
Ketukan terdengar dari arah pintu kamar lalu sebuah suara yang familiar meminta izin masuk. Duo J dan Gail tahu siapa itu.
"Aku saja yang bukakan pintu, Ma," ucap Jarrett cepat sebelum dua perempuan kesayangannya bereaksi.
Benar saja, ketika pintu kamar digeser oleh Jarrett langsung terlihat sosok yang ada dalam perkiraan tadi. Si nona kecil Irey melambaikan tangannya.
"Halo, adik tampanku," sapa Evelyn dengan sedikit bumbu keusilan.
"Namaku Jarrett. Ingat itu big-siss," ujar Jarrett bersungut sembari mempersilahkan kakak sepupunya itu masuk.
Evelyn tertawa sambil melangkah ke dalam ruangan. Senang saja melihat wajah tak terima Jarrett jika dipanggil pakai embel-embel tampan secara langsung itu.
"Halo, Aunt," sapa Evelyn lebih dulu kepada Gail. Perlakuan santun di awal pertemuan.
Sedangkan Jemma mendapat urutan disapa Evelyn setelah sang mama. Gail menyambut keponakannya itu dengan hangat.
"Uncle pesan padaku untuk Aunt menunggu dijemputnya."
"Baiklah, Ev. Terima kasih sudah menyampaikan pesan Uncle," kata Gail sambil memeluk Evelyn yang ikut menyandar ke lengannya seperti Jemma lakukan.
"Sama-sama, Aunt. Rasanya menyenangkan seperti ini. Pantas Jemma suka," ujar Evelyn kemudian terkekeh.
Lama tidak bertemu secara langsung membuat obrolan ringan mengalir kesana-kemari. Ditambah topik betapa kerennya rumah uncle El-nya Evelyn.
Jemma bercerita dengan antusias untuk menambahkan apa yang Evelyn baru lihat. Sedangkan Jarrett, berubah peran jadi pendengar saja di sofa baca.
"Aku ingin sekali kamu menginap disini, Ev. Aku punya kamar sendiri sekarang," ucap Jemma sendu.
"Aku harus kembali ke sekolah besok pagi, Je. Mom bilang aku harus mematuhi aturannya kalau masih mau dapat izin dari asrama ke depannya," jelas Evelyn tak kalah sendu.
"Berarti sekarang, Ev harusnya sedang di asrama?" kata Gail ikut perpindahan topik obrolan.
"Iya, Aunt. Tapi karena mendengar Uncle buat acara dan semuanya ke sini, aku mohon pada Mom untuk membawaku ikut," terang Evelyn kepada Gail sekaligus memberi pengertian pada Jemma.
"Ikut tapi dengan syarat dan ketentuan," timpal Jemma pasrah.
"Jangan sedih, adik manisku. Aku punya libur pendek bulan depan dan Mom pasti bisa mengatur untuk aku menginap," hibur Evelyn lalu menoleh ke Gail dan berkata, "Aunt, aku boleh menginap di sini?"
Tawa Gail pecah. Tingkah anak dari Miles dan Avery itu lucu dan menggemaskan di matanya saat bicara barusan.
"Tentu boleh, Ev. Aunt akan bantu bicara dengan Mom dan Dad kalau kamu tidak langsung diizinkan," kata Gail.
Sejauh ini, rasa asing sudah tidak ada lagi dari Gail kepada anggota keluarga Irey lainnya. Walau belum sedekat hubungan dengan The Brown.
"Ma, sudah jam 6. Aku cari Papa dulu, ya?" ucap Jarrett mendekat ke arah para perempuan yang duduk bersama di atas sofa ujung ranjang.
Gail tersenyum mengiyakan inisiatif Jarrett. Tadinya Nigel memberitahu makan malam bersama itu akan dilaksanakan setelah jam enam sore.
Jarrett yang sejak tadi banyak duduk, membawa tubuhnya berlari untuk keluar kamar. Sendal rumah yang digunakannya terdengar berketukkan dengan lantai.
Bunyi suara dari alas kaki Jarrett itu menjauh dengan cepat. Gail sudah bisa menduga karena kelincahan fisik si genius tampan membuat geraknya cepat.
Tak lama berselang, Jarrett dan Nigel muncul bersama di kamar utama. Seperti ada ikatan batin karena anak dan papa itu hampir bertabrakan saat melalui pintu batas rumah dan halaman belakang.
Sehingga tak perlu buang waktu bagi Jarrett menemukan keberadaan Nigel. Kedua laki-laki itu pun jalan berbarengan sampai masuk kamar.
"Kids, Grandpa menunggu kalian di ruang bawah. Temuilah. Makan malam dimulai dua puluh menit lagi," ucap Nigel pada anak dan keponakannya.
