DUO J: GENIUS

DUO J: GENIUS
Dekat



Duo J dan Ellie tiba di villa kantor Addison. Giliran sang nenek yang mengantar kedua cucu itu untuk mengisi waktu di sana.


Di sebelah tangan Ellie ada satu kantong kain berisi beberapa botol minuman hasil rebusan daun-daun. Resep tradisional untuk meningkatkan daya tahan tubuh, kesehatan badan.


Kabar bahwa Nigel sedang sakit sampai di telinga Ellie pada sore kemarin. Ketika Landon bercerita padanya kemungkinan yang membuat Duo J dalam mode pendiam sepulang dari villa.


Rasa sayang Ellie pada sang menantu membuatnya tadi pagi-pagi sekali pergi ke pasar. Untuk mendapatkan bahan-bahan yang perlu masuk dalam ramuan air rebusan tersebut.


“Ayo, Nenek. Paman sudah menunggu kita di pintu kamar Papa,” ucap Jarrett sambil memasukkan ponselnya ke saku.


Ellie merespon perkataan Jarrett dengan melangkahkan kakinya lebih cepat. Sedang Duo J berlari-lari kecil di sampingnya.


Raut kedua anak lima tahun itu sudah lebih enak dilihat daripada kemarin. Duo J yang kompak berada dalam mode diam bukan sesuatu yang menyenangkan.


“Silakan masuk, Madam,” kata Miles, yang lebih dulu menyapa mertua dari kakak kembarnya. Sedangkan Duo J menyapa paman mereka itu dengan senyuman manis.


“Terima kasih, Miles,” sambut Ellie lalu mengikuti gerakan Miles untuk lanjut berjalan.


Tampak Nigel yang tersita perhatiannya pada Duo J. Kedua anak itu berebutan naik ke tempat tidur sang papa. Lalu Ellie mengalihkan fokusnya ke arah Miles.


“Bagaimana keadaanmu, Nak? Saya baru tahu kabar Nigel yang sakit kemarin sore. Tolong jangan sungkan memberi tahu kami jika perlu bantuan. Kita ini keluarga,” ucap Ellie sopan.


Ibu angkat Gail itu sebenarnya masih canggung dengan hubungan kekeluargaan mereka. Berhubungan secara pribadi dengan keluarga Irey, tidak pernah sekalipun ada di benak Ellie.


Namun perlakuan Nigel yang mendekatkan diri padanya, jadi alasan untuk menjaga kedekatan mereka. Tuan Irey yang satu itu tidak hanya mendekatkan diri pada Gail dan Duo J saja.


Kedekatan yang Nigel bangun adalah kepada seluruh orang yang berdekatan dengan sang istri. Maka Ellie berusaha mengimbangi, bersikap tidak rendah diri sebab jauhnya jarak sosial mereka.


Ketika Miles akan menjawab pertanyaan Ellie, suara Nigel terdengar ke arah mereka. Pria muda itu tidak lagi berbaring di kasur. Dia dibantu Jarrett untuk bangun.


“Bunda, terima kasih untuk mengunjungiku ke sini,” ucap Nigel dengan senyuman cerahnya. Kemudian menggerakkan sepasang kakinya ke arah sang mertua, langkah demi langkah yang lambat dan hati-hati.


“Menantu Bunda bisa berjalan,” seru Ellie takjub. Pertama kalinya melihat postur tubuh Nigel yang tegak berdiri seperti sekarang. Jarak pandang kepada pria muda itu juga makin dekat.


Meski Ellie bisa melihat jelas pesona rupawan Nigel yang berkursi roda, tetap saja dia terkejut dengan visual sang menantu dalam penampilan itu. Jika disandingkan dengan Gail, mungkin putrinya itu sebahu Nigel.


Seketika Ellie teringat pada Gail yang banyak melamun akhir-akhir ini. Tapi tidak mengatakan apapun padanya, sedekat apa sepasang suami istri yang terpisahkan itu sekarang.


“Bunda melamun?” suara Nigel bertanya terdengar dekat di telinga Ellie. Ternyata mereka sudah sama-sama duduk di sofa dan Miles berada di tengah-tengah.


Suara ketukan pintu kamar menarik perhatian, Miles pun berdiri. Sebelum dia menuju pintu, telapak tangannya lebih dulu bertengger sebentar di dahi Nigel.


Duo J memperhatikan apa yang sang paman lakukan. Terutama Jarrett yang sudah punya banyak pertanyaan untuk dia gali jawabannya dari Miles. Sedangkan Ellie tersentuh oleh kedekatan kedua tuan Irey itu.


Dari arah pintu masuk dua orang berseragam pelayan yang diikuti oleh Miles dari belakang. Hidangan untuk sarapan ditata dengan cepat dan rapi.


“Tidak usah, Nak. Saya sudah sarapan sebelum kesini, jadi masih kenyang,” tolak Ellie sambil membaca reaksi dari raut adik sang menantu itu. Ekspresinya minim.


Miles memiliki pesona yang beda dengan Nigel. Karakter muka keduanya dekat tapi berbeda. Kembar tidak identik yang mencolok sekali perbedaannya. Yang satu berwajah hangat dan satunya dingin.


Tapi Ellie merasakan banyak hal-hal yang sama dari dua pria muda itu. Salah satunya adalah cara mereka memperlakukannya, membangun kedekatan tanpa membuat Ellie merasa tertekan.


“Ini ada beberapa botol berisi ramuan air rebusan, resep tradisional untuk meningkatkan kesehatan. Tetua di Delan ini dulu meminumnya untuk cepat sembuh dari demam,” ucap Ellie.


Perkataan itu Ellie tujukan kepada kedua pria muda di dekatnya. Dia tahu urusan kesehatan Nigel adalah urusan berdua bagi Nigel dan Miles.


Jadi informasi tentang obat yang ingin Ellie berikan itu disampaikan langsung kepada keduanya. Agar tidak timbul salah paham dan bisa memberi jawaban jika ada yang akan dipertanyakan.


“Terima kasih, Bunda,” sambut Nigel dengan raut wajah khasnya yang hangat kepada sang mertua. Ellie merespon dengan tersenyum hangat.


“Madam, maaf. Aku harus konsultasikan dulu dengan dokter sebelumnya, apa Nigel boleh atau tidak meminumnya,” ucap Miles dalam nada santunnya. Ellie juga merespon dengan senyuman hangat.


“Iya, saya paham. Tidak apa-apa, saya membuatkan itu untuk membuat hati saya tenang setelah mendengar kabar Nigel sakit. Yang penting adalah segera sembuh,” tutur Ellie lembut, penuh keibuan.


“Bund, aku segera sembuh,” ucap Nigel meyakinkan. Lalu matanya berubah sendu ketika lanjut berkata, “Aku merindukan Gee, Bund.”


Miles jadi mengamati cara Nigel bicara barusan, yang baginya terdengar seperti rengekan. Dia pernah mendapati sikap sang kakak merengek begitu waktu sedang bersama ibu mereka ketika masih hidup.


Kedekatan emosi Nigel dan Ellie sepertinya membuka sisi lain dari diri kakak kembar Miles itu. Sambil mengulum senyum gelinya, Miles kembali fokus pada layar ponselnya.


“Paman, kapan jadwal Papa minum obat? Aku punya banyak pertanyaan,” ucap Jarrett berbisik kepada Miles, memanfaatkan sela perhatian dari orang-orang dewasa itu.


Dalam posisi mulut Jarrett yang dekat dengan telinga Miles yang tubuhnya menyender ke punggung sofa, keduanya saling berbisik agar tidak menarik perhatian.


Setelah mendapat kesepakatan, Jarrett pun melompat untuk mengakhiri tubuhnya yang bergelantung pada punggung sofa yang tinggi. Memanjat termasuk kata untuk nama tengah si genius.


Sedangkan Jemma, perempuan kecil itu memilih berbaring di kasur Nigel. Dia masih malas untuk melakukan apapun seperti kemarin, mungkin lebih malas di hari ini.


Jemma menguap. Tubuhnya nyaman sekali rebahan di tempat tidur sang papa. Rasanya sama dengan kenyamanan yang didapat saat dia membaringkan tubuh di kasur yang ada di kamar Evelyn.


Andai saja jarak antara tempat Jemma dan Evelyn berada dekat, bisa dijangkau dengan jalan kaki, sang putri mau merengek dengan maksimal agar dia diantar bertemu dengan kakak sepupu itu.


Dalam diamnya Jemma, perlahan-lahan matanya menutup. Dirinya tertidur dan aroma tubuh Nigel yang tertinggal di bantal dan selimut membuatnya semakin lelap.


*bersambung..


-Diw @ diamonds.in.words | Oktober2021