
Bunyi pintu masuk rumah The Brown membuat Nigel membuka matanya cepat. Dia bisa melihat siapa yang masuk dari posisinya berbaring di lantai ruang lepas.
Ada Ellie yang masuk dan melempar senyum pada Nigel sebagai sapaan. Setelah membalas sapa sang mertua, Nigel melihat jam dinding, belum sampai satu jam dari waktu dia terbangun karena Jemma.
Nigel bangkit dari rebahannya dengan hati-hati. Sang papa harus bisa bergerak tanpa mengusik tidur sang putri yang ternyata tenggelam ke pelukannya. Wajah pulas Jemma damai sekali.
“Bunda,” panggil Nigel pada Ellie saat tubuh pria muda itu sampai di dapur. Sebab di sana Ellie sedang beberes isi tas dan kantong yang tadi dibawanya.
Nigel berada dalam jarak yang cukup untuk bersuara dalam volume kecil pada Ellie. Supaya tidak terlalu kentara dengan hening yang dari tadi tercipta karena tidurnya Gail, Duo J serta dirinya.
“Bagaimana, Menantu Bunda?” tanggap Ellie. Dia tahu ada yang ingin Nigel sampaikan. Mereka juga harus bicara karena yang terjadi saat ini tidak seperti yang direncanakan.
Duo J tidak bertahan sampai sore, jadwal biasanya mereka pulang, di villa kantor Addison. Padahal tadi pagi kedua genius itu tidak keras kepala membantah, mereka mengiyakan.
The Brown terkejut ketika Addison memberitahu mereka bahwa dirinya memenuhi permintaan Jarrett untuk mengantar Duo J pulang ke rumah. Kedua paruh baya itu jadi tidak tenang.
Maka Ellie memutuskan untuk lebih dulu pergi dari daput The Brown. Sang bunda mau memastikan keadaan apa yang sedang terjadi pada kedua cucu, serta anak dan menantu.
“Bunda, Gee-ku menangis lagi. Maafkan aku. Sungguh, aku minta maaf,” ungkap Nigel pada Ellