
"Pap, aku tidak tahu itu apa tapi Jarrett senang sekali melihat semuanya," ujar Jemma pada Nigel sambil bermanja-manja di pangkuan sang papa yang duduk di kursi roda.
"Kita lihat saja apa yang akan dilakukan oleh Jarrett dengan itu semua,” balas Nigel. Mereka bertiga sedang berada di ruang tengah yang tanpa sekat dengan ruang tamu.
“Untuk Je, papa juga sudah siapkan. Semoga nanti kamu juga senang. Tapi kita harus menunggu rumah ini selesai renovasi. Tidak apa-apa ya, sang putri?" kata Nigel lagi dengan lembut.
Sedangkan Jarrett hanya mendengarkan kedua orang itu bicara. Dia menyusun alat-alat yang didapatkannya sesuai penempatan yang dipersiapkan Nigel.
Agar lebih rapi, tertata dan mudah dicari saat digunakan. Jarrett senang sekali bahwa Nigel sedetail itu mempersiapkan semuanya.
"Tidak apa-apa, Pap. Sang putri juga tidak perlu hadiah lagi. Jemma sudah mendapatkan Papa. Aku sangat senang ada Papa disini."
"Manis sekali kata-katamu, Je," ucap Nigel dengan memeluk gemas Jemma. Lalu mencium kedua pipi putrinya itu.
"Papa benar. Aku memang manis dan Jarret itu tampan karena dia adikku. Lalu, mamaku cantik-" kalimat Jemma menggantung karena dia melihat mata Nigel berembun. Sang papa seperti akan menangis.
Jemma memutuskan untuk memeluk Nigel saja. Pelukan hangat untuk menenangkan. Dia tidak melanjutkan kata-katanya tadi.
"Papa, aku sudah selesai menata semuanya di tempat yang papa siapkan," ujar Jarrett memberi tahu sambil melangkah ke dekat kedua orang kesayangannya di atas kursi roda.
Jemma mengurai dekapannya pada Nigel dan mengusap ujung mata sang papa yang sedikit berair. Sisi emosional perempuan kecil ini cukup genius untuk peka.
“Papa?” tanya Jarrett menatap tajam pada Jemma. Dia tahu saudarinya menyebalkan tapi tidak semenyebalkan itu hingga membuat orang menangis. Apalagi orang tersebut adalah sang papa.
“Jarrett, aku harus bagaimana? Papa menangis,” lirih Jemma membalas tatapan saudaranya. Mata perempuan kecil itu jadi ikut berkaca-kaca.
Nigel yang menyaksikan tingkah kedua buah hatinya itu tergelak. Duo J, genius yang penuh kejutan. Meski baru beberapa minggu bersama, dia bisa yakin kedepannya tak akan bisa jauh-jauh dari mereka.
“Apa Duo J tahu, air mata tidak selalu berasal dari rasa sedih?” ucap Nigel lembut dan hangat, menarik perhatian kedua anak lima tahun itu.
“Aku pernah membacanya di buku, Pa,” sahut Jarrett.
“Aku tidak suka air mata, Pap,” timpal Jemma.
“Jemma tidak suka, tapi air matanya suka keluar banyak,” ejek Jarrett mengusili. Si kakak cengeng membalas dengan menjulurkan lidah kesal.
“Dengar Duo J, sekarang rasanya Papa senang sekali sampai-sampai tidak cukup kuat untuk menahannya di dalam hati. Sehingga keluarlah air mata, yang ini disebut air mata bahagia.”
“Bukan karena Jemma menyebalkan kan, Pa?” ucap Jarrett dalam nada yang dibuat-buatnya serius. Sisi usilnya masih ingin bergurau dengan saudarinya itu.
“Jarrett,” protes Jemma kesal sampai tak sadar besar suaranya berteriak.
“Wow, Jemma. Suaramu keras sekali. Untung saja kita tidak sedang di rumah,” keluh Jarrett sambil mengusap telinganya sendiri.
Kata, sedang di rumah, menjadi perhatian Nigel. Ada sedih dalam hatinya karena sang anak menganggap rumah pada tempat yang tidak ada dirinya di sana. Tapi, itu memang kenyataan.
Nigel cukup paham, tapi rasa itu mengusik perasaan sensitifnya sebagai ayah yang terpisah lima tahun karena tidak tahu ada kehadiran darah dagingnya di dunia. Menyedihkan sekali.
“Astaga. Jarrett, jangan membuatku kesal lagi,” sesal Jemma terhadap dirinya sendiri karena kalah mengendalikan diri dari adik usilnya.
“Pap,” rengek Jemma pada Nigel, semacam bentuk mengadukan perbuatan saudara kembarnya itu pada sang papa. Dia merasa kasih sayang penuh dari perlakuan Nigel selama ini.
Jemma jadi bisa membuat dirinya bertingkah lebih terbuka. Langsung saja menunjukkan apa yang dia rasakan. Tidak memendam perasaan dengan berhati-hati pada Nigel.
“Manja,” ejek Jarrett lagi lalu tertawa lepas. Baginya, Jemma terlihat lucu dengan merengek pada Nigel. Berbeda jika saudari itu merengek padanya, dia merasa sedih.
“Pap,” kata Jemma makin merengek lalu mengeratkan pelukan ke leher Nigel.
“Papa harus bagaimana?” tanya Nigel dengan raut wajah polos. Dia mengikuti tingkah dan permainan peran Jemma. Bercanda yang menyenangkan.
“Tidak bagaimana-bagaimana, Pap,” jawab Jemma ringan lalu mengikuti Jarrett terbahak. Ini bukan hal serius yang harus dibahas serius apalagi pakai menguras otak genius.
Nigel tersenyum manis melihat kedua anak kembarnya yang sedang tertawa. Membahagiakan sekali. Ditambah sekarang, ada bayangan Gee dalam cara tawa mereka di matanya.
“Seandainya ada kamu ikut di sini, Gee,” gumam Nigel sambil tersenyum. Meski suara itu lirih, masih bisa sampai terdengar di telinga Jemma yang peka.
“Jarrett, bukannya jam makan siang ini mama pulang?” seru Jemma menghentikan tawanya tiba-tiba. Saudaranya itu memberi jawaban iya lewat gerakan kepala.
“Sebentar lagi. Mungkin mama sudah berjalan dari dapur The Brown,” ucap Jarrett sambil berpikir lalu menoleh pada Nigel, “Papa, bagaimana kita tunggu mama di teras saja?”
“Ayo,” setuju Nigel. Dengan Jemma yang masih duduk di pangkuannya, kursi roda berpindah setelah tombol canggih ditekan untuk sampai ke teras. Jarrett jalan sendiri di belakang.
Ternyata saat sampai di teras, Nigel melihat pemandangan yang langsung memporak-porandakan perasaannya dalam hitungan detik. Ada Gee dalam jarak pandangnya.
Benar kata Jarrett, Gail sedang berada di jalan menuju rumah The Brown yang berhadapan dengan posisi Nigel sekarang. Terlihat ibu dua anak itu berjalan sambil tertawa.
Rasanya dunia Nigel senyap seketika, hanya ada Gee dalam pandangannya dan seolah suara tawa itu sampai di telinganya. Padahal jarak antara tempat mereka berada masih jauh.
Jemma yang bisa memperhatikan raut wajah terpukau Nigel tertawa dalam hati. Dia tidak tega momen indah sang papa terganggu karena suaranya.
Terus saja Jemma memperhatikan ekspresi Nigel. Dia suka melihat tatapan papa kepada mama. Itu bisa menimbulkan perasaan bahagia untuknya.
Namun beberapa detik berlalu, Jemma menyadari ada yang berbeda. Ada yang lain dalam sorot mata sang papa.
“Mama pulang dengan siapa ya?” ucap Jarrett sambil memicingkan mata untuk netranya bisa lebih fokus pada dua orang di kejauhan itu. Perkataan refleks yang berlalu saja sebenarnya.
Pertanyaan sederhana itu berefek rumit bagi perasaan Nigel. Dia tahu Gee memang pribadi yang mudah tertawa dan itu salah satu yang membuat dia merasakan cinta pada sang istri.
Pesona Gee menguasai seluruh perasaan Nigel. Apalagi setelah hubungan mereka resmi sah sebagai suami-istri, dia telah menyerahkan seluruh rasa di hatinya pada wanita tercinta.
Kedua mata Nigel yang hanya dalam hitungan sentimeter di depan matanya, membuat otak genius Jemma aktif dan peka. Sang papa sedang cemburu.
*bersambung..
-Diw @ diamonds.in.words | Oktober2021
**Silakan tekan tombol suka, hadiah, vote dan jadikan novel ini masuk favorit. Juga, bagikan. Makasih ya :))