"Mama?" tanya Duo J bersamaan.
"Mama bersama Papa," jawab Gail cepat. Nalurinya mendorong, rasanya ada urusan berdua dengan Nigel yang belum selesai.
Duo J dan Evelyn serempak menoleh ke Nigel. Seakan minta diyakinkan.
"Iya. Papa bersama Mama," tegas Nigel sembari menyembunyikan keterkejutannya terhadap ucapan Gail.
Duo J dan Evelyn pun berpamitan. Tinggal Nigel dan Gail di kamar yang besar itu.
"Nigel, kamu mandi dulu kan sebelum kita keluar?" tanya Gail memecah keheningan.
"I-iya, Gee."
"Aku yang siapkan pakaianmu, ya?" ucap Gail yang nadanya meminta izin.
Gail sudah menguatkan tekadnya untuk memperlakukan Nigel sebagai suami yang seharusnya. Dia ingin membalas suaminya yang baik itu.
"Gee," ucap Nigel sendu. Dia seperti ingin bicara tapi antara iya dan tidak, seperti sebelumnya.
"Mau aku peluk?" tawar Gail. Dia teringat cara Nigel membujuknya waktu itu.
Kedua lengan Nigel membentang. Gail setengah berlari ke tubuh tinggi nan ideal suaminya itu.
"Gee, aku minta maaf," lirih Nigel yang jelas terdengar di sebelah telinga Gail.
"Iya, aku maafkan," jawab Gail begitu saja tanpa bertanya alasan dibalik itu.
"Aku sangat mencintaimu, Gee."
"Iya, terima kasih."
Nigel menahan tawa mendapati jawaban Gail yang tanpa ada perasaan yang sama dengannya pada nada pengucapan. Masih sama tapi terdengar lucu olehnya kini.
Meski masih harus mengetuk hati istrinya itu lebih giat, suasana hati Nigel tetap cerah. Tidak terasa sedih yang dulu hadir jika mendengar Gail tak sepertinya mengucapkan cinta.
"Gee, bagaimana menurutmu yang aku siapkan untuk rumah kita ini?" ucap Nigel mempererat dekapannya
"Sempurna," kata Gail sungguh-sungguh.
"Yang seperti ini sempurna, Gee?" tanya Nigel lalu merenggangkan peluk untuk bisa menatap wajah Gail sepenuhnya.
"Iya," tegas Gail tersenyum manis.
"Kamu senang, Gee?" tanya Nigel lagi.
"Iya, Nigel," seru Gail lalu terkekeh.
Nigel ikut tertawa melihat ekspresi Gail. Istrinya berada dalam peluk, dan rasanya momen itu tak bisa digantikan oleh apapun.
"Nigel," panggil Gail menampilkan wajah seriusnya kemudian sebelum lanjut berkata, "Aku tidak tahu masalah apa yang kamu hadapi, tapi aku yakin kamu bisa menyelesaikannya dengan baik dan semua akan baik-baik saja."
"Apa yang kamu bicarakan, Gee?"
"Entahlah. Itu sepertinya dari naluriku sebagai istri ketika tadi melihat wajahmu tiba-tiba murung."
"Aku ingin menciummu, Gee," sahut Nigel tak menyambung.
"Nigel Irey," seru Gail melototkan mata. Bukan respon Nigel yang seperti itu ada dalam pikirannya.
Dua detik berlalu, tawa Nigel pecah. Wajah galak Gail tampak menggemaskan tapi tak akan dia sentuh jika istrinya masih membatasi.
Nigel tidak akan serakah. Lebih baik menunggu daripada mendapati hal buruk terjadi pada Gail.
"Tadi itu aku menemukan bahwa diriku gagal. Tidak sempurna melakukan apa yang aku inginkan," kata Nigel, kembali ke topik Gail sebelumnya.
"Apa itu menjadi masalah besar?" tanya Gail penasaran.
"Sepertinya tidak lagi."
"Baguslah," ucap Gail disertai senyum manisnya lalu berkata, "Aku tidak sehebatmu untuk mengerti apa itu. Tapi aku bisa merasakan perasaanmu membaik."
Senyum terbaik Nigel merespon Gail. Benar-benar membaik suasana hatinya setelah mendengar apa yang sang istri ucapkan.
Ibarat teknologi yang Nigel terapkan antar ruangan yang ada di rumah The Twins. Si pintar yang bisa langsung terhubung untuk memanggil jika dinding khusus diketuk.
|Diw @diamonds.in.words - Feb22
Tjakeup yey, emang N sehebat itu.. huhuhuu