DUO J: GENIUS

DUO J: GENIUS
Pasang



"Pasang di sini ya, Grandpa? " tanya Jarrett sekaligus meminta izin.


Si genius tampan itu baru saja selesai merakit alat pijat portable yang Wyatt bawa. Tuan besar Irey ingin merilekskan punggungnya sebelum makan malam dimulai.


"Alat pijatnya sudah dirakit, Jarrett?" tanya Wyatt pula, percaya-tak-percaya.


"Barusan, Grandpa," jawab Jarrett dibarengi dengan wajah lucunya.


"Wah, genius. Grandpa baru saja menelepon Pamanmu untuk datang kesini dan ternyata tidak perlu," ucap Wyatt kagum pada sang cucu lalu menelepon Miles lagi.


Jarrett tertawa ringan menanggapi. Dia lebih fokus memasang tali alat pijat ke sandaran kursi.


"Grandpa, silahkan," kata Jarrett kemudian bergaya untuk mempersilahkan Wyatt menggunakan alat tersebut.


"Terima kasih, Jarrett. Punggung tua Grandpa akan membaik karenamu."


"Sama-sama, Grandpa. Aku senang membantu. Apa kini Grandpa perlu waktu sendiri?"


"Tidak. Jarrett maukah menemani pria tua ini?"


"Mau, Grandpa. Aku tidak mau bergabung dengan dua perempuan itu," kata Jarrett merujuk ke arah Jemma dan Evelyn yang berada dalam jarak pandang keduanya.


Itu membuat Wyatt beralih memperhatikan apa yang dua cucu perempuannya itu sedang lakukan. Jemma menatap layar gawai tablet bersama Evelyn dan sesekali kompak tertawa.


"Sudahlah, biarkan para perempuan menikmati waktunya," ujar Wyatt pengertian.


"Betul, Grandpa," sahut Jarrett sambil memanjat ke kursi gantung yang berada di dekat Wyatt.


"Jarrett, tadi itu sangat cepat. Biasanya perlu menunggu lebih dari sepuluh menit dulu ini sebelum terpasang semua," kata Wyatt yang sedang menikmati pijatan punggungnya dari alat tersebut.


"Jadi Grandpa, jika aku ada maka serahkan saja padaku," ucap santai Jarrett yang ikut merebahkan punggung ke sandaran kursi.


"Grandpa ingin tahu, bagaimana cara kamu melakukannya?"


Pembicaraan pun mengalir antara Jarrett dan Wyatt. Dua laki-laki beda generasi itu menikmati waktu berdua pula.


***


Jemma mendengar suara dari dinding yang ada di samping kanannya. Itu berasal dari Nigel yang menyuruh untuk ke halaman belakang.


"Ev, ayo," ajak Jemma kepada Evelyn yang juga ikut mendengar apa yang Nigel katakan.


Evelyn segera bangkit dari duduknya. Dia mengikuti saja Jemma karena sang adik sepupu yang berperan sebagai nona rumah.


Jemma menuju ke tempat Wyatt dan Jarrett yang asyik bercerita. Mereka memang berada di ruangan yang sama, ruang santai besar yang ada di bawah lantai.


"Grandpa, barusan Papa bilang makan malam akan dimulai. Kita diminta naik sekarang," ucap Jemma sekaligus memberi tahu Jarrett.


"Baiklah, Cucu Manis," kata Wyatt pada Jemma lalu mematikan alat pijatnya.


Jarrett melompat dari kursi yang dipasang menggantung itu dengan tiba-tiba. Dia peka untuk membantu Wyatt.


"Astaga, Jarrett. Grandpa kira kamu terjatuh," seru Wyatt kaget.


"Jarrett itu di luar perkiraan, Grandpa," timpal Evelyn usil.


"Betul. Kamu tahu aku suka dipanggil dengan nama yang benar, Ev," balas Jarrett bergaya.


"Ya, ya, ya, lil-bro," jawab Evelyn gemas dan singkat. Lalu, perhatiannya teralihkan untuk ikut membantu.


Memang sekilas tubuh Wyatt tampak bugar dengan wajah tua yang masih terlihat ketampanannya. Tapi usia tak bisa bohong, dia kesulitan memindahkan tubuhnya setelah lama bersandar.


"Terima kasih, Cucu-Cucuku," ucap Wyatt setelah merasa pas dengan posisi berdirinya.


Kebiasaan mengatakan kata terima kasih mendarah-daging di keluarga Irey. Tidak asing ketika yang tua berterima kasih kepada yang muda.


