
Rupa Gail yang tertawa lepas itu. Salah satu ekspresi yang ingin dia dapatkan juga ketika mereka berdua. Momen seperti dulu.
“Nigel, apa sudah lama menunggu?” tanya Landon, menyadarkan menantunya yang seperti tak sadar akan keberadaan yang lain.
Landon cukup mampu membaca kelakuan Nigel. Lelaki itu terperangkap dalam pesona Gail, sebab kedua matanya dari tadi hanya menatap terpana ke wajah anak angkatnya itu.
“Ti-tidak, Ayah,” jawab Nigel gugup. Arah matanya beralih dari Gail yang diam saja balas menatap.
The Brown serempak menahan tawa, berusaha tersenyum saja. Ellie berinisiatif angkat bicara untuk mengajak semuanya segera melangkah ke rumah.
Landon berjalan paling depan disusul Ellie. Sedangkan Gail melangkah ke arah ganggang dorong kursi roda Nigel. Kali ini tidak ada bawaan di tangan Gail.
“Mama, Papa,” teriak Jemma sambil berlari ke arah Gail dan Nigel.
Perempuan kecil itu baru saja menyambut singkat kakek dan nenek yang sampai di dekat mobil parkir. Itu berarti Gail juga sudah tiba. Jemma bergegas menuju kedua orang tuanya.
Gail yang berencana untuk mendorong kursi roda Nigel seperti biasanya membatalkan niat. Dia menyambut putrinya lebih dulu. Kebiasaan Jemma dan ritual cium pipi mereka.
“Saat ini adalah waktu yang menyenangkan. Terima kasih, Mam,” ucap Jemma setelah mendapatkan yang dia mau. Gail tersenyum gemas.
Kemudian Jemma bergerak ke Nigel, yang refleks mengangkat tubuh putrinya untuk dipangku di atas kursi roda. Tak perlu diucapkan, sang papa paham.
“Terima kasih, Pap,” ucap Jemma lalu melakukan hal sama dilakukannya pada Gail. Kecupan di pipi kanan.
Sekali lagi, tidak ada kata-kata yang bisa menjelaskan betapa penuhnya hati Nigel dengan kebahagiaan. Momen yang ingin terus dirasakannya, berada dekat bersama-sama.
“Dimana Jarrett?” ujar Gail. Nadanya lebih ke arah bergumam daripada bertanya langsung kepada dua orang beda generasi itu.
Sebab arah mata Gail menyapu keadaan, beralih dari Jemma dan Nigel. Dia mendapati sosok Jarrett duduk di mobil yang pintunya sedang terbuka.
Gail melihat Jarret terus menunduk dan larut dengan apa yang ditampilkan di layar gawai. Sontak wanita dua anak itu menghela nafas dan membuangnya kasar.
Kesekian kalinya Gail merasa Jarrett berubah. Si genius tampan tidak sepeduli sebelumnya dengan keberadaan orang-orang yang berada di sekitarnya.
Jarrett sering sibuk sendiri, dan Gail terusik. Masalah gawai yang ada terus dibawa-bawa sang putra.
Seingat Gail, perubahan yang ada pada Jarrett dimulai sejak Nigel memberikan barang mewah yang tak mungkin mampu dia beli itu. Sepertinya ujian harta menghadang Gail.
“Ada apa, Gee?” tanya Nigel. Telinganya sensitif, bisa mendengar Gail berdengus. Tanda istrinya sedang tidak baik-baik saja, sebaik itu sang suami paham.
“Tidak ada apa-apa. Ayo ke rumah,” jawab Gail beserta senyuman sekenanya. Tatapannya juga berbeda, tidak seramah tadi.
Beebeda, Nigel menatap sendu pada Gail. Sang istri belum terbuka untuk berbagi dengannya, masih ada jarak membentang.
"Ayo, Mam. Meluncur," seru Jemma riang. Keberadaan perempuan kecil itu memutus keinginan Nigel. Tak ada pertanyaan lebih jauh.
***
Jarrett merasa ada yang sedang menatapnya. Ternyata sepasang mata Gail yang Jarret tahu itu pertanda tidak baik.
Segera Jarrett turun dari kursi yang dari tadi dia duduki. Tersadar hanya dirinya yang tertinggal di dalam mobil.
"Mama," sapa Jarrett seperti biasanya. Meski perasaannya tidak enak, itu disimpan dulu.
Sesampainya di dekat Gail, Jarrett melakukan kebiasaannya ketika bertemu sang mama. Mencium pipi.
"Berikan tablet itu pada Mama, Jarrett," ucap Gail dalam nada dingin.
"Terima kasih. Sekarang masuk rumah dan mandi," perintah Gail dan tangannya mengenggam erat gawai yang Nigel belikan untuk Jarrett.
"Iya, Ma. Tabletnya?" kata Jarrett was-was.
"Mama sita."
"Ma, jangan ya. Mama, plis," mohon Jarrett.
Tidak tahu saja, jika disita itu berarti semakin lama waktu termakan untuk penyelesaian project-nya. Jarrett tidak rela.
"Ma-" kalimat Jarrett terpotong karena pelototan mata Gail makin tajam.
"Jarrett Brown!" suara Gail tak bersahabat.
"Iya, Mama. Jarrett Brown Irey laksanakan perintah," pasrah Jarrett dengan kesal. Kemudian berlalu dari hadapan Gail.
Kata Irey yang Jarrett ucapkan menembus perasaan Gail yang lain. Itu mengingatkannya bahwa bayi kecilnya sudah makin besar dan paham siapa dirinya.
Rasanya ada yang berdenyut dalam hati Gail. Refleks dia berjongkok, menenangkan emosi. Berada sendiri di halaman, antara parkir mobil dan teras, rasanya cukup membantu.
Tanpa Gail tahu, Nigel berdiri di pintu masuk rumah. Saat Jarrett masuk rumah dengan wajah ditekuk, firasat sang papa tahu ada sesuatu terjadi di luar.
Benar saja, Nigel melihat Gail berjongkok dengan menekuk kepala ke arah tubuhnya. Nigel ingat dulu Gail pernah bilang; apa rasanya jika sedang dalam keadaan seperti itu lalu menerima pelukan Nigel.
Isi obrolan antara Gail dan Nigel saat bicara tentang cara meredakan ledakan emosi. Selama waktu pendek dalam kebersamaan keduanya, belum melewati segala macam emosi.
Kali ini pertama untuk Nigel menemukan apa yang pernah Gail ceritakan. Dengan memberanikan diri, dia mendekati sang istri.
"Gee, boleh aku memelukmu?" tanya Nigel hati-hati. Dia berdiri tepat di hadapan Gail.
"Gee?" panggil Nigel lembut bertanya, sembari ikut berjongkok. Kakinya sudah semakin membaik, kuat untuk menopang tubuh.
Tidak ada jawaban dari Gail. Kenekatan Nigel membuatnya langsung saja memeluk sang istri.
Ajaibnya, Gail menerima kontak fisik dengan Nigel itu dengan kenyamanan. Kehangatan yang didapatkan dari pelukan itu, mendorong Gail mengeluarkan tangisnya.
Berbagai ketakutan yang seorang ibu miliki juga Gail punya. Selama ini dia pandai menguatkan dirinya sendiri. Tidak mengeluh apalagi menangis.
Tapi Nigel menerobos tembok tak kasat mata itu dan Gail sedang berada di kegelapan dalam benteng yang dia bangun. Entah makna yang mana untuk air mata yang keluar dari dua mata.
Nigel terkejut mendapati reaksi Gail. Dia diterima istrinya, malah dibalas dengan dekapan lebih erat. Tak terkira senang hati si suami.
Namun ada yang salah, kepekaan Nigel mengusik suasana hatinya. Ditambah dia merasakan bajunya basah di bagian atas dada. Suara lirih isak tangis tertangkap telinga.
Sontak Nigel mengangkat badan Gail. Posisi keduanya yang berpelukan memudahkan Nigel mengendong sang istri lalu membawanya duduk ke dalam mobil. Pintu kendaraan besar itu masih terbuka.
Nigel memposisikan tubuhnya dan Gail relaks di sana. Sambil mengusap bahu istrinya, suami itu mengirim pesan pada Miles.
Pesan teks itu berisi permintaan Nigel agar tak ada yang ke halaman rumah atau mencarinya dan Genaya.
Perlu waktu untuk meredakan tangis lirih yang Nigel tangkap dari Gail. Hati Nigel yakin bahwa istrinya itu kembali baik setelah selesai menangis.
Tentu saja Nigel menemani sampai waktu itu tiba. Kesabarannya tak bisa diragukan. Lagipula penerimaan Gail kali ini adalah keinginan terbesar yang selalu ada dalam doa.