
Gerak-gerik Gail menjadi perhatian Nigel. Sebab yang didapatkan oleh Duo J tidak seperti dirinya, ada acuh tak acuh dari perlakuan sang istri.
Ucapan Jarrett terngiang-ngiang di telinga Nigel. Tapi sampai sekarang dia masih belum menemukan apa yang membuat Gail marah kepadanya saja.
Emosi tanpa mengeluarkan kata-kata bukan sesuatu yang Nigel bisa tangani dengan baik. Gail yang seperti itu belum terbiasa untuk dia hadapi.
"Pap, ada apa?" tanya Jemma. Dia merasa ada yang berbeda dengan interaksi papa dan mama kali ini.
"Mamamu," ucap Nigel sendu.
Jemma mengangguk saja. Tangannya terus bergerak menghabiskan makan malam yang tinggal beberapa kali sendok di piringnya.
Sejak tadi sore bertemu, Jemma memang merasa seolah tidak dibiarkan jauh-jauh oleh sang mama. Dari halaman rumah The Twins sampai ke dalam rumah The Brown, Gail juga tak banyak bicara.
Kegiatan makan malam berjalan begitu saja. Satu per satu selesai menyantap makanan dan menghabiskan minum.
"Gee, bisa kita bicara berdua?" tanya Nigel sembari mengekori Gail mengangkut bekas makan ke bak cuci.
"Iya. Nanti, Nigel."
Nada tegas keluar dari bibir Gail. Dalam hati, dia juga sedang mempertanyakan dirinya sendiri.
Tentang naik turun perasaan terhadap Nigel, Gail merasa kesal yang teramat sangat hingga mau meluapkan marah tadi. Untung logika dan pengendalian diri yang menang dalam dirinya.
Sebab perkara sepele yang tak pantas jadi masalah. Tapi tetap saja, emosi buruk itu masih terasa oleh Gail.
Padahal sudah berjam-jam lalu. Gail yang seperti ini hanya kepada Nigel, membingungkan.
***
"Kakek, apa pernah dengar kolam renang bawah tanah?" ucap Jemma kepada Landon. Dua orang yang bersantai di ruang lepas, tidak ikut beberes ruang makan.
"Belum. Jemma yang pertama menyebutkan pada Kakek," kata Landon mengikuti topik cucu perempuannya yang tampak antusias.
"Berarti Kakek akan melihatnya pertama kali nanti. Itu ada di halaman belakang rumah The Twin. Kata Papa masih ada yang perlu diperbaiki waktu kami ke sana tadi."
"Halaman luas yang pernah jadi tempat kita makan malam bersama Grandpa-mu?"
"Iya, di situ. Kakek tidak akan melihat halaman yang sama seperti waktu itu. Papa mengubahnya jadi luar biasa. Belum selesai tapi sudah terlihat bagus sekali, Kek."
"Tadi apa saja yang Jemma lihat?"
"Banyak. Aku, Jarrett dan Papa juga berkeliling ke banyak ruangan yang dibuat di bawah tanah. Dari pintu masuk, kami turun tangga. Kata Papa, besar ruang bawah tanah itu sebesar ruang di atasnya. Rumah bertingkat tapi arahnya ke bawah."
Kalimat panjang Jemma itu diakhiri dengan kekehan. Landon ikut tertawa karena cara sang cucu menceritakan itu menggemaskan dan menghibur.
"Terdengar ada yang menyebut-nyebut Papa," ucap Nigel tertuju pada Jemma sembari duduk bergabung bersama putrinya itu dan Landon.
"Betul, Pap. Aku memberi tahu Kakek tentang yang aku lihat di rumah The Twin tadi. Aku tidak sabar membawa Kakek kalau semuanya sudah selesai," jelas Jemma semakin energik.
"Masih perlu beberapa hari lagi sebelum benar-benar bisa digunakan," kata Nigel kepada kedua orang kesayangannya itu.
"Aku suka ruang bawah tanahnya, Pap," seru Jemma.
"Itu yang butuh paling banyak perbaikan, Je. Sekarang masih bisa dianggap kita sedang berada di goa jika berada di sana."
"Pap, aku tidak mengerti."
"Sinyal alat komunikasi tidak sampai. Jadi kamu tidak bisa meneleponku lewat ponsel jika aku sedang ada di ruang bawah tanah itu, Jemma," sahut Jarrett tiba-tiba.
Si genius tampan itu ikut duduk di samping Landon sambil membuat gerakan meledek ke saudarinya. Meski Jarrett ingin berbagi pengetahuan tapi kurang pas tanpa mengusili Jemma.
"Terima kasih, Genius," balas Jemma lalu menggerakkan lidah ke Jarrett. Juluran meledek.
Gelak tawa tak bisa dihindari. Obrolan terjeda oleh tingkah Duo J.
"Ja, apa Mama sudah selesai?" tanya Nigel kepada Jarrett kemudian.
"Sepertinya, Pa," kata Jarrett dengan gerakan matanya berisyarat ke Nigel. Arah pandang beralih ke Gail yang meninggalkan ruang makan.
Nigel buru-buru berpamitan dan berjalan mendekati Gail. Dia harus memperbaiki keadaan aneh antara dirinya dengan sang istri.
"Kita bicara di teras, ya?" ucap Gail yang nadanya terdengar lebih bersahabat daripada tadi.
Nigel tersenyum mengiyakan. Keduanya memang perlu privasi sekarang dan teras bisa menjadi tempatnya.
"Gee, aku minta maaf," ucap Nigel langsung ketika dia dan Gail sudah berdua saja.
"Maaf apa, Nigel?" tanya Gail menelisik. Keduanya belum memulai pembicaraan padahal.
"Apapun, Gee. Diriku menganggap aku berbuat salah kepadamu. Tidak tahu itu apa. Tolong jelaskan kepadaku, ya? Kita baikan ya, Gee. Aku mohon."
Gail tertegun mendengar perkataan penuh perasaan itu dari Nigel. Suaminya sesabar itu dan dia merasa bersalah.
"Nigel, aku yang berlebihan. Maaf."
"Jadi, kita baikan?"
Gail mengembangkan senyum sebagai jawaban. Dia juga tidak ingin punya masalah dengan Nigel.
"Gee, boleh aku peluk? Atau kamu yang memelukku lebih dulu juga boleh. Aku merindukanmu."
"Kamu saja."
Dalam gerak cepat, Gail sudah didekap sayang oleh Nigel. Dengan posisi sedekat ini, pembicaraan selanjutnya bisa lebih baik menurut si suami.
"Katakan padaku, Gee. Apa yang terjadi tadi? Apa yang aku perbuat? Aku akan memperbaiki diri," ucap Nigel lembut disertai usapan sayang di punggung Gail. Seolah membujuk untuk bercerita.
"Apa itu harus?"
"Iya. Kita telah terpisah sangat lama dan pasti ada yang berubah. Aku harus tahu agar bisa mengubah diriku. Supaya kita bisa hidup bersama dengan baik."
"Nigel-"
"Gee, aku mohon."
Gail mengeratkan balasan peluk dan menghirup aroma Nigel sambil menimbang-nimbang apa yang akan dilakukan. Dia saja bingung dengan dirinya sendiri. Sekali lagi, tadi itu hal sepele saja ketika dipikir-pikir.
"Nig, aku sendiri bahkan tak paham. Apa yang bisa aku jelaskan."
"Kalau begitu, aku tanya cepat lalu kamu jawab singkat."
"Tanya apa?"
"Mulai, ya."
Nigel dan Gail pun terlibat tanya jawab ala si suami mengorek cerita dari istrinya. Posisi saling memeluk itu bermanfaat untuk mengalirkan rasa dan menguatkan kehadiran.
Hening beberapa saat setelah Nigel merasa cukup bertanya-jawab tentang yang telah terjadi. Itu masa lalu untuk pembelajaran baginya.
"Gee, karena beberapa hari lagi rumah The Twin bisa ditempati, aku akan pindah dari villa Addison."
"Berarti sudah hampir satu bulan, ya."
"Iya. Barang-barang yang ada di villa lebih dulu dipindahkan. Mulai besok, segala kelengkapan rumah juga akan dikirim dari Hicyti."
"Duo J bagaimana? Apa tidak menganggu jika seharian denganmu, Nig?"
"Tentu saja Duo J tidak menganggu, Gee. Rumah itu akan ditempati bersama-sama, dan mereka adalah anak-anak yang sudah bisa berpendapat untuk diri sendiri. Keduanya malah perlu mengatur ruangan yang diperuntukkan masing-masing."
"Baiklah."
"Gee, ikutlah pindah bersama dengan waktu kepindahanku."
Gail perlu beberapa detik untuk paham kalimat Nigel. Sadar akan hal tersebut, dia membeku. Tak bergerak.
|| Diw @diamonds.in.word - Februari22
Pindah bersama berarti gimana G, hahahaa *tawa usil