
“Masuk, Mam. Kamar aku di sini,” tunjuk antusias Jemma kepada Gail. Lanjut berkata, “Yang itu adalah kamar Jarrett.”
Jemma mengambil alih peran Nigel untuk menunjukkan apa saja yang ada di rumah The Twins kepada sang mama. Meski papanya masih berada di ruang tengah, tapi dia sedang serius menjawab telepon dari kantor. Sedangkan Jarrett ke ruang bawah tanah lagi.
“Papa juga yang mendekornya, Sang Putri?” tanya Gail dengan nada kagum yang masih kental terhadap interior yang ada di depan mata.
Keduanya berada di dalam ruangan yang diperuntukkan khusus sebagai tempat privasi Jemma. Sesuatu yang Gail sendiri belum bisa berikan sedangkan Duo J terus tumbuh besar.
“Papa dan aku. Papa minta aku menjelaskan mau kamar yang seperti apa. Setelah itu ada gambar rancangan diberikan Papa untuk aku setuju atau tidak. Ada yang diubah atau tidak.”
“Kamar yang bagus. Jemma mau tinggal di sini?” ucap Gail mencari tahu apa putrinya inginkan terkait menempati rumah The Twins.
Anggukan Jemma menjadi jawabannya disertai perkataan, “Aku mau tinggal dimana pun Mama tinggal.”
“Kalau Mama tetap di rumah The Brown?”
“Aku tetap di sana juga dan kesini saat Mama pergi kerja saja. Seperti biasanya.”
“Bagaimana dengan Papa?”
“Aku tidak tahu, Mam,” ucap Jemma sendu sambil minta digendong Gail. Lanjut berkata, “Apa Mama tidak akan pernah tinggal disini?”
“Kenapa Jemma berpikir begitu?”
“Papa bilang Papa tidak akan memaksa Mama pindah kesini kalau Mama tidak mau.”
“Papa bilang begitu?” tanya Gail terkejut.
Jemma mengangguk. Raut wajahnya tidak seceria tadi. Kemudian dia menyandarkan kepalanya ke pundak Gail dan memeluk leher sang mama erat.
“Papa juga bilang, Papa akan menuruti apa yang keinginan Mama,” kata Jemma yang volume suaranya terhalangi tubuh Gail.
“Gee, Je,” teriak Nigel terdengar. Dia mencari di ruang mana istri dan putrinya berada.
Jika saja rumah ini sudah benar-benar selesai, Nigel bisa mencari tahu lewat layar CCTV dan tak berteriak seperti sekarang. Dia tidak suka meninggikan volume suaranya.
Bersamaan dengan Gail yang menggendong Jemma melewati pintu kamar, Nigel akan masuk kesana. Lewat gerakan mulut tanpa suara, Nigel meminta diri untuk menggantikan istrinya menggendong sang putri.
“Jemma,” panggil Gail kepada perempuan kecil dalam gendongannya itu. Dia sudah bisa mengira putrinya akan tertidur saat menumpukan kepala ke bahunya.
“Bagaimana, Gee?” tanya Nigel dengan suara lembutnya.
“Jemma tidur, Nigel. Aku saja yang gendong.”
“Baru tidur?”
“Iya.”
“Kalau begitu, aku ambil sebelum dia semakin lelap. Sini, Gee,” ucap Nigel sembari membuka lengan, meraih tubuh kecil sang putri yang berusia lima tahun itu.
Gail langsung menuruti apa yang Nigel katakan. Kharisma si suami saat berucap barusan membuatnya tidak ragu dengan sosok kebapakkan dalam diri Nigel.
“Hati-hati,” gumam Gail ketika beban tubuh Jemma tidak dirasakannya lagi. Sang putri pun berpindah ke gendongan ala koala pada Nigel.
“Mam,” lirih Jemma, antara sadar tak sadar dari tidurnya.
“Iya, Mama ada di dekat Jemma,” ucap Gail sambil mengusap kepala Jemma dua kali dan dibalas gerak refleks Jemma mengeratkan dua tangannya memeluk leher Nigel yang dianggap milik sang mama.
“Anak Mama,” ujar Nigel tersenyum mendapati kelakuan manis dua perempuan kesayangannya.
“Gee,” panggil Nigel untuk mendapatkan perhatian Gail beralih fokus kepadanya. Lalu berkata, “Ada apa?”
Gail memandang Nigel sebentar sebelum dia menjawab dengan kalimat yang bermakna ambigu, tidak ada apa-apa. Padahal, pikiran dan perasaan sedang berperang.
“Ya sudah. Ayo, kita menyusul Jarrett ke bawah. Setelah itu baru ke rumah The Brown.”
“Dengan kamu menggendong Jemma? Jangan Nig, badannya akan terasa semakin berat. Panggil saja Jarrett kesini lalu kita pergi.”
“Cintaku lebih berat, Gee. Jadi ini tidak masalah,” jawab Nigel terkekeh kemudian berubah nadanya menjadi sendu lanjut berkata, “Aku juga tak akan bisa menggendong sang putri saat dia semakin tambah besar nanti.”
Gail terdiam. Dia menyadari sesuatu. Dirinya dan Nigel sama-sama memiliki kehilangan, meski dalam bentuk yang berbeda.
Kehilangan memori masa lalu yang berimbas pada psikis bagi Gail dan bagi Nigel, salah satunya adalah kehilangan momen tumbuh kembang Duo J yang juga berdampak pada psikis. Itu menyakitkan.
“Gee, ayo ke ruang bawah. Aku akan memperlihatkan apa yang membuat Jemma sibuk sejak tadi pagi dan tak berhenti tertawa,” ajak Nigel lagi untuk membuyarkan lamunan Gail.
Dua kali berturut-turut Nigel melihat Gail melamun. Hal yang tidak biasa dia temukan pada istrinya itu sebab Gee-nya yang dulu orang tak banyak berpikir. Tentu saja enam tahun bisa mengubahnya.
“Ayo,” sambut Gail dengan menampilkan senyuman manisnya.
Giliran Nigel yang terdiam, tidak langsung melangkah setelah Gail mengiyakan. Dia terpesona dengan senyum istrinya. Senyuman yang barusan sudah sangat lama tidak dia dapati.
“Nig?” ucap Gail lagi, kali ini dengan nada bertanya.
Nigel salah tingkah. Namun begitu, dia cepat menguasai diri untuk lanjut membawa Gail tur rumah ke ruang bawah.
“Jemma menyebut ini tingkat ke bawah,” tutur Nigel mencairkan suasana.
Berjalan berdampingan dan berdekatan dengan Gail sudah bisa Nigel lakukan. Tidak ada penolakan dan pemberian jarak dari istrinya itu, perubahan baik seiring waktu dan usahanya.
“Iya. Ketika dia bercerita, aku bingung membayangkan. Rumah bertingkat tapi yang terlihat adalah rumah satu lantai,” sambung Gail terkekeh.
Seolah Gail geli sendiri dengan dirinya yang waktu itu tidak paham dengan yang Jemma ceritakan tentang renovasi yang Nigel lakukan terhadap rumah ini. Tidak masuk akalnya.
“Supaya tidak mencolok, Gee. Di Delan ini, dominasi bangunannya sederhana. Aku tidak mau kamu merasa tidak nyaman jika aku bangun rumah yang terlihat berbeda dari kebanyakan.”
“Kamu sampai memikirkan ke situ, Nig?” tanya Gail, tidak menyangka ada banyak hal yang disesuaikan Nigel terhadap dirinya.
“Tentu saja, Gee. Terus terngiang-ngiang dalam pikiranku, yang selalu kamu katakan setelah aku mengakui diri bahwa aku adalah Nigel Irey yang bukan orang biasa.”
“Apa yang aku katakan, Nig? Kamu pernah membohongiku tentang siapa dirimu?”
Nigel tertawa mendapati raut penasaran Gail. Wajah istrinya tampak menggemaskan sekarang.
Nigel melampiaskan rasa gemasnya itu kepada Jemma dengan gerakan seolah menggigit. Bahu putrinya jadi sasaran karena itu yang bisa terjangkau.
“Anakku, Nigel,” seru Gail spontan menarik dan membekap mulut suaminya itu.
Refleks Gail bukan merebut tubuh Jemma dari gendongan Nigel. Dia tidak tega merusak betapa pulas putrinya yang tidak akan tidur lebih dari setengah jam itu.
“Maaf,” ucap Nigel setelah sadar dari keterkejutannya. Gerakan tiba-tiba Gail itu membuat degup jantungnya bertalu-talu. Pesona Gail yang semakin meningkat karena aura keibuannya juga termasuk.
|Diw @diamonds.in.words - Februari22
Reader, jangan lupa like-nya. Kalau mau nambah dengan ngasih kopi boleh juga hehehee