DUO J: GENIUS

DUO J: GENIUS
Jadi



Jemma menahan senyum sambil berlari. Tubuh kecil itu segera mengambil tempat di samping Jarrett. Sembari merapalkan doa dalam hati.


Trik dari si genius cantik, yaitu membuat sang mama dan papa berkontak fisik. Hasil Jemma bersengkokol dengan Jarrett dalam aksi dadakan barusan memang tidak sia-sia.


Gail dan Nigel jadi berpelukan akibat ulah Jemma yang tiba-tiba. Jarrett pernah bercerita bahwa kekuatan kaki sang papa semakin membaik, kemungkinan mudah jatuh makin kecil.


“Terima kasih, Gee,” ucap Nigel lembut, ditambah dengan senyuman manis setelah Gail melepaskan pelukan mendadak mereka.


Gail menjawab ucapan Nigel lewat senyuman canggung. Detak jantung wanita itu sedang tidak karuan dan pikirannya kacau. Karena efek terkejut, begitu anggapannya.


Nigel kembali melangkahkan kedua kakinya yang rasanya lebih berat daripada tadi. Sedangkan Gail mengikutinya dalam diam namun cekatan memindahkan letak sebelah tangan sang suami.


“Gee, aku membuat es krim coklat spesial. Seperti yang pernah aku janjikan dulu. Maafkan aku, harusnya kemarin lusa aku memberikannya padamu,” ujar Nigel lembut.


Sembari berjalan dengan menumpu tangan kanan di pundak Gail, Nigel berharap ada yang sang istri katakan padanya. Dia rindu mendengar suara Gee.


“Iya,” ucap Gail pendek. Dia tidak fokus dengan apa yang Nigel katakan karena sibuk menenangkan diri sendiri.


Gail yang baru saja memegang erat tangan Nigel lalu dibalas dengan genggaman lembut pria itu ditambah mereka saling memeluk walau tidak sengaja dan hanya sebentar.


Terlalu banyak itu bagi Gail. Adaptasinya, fisik dan psikis, tidak secepat kejadian barusan.


Nigel berhenti bersuara setelah mendapat respon Gail tidak seperti yang diharapkan. Mereka bergerak dalam hening sampai di sofa.


Gail pun duduk di jarak paling jauh dari Nigel. Sehingga Jemma dan Jarrett berada di tengah-tengah.


“Apa aku perlu mengambilkan es krimnya sekarang, El?” kata Miles memecahkan keheningan. Dia cukup paham kecanggungan yang sedang menguar.


“Sebentar,” ujar Nigel merespon Miles. Lalu dia beralih berkata pada Gail, “Gee, kamu masih di sini kan? Mau makan es krimnya sekarang?”


Gail bingung. Kebingungan terhadap es krim yang dimaksud Nigel. Dia berusaha memahami keadaan dan melihat raut antusias Duo J untuk jawaban iya.


“Boleh,” ucap Gail pada akhirnya.


Tanpa Nigel mengucapkan minta tolong pada Miles, sang adik kembar jadi paham apa yang harus dia perbuat segera. Yaitu mengeluarkan wadah-wadah ukuran sedang dari kulkas yang letaknya di samping kanan kamar Nigel.


Ruangan berfasilitas selengkap apartemen itu membuat nyaman penghuninya. Mereka menikmati es krim buatan tangan tuan utama Irey diselingi dengan obrolan ringan, canda dan tawa.


Mereka maksudnya hanya Duo J dan dua pria dewasa tersebut, sebab Gail cuma menikmati es krim saja tanpa ikut bersuara. Dia jadi pendengar.


Sembari itu, Gail menikmati juga keakraban yang terbangun di sekitarnya. Interaksi anggota keluarga Irey yang berkumpul itu memancarkan kehangatan dalam hatinya.


“Gee, aku antar ya,” ucap Nigel menarik fokus Gail kembali.


Langit senja terlihat dari jendela kamar Nigel. Ternyata cukup lama waktu yang tidak disadari Gail. Spontan si istri menolak niat sang suami. Tidak ingin merepotkan.


Apalagi jalan pulang pergi dari villa Addison ke rumah The Brown sudah biasa bagi Gail. Jadi bukan sesuatu yang perlu dibesar-besarkan, hingga sampai diantar segala.


Namun bukan Nigel namanya jika tidak bisa memaksimalkan kepintaran. Apalagi menyangkut waktu bersama Gee untuk lebih lama, kesempatan yang tidak boleh jadi sia-sia.


Jeda dua hari tak bisa bertemu lalu bagai hutang yang wajib dibayar. Pada akhir, Gail mengalah dan membiarkan Nigel mewujudkan keinginan tapi dengan persyaratan.


Hati tidak tega Gail bisa mencapai setuju setelah Nigel berkata akan memakai kursi roda sepanjang jalan dan akan selalu ada Miles di dekat sang suami itu.


Ditambah alasan dua tuan Irey itu punya urusan terkait renovasi rumah The Twins, jadi sekalian saja. Pada saat mendengar alasan yang itu, ada sejumput kecewa terasa oleh Gail.


Jadi apapun dijalani saja dengan perasaan yang positif. Bahkan perihal kematian yang berpeluang sangat besar menyangkut ajaibnya hidup Gail, sudah disampaikannya pada Duo J.


Hari itu pasti akan datang, Gail menekankan pada Duo J untuk melepas kepergiannya nanti dengan perasaan dominasi bahagia. Cukupkan sedih dengan tidak berlarut dalam duka.


Satu dari sekian banyak pesan yang Gail ucapkan kepada Duo J. Dirinya tahu kejeniusan yang putra putri miliknya punya itu mampu mencerna apa yang dia sampaikan.


Obrolan sebelum tidur jadi kesempatan yang tidak Gail lewatkan untuk mendidik kecerdasan emosional dua anaknya. Masa hidup Duo J yang lebih panjang darinya, perlu bekal.


***


“Avery akan tiba jam sepuluh pagi, El,” kata Miles memberi info setelah selesai menelepon wanita tercintanya.


Nigel terdiam sebentar. Matanya kembali beralih ke layar ponsel. Dia baca lagi isi pesan teks dari Jarrett beberapa menit lalu.


"Kalau begitu, aku minta tolong bawakan kotak coklat yang ada tulisan Milik Gee,” ucap Nigel ragu lalu berkata, “Malam ini, Avery ada di mansion utama kan, Es?"


"Iya. Akhirnya istriku bisa pulang setelah lembur di Iking Headquarter selama dua hari."


Nigel tersenyum miris. Dia selalu jadi orang ketiga, dalam artian beda, di antara pasangan Miles dan Avery. Entah siapa yang beruntung di antara mereka.


Hubungan tali keluarga sekaligus rekan kerja. Saling menguatkan dalam luasnya kesabaran, terlebih di awal masa terpuruk Nigel. Peran Miles jadi bertambah dan jabatan Avery jadi naik.


“Kita perlu cari cara lagi untuk meringankan beban kerja wanitamu, Es. Cukup enam tahun saja kalian tidak punya quality time sebagai sepasang suami istri,” ucap Nigel sedih.


“Iya, Kakak,” balas Miles sekenanya. Cara dia dan Avery dalam mencintai berbeda dengan cara Nigel dengan Genaya aka Gail.


Jadi tidak ada konflik yang berarti bagi hubungan Miles dan Avery yang terikat oleh kesibukan masing-masing yang padat itu. Tidak sering bertemu secara fisik bukan masalah oleh mereka.


“Es, apa besok Ev ikut ke sini?” tanya Nigel sambil matanya tetap fokus pada layar ponsel.


“Tidak, El. Sekolahnya mengadakan leadership camp, Ev jadi perwakilan kelas,” jawab Miles, seperti lawan bicaranya, fokus mata berada di layar. Dad Evelyn itu baru buka laptop.


“Tidak diragukan. Bibit kepemimpinan dari gen Irey tumbuh cepat pada Ev,” ucap Nigel setelah itu menghela nafas. Matanya beralih ke langit-langit lalu berkata, “Apa Ev bahagia Es?”


Miles yang peka menyadari ada getaran dalam ucapan Nigel, mengalihkan arah pandangnya ke sang kakak kembar. Dia belum paham ada apa dengan kalimat itu.


“Maksudnya, El?”


“Hentahlah. Aku jadi terpikir itu. Dekat dengan Duo J sepertinya menjadikan sisi kebapakan-ku hidup.”


“...”


“Duo J tidak ingin jadi ini atau itu, padahal kejeniusan mereka tidak diragukan. Keduanya bilang cuma mau membahagiakan satu sama lain.”


|Bersambung..


-Diw @ diamonds.in.words | November2021


>kok jadi turun air mata sih di bagian kematian


>>Readers, lanjutannya di tanggal 2 Desember dan setelah itu akan setiap hari  Diw terbitkan. Mau kan, mau :)