
"Bagaimana, Sang Putri?"
"Terima kasih, Pap. Tapi aku sedang tidak mau. Untuk sekarang, besok, besok satu lagi, mungkin sampai besoknya besok."
"Kenapa, Je?"
Jemma tidak menjawab. Tubuh kecilnya itu memberi pelukan untuk Nigel dan mengeratkan dekapan mereka. Wajah cantiknya tenggelam di dada bidang sang papa.
Untuk sekian kalinya, insting Nigel meyakinkannya ada yang berbeda pada Jemma di hari ini. Otaknya mulai memikirkan siapa yang akan dia tanyai dan mencari tahu apa yang terjadi.
"Selamat pagi, Genius Tampan," sapaan diperuntukkan kepada Jarrett. Pasangan Miles dan Avery lebih dulu melihat anak laki-laki itu ketika masuk ke kamar Nigel.
"Selamat pagi, Paman dan Bibi. Tolong sapa dengan namaku saja," ucap Jarrett lalu kembali serius dengan bacaannya di layar tablet.
Padahal sudah tahu bahwa Jarrett tidak seperti Jemma yang bermulut manis, Miles tetap saja mengikuti Avery untuk menggoda si keponakan. Lihat istrinya menahan tawa, itu menyenangkan bagi Miles.
"Sayang, apa Jemma tertidur?" bisik Avery kepada Miles. Dia memastikan dulu sebelum bersikap.
Miles pun bertanya tanpa suara ke arah Nigel. Lewat isyarat, papa dari Jemma itu meminta keduanya menyapa juga sang putri yang wajahnya masih menempel pada Nigel.
"Selamat pagi, Keponakan Manis. Ini Bibi bersama Paman Jemma yang Menawan," ucap Avery energik supaya dibalas ceria pula oleh perempuan kecil itu.
"Selamat pagi, Bibi yang mempesona dan Paman yang menawan," sambut Jemma. Mulut manisnya sudah terlihat karena tidak lagi mendekap Nigel.
"Oh, kesayangan Bibi," ucap Avery tersipu.
"Jemma, apa keripik-keripik ini kamu yang bawa?" tanya Avery sambil menunjuk bungkus-bungkus keripik yang ada di meja makan. Dia mengalihkan fokus agar tak meleleh oleh manisnya keponakan itu.
"Bukan, Bibi. Itu sudah ada sejak aku sampai di sini. Sepertinya Mama yang bawa. Sepertinya dibawakan khusus untuk Papa."
Sekali lagi Avery menahan diri untuk tidak kelepasan mengeluarkan tawa bahagianya. Sudah tahu itu isi dari kantong yang Gail bawa tadi saat dia jemput, tapi mendengar Jemma bicara menyenangkan baginya.
Nigel dan Miles berdiam untuk menyimak dua perempuan kesayangan itu bertukar suara. Ketika mendengar bagian terakhir kalimat Jemma, giliran Nigel untuk tersipu malu.
***
Gail sudah menyelesaikan pekerjaannya untuk hari ini. Ternyata tidak sebanyak biasanya. Waktu yang kosong sebelum jadwal pulang pun harus dimanfaatkan dengan maksimal.
Naskah tulisan yang Gail minta kirimkan oleh Jarrett saat itu belum sempat disentuhnya. Masalah pembagian waktu memang jadi perkara bagi Gail.
Makanya Gail agak ragu mengiyakan permintaan pihak Wordlib atas keikutsertaannya. Dia tahu dia mampu tapi tidak dengan waktu yang dia punya dalam mengerjakan naskah siap kirim.
Untuk perlombaan waktu itu, Gail dibantu oleh rekan-rekan dari Addison untuk mengetikkan apa yang telah dia tulis tangan. Berpuluh lembar kertas yang sudah ada sebelum Gail tahu info lomba.
Kali ini, Gail menjadi perlu memutar otak bagaimana naskahnya bisa selesai pada waktu yang ditetapkan. Dia perbaiki dan siap kirim. Meski dalam format softcopy saja, itu tidak lebih mudah.
Untungnya ponsel yang Jarrett berikan kepada Gail adalah tipe smartphone yang bisa diakses seperti menulis di komputer. Itu bisa jadi salah satu pertimbangan untuk solusi masalah.