
Gail sudah menyelesaikan pekerjaannya untuk hari ini. Ternyata tidak sebanyak biasanya.
Waktu yang kosong sebelum jadwal pulang pun harus dimanfaatkan dengan maksimal. Saatnya bergulat dengan ponsel canggih yang pernah Jemma bilang seperti komputer Om Adi.
Naskah tulisan yang Gail minta kirimkan oleh Jarrett saat itu belum sempat disentuhnya. Masalah pembagian waktu memang jadi perkara bagi Gail.
Makanya Gail agak ragu mengiyakan permintaan pihak Wordlib atas keikutsertaannya waktu itu. Dia tahu dirinya mampu tapi tidak dengan waktu yang dipunya dalam mengerjakan naskah agar siap kirim.
Untuk perlombaan saja, Gail dibantu bergantian oleh rekan-rekan dari Addison. Mereka bantu mengetikkan draf cerita yang ditulis tangan. Berpuluh lembar kertas yang sudah ada sebelum Gail tahu ada info lomba.
Sudah kepalang tanggung untuk nasib baik atas tulisannya kini, Gail harus memutar otak bagaimana kelengkapan naskahnya bisa selesai pada waktu yang ditetapkan.
Meski dalam format softcopy saja, itu tidak lebih mudah. Gail juga belum seprofesional penulis yang bisa duduk tenang, kemudian dalam beberapa waktu selesailah karya luar biasanya.
Gail menghela nafas lalu mengeluarkannya. Begitu berulang kali sampai bising pikirannya tentang naskah mereda.
Bukankah hanya satu yang mesti dilakukan. Gail harus menyudahi pikiran yang dirasa mengganggu lalu fokus mengerjakan naskah semaksimal yang dia bisa.
Sesudah itu, biarkan kemana nasib membawa si naskah. Yang penting Gail telah menyelesaikan bagiannya dengan baik dalam keterbatasan dirinya.
Di tangan Gail, ponsel yang Jarrett berikan itu dia set dengan aplikasi-aplikasi yang mendukung bagi penulis. Dia belajar dari artikel yang dibaca lewat internet.
Jika saja Duo J tidak genius, entah kapan Gail akan terhubung lagi dengan yang namanya internet. Dia benar-benar tidak mengikuti perkembangan zaman.
Gail dalam kehidupan sederhana di Delan dan nyaman saja dengan keterbatasan serta kondisi ajaibnya ditambah lupa ingatan. Sudah saja seperti apa adanya dinikmati oleh Gail.
Daya otodidak Gail baik untuk memahami ilmu lewat bacaan. Seringnya yang berkaitan dengan buku-buku parenting. Ilmu mengasuh dan mendidik anak.
Didukung oleh Addison, Gail akan diminta untuk menyebutkan buku apa yang ingin dibaca tapi tak ada di perpus tersebut. Sekembali adik angkat itu ke Delan, bertumpuk buku hadir di hadapannya.
Kerajinan membaca itulah memicu Gail untuk menulis juga. Awalnya untuk dirinya sendiri. Tak disangka menjadi karya yang bisa dinikmati banyak orang.
Ada kata-kata yang membuat Gail cukup terpikir setelah menerimanya. Itu catatan dari juri terkait penilaian pada naskah.
Bahwa tulisan Gail tidak seperti hasil dari seorang amatir, gaya menulisnya itu dari seorang yang sudah lama mengasah kemampuan berliterasi.
Kala itu Gail sempat penasaran dengan masa lalunya. Berhubungankah itu dengan dirinya yang dulu, yang terlupakan tapi tak lepas.
Sebuah pemberitahuan muncul di layar ponsel yang Gail genggam. Baterainya perlu di isi ulang. Itu membuat Gail menghentikan aktivitasnya.
Sebab kabel penghubung ponsel ke listrik tidak ada Gail bawa. Sepertinya nanti dia tidak boleh meninggalkan benda itu jika sedang membawa ponsel, begitu ingat Gail pada diri sendiri.
Arah mata Gail menuju jam dinding. Waktu untuk jadwal pulang masih ada puluhan menit lagi.
Setelah beres-beres ruangan dan merapikan barang-barang untuk dibawa pulang nanti, Gail memutuskan untuk ke bagian dapur. Tempat dimana Ellie dan Landon berada.
Gail teringat ada yang mau ditanyakan pada bundanya.