Jemma mengangguk untuk mendukung pilihan saudaranya. Maka mereka berjalan ke arah yang berbeda dengan tadi pakai tangga.


"Jemma," panggil Evelyn sembari melangkah lalu lanjut berkata, "Aku penasaran dengan dinding yang bersuara."


"Penasaran yang bagaimana, Ev?" tanya Jemma seraya menyamakan besar langkah dengan kakak sepupunya itu.


Sedangkan Jarrett dan Wyatt berjalan bersamaan di paling depan. Semuanya baru saja keluar dari lift lantai atas.


"Apa suara Uncle yang kita dengar tadi juga ikut terdengar di ruangan lainnya?"


"Tidak, Ev. Hanya di ruangan yang ada orang di dalamnya. Dinding khusus itu aktif jika sensornya merasakan kehadiran tubuh manusia. Jarrett bilang begitu."


"Kenapa pakai telepon internal seperti yang ada di rumah, ya?" tanya Evelyn lagi, merujuk pada mansion utama keluarga Irey yang di Hicyti.


"Karena Mamaku."


"Aunt?"


Anggukan Jemma menegaskan ucapan sebelumnya. Kedua matanya beralih dari wajah Evelyn ke sepasang sosok yang bergenggaman tangan di depan kamar utama.


"Papa ingin Mama baik-baik saja di sini. Jika ada sesuatu terjadi di ruangan Mama berada, hanya dengan mengetuk dinding bisa langsung berkomunikasi."


 "Uncle tidak mau terpisah dengan Aunt lagi," ucap Evelyn berempati dan ikut menatap ke arah pandang Jemma.


"Dan aku juga tidak mau, Kakak," kata Jemma menyambung.


"Tidak akan ada kata lagi itu, Adikku," hibur Evelyn.


Dengan membelitkan lengannya untuk mendekap Jemma, Evelyn lanjut berkata, "Apa kita akan bareng jalan dengan Uncle dan Aunt?"


"Ayo, kita duluan. Biar Papa dan Mama berdua saja," putus Jemma dan disambut Evely dengan cepat. Lalu setengah berlari pergi sebelum disadari kehadirannya.


Di sisi orang tua Duo J, Nigel sudah mendapatkan laporan dari kepala pelayan bahwa semua yang bertugas sudah keluar dari area makan malam.


Halaman belakang sudah diisi oleh keluarga besar saja. Saatnya membawa Gail bergabung dengan orang-orang terdekat yang sudah hadir itu.


Sejak Nigel membuka pintu kamar utama, sebelah tangannya dan Gail bertautan. Kali ini si istri menjadikan sang suami sebagai tameng.


Tentu saja Nigel dengan sangat senang hati dijadikan tempat berlindung oleh Gail. Meski dia tahu itu tak mudah bagi istrinya karena terbiasa dengan Landon.


"Tenang, Gee. Cuma ada satu orang di luar keluarga kita yang ada di area makan malam. Hanya kepala pelayan," ucap lembut Nigel mengeratkan genggaman tangan.


Gail tersenyum untuk merespon Nigel. Dia memang sedang meyakinkan dirinya sendiri untuk bisa menghadapi hal baru yang ada di depan matanya itu.


Senyuman Nigel terbit, tertular dari Gail. Tak lama, keduanya pun tiba di halaman belakang.


Penglihatan dimanjakan dengan tatanan apik dan hidung menghirup aroma menggugah masakan yang sudah dihidangkan di meja panjang. Siap disantap.


"Ke Father dulu, Nig?" bisik Gail bertanya. Dia memastikan apa sama tujuan langkah mereka dengan yang ada di perkiraannya.


"Iya, Gee. Father ingin bertemu denganmu dari tadi."


"Aku jadi tidak enak karena tidak menemui Father langsung saat sampai disini."


"Tidak masalah, Gee. Father maklum, istriku," kata Nigel meyakinkan Gail sambil menepuk lembut punggung tangan istrinya dengan sebelah tangan lain.


Beberapa langkah kemudian, Nigel dan Gail sudah berdiri di samping kursi yang Wyatt tempati. Wajah pria tua itu bahagia menyambut sapaan sang menantu dan si sulung.


Dua mata Wyatt melihat cahaya di wajah Nigel yang berbeda daripada saat dirinya tiba tadi. Yang sekarang, tidak ada tampak raut murung dipasang.


|Diw @diamonds.in.words - Feb22


Karena istrinya itu W, huhuhuu