi berpamitan dengan baik.


"Terima kasih banyak sudah hadir lagi, Genaya."


*bersambung..


-Diw @ diamonds.in.words | Oktober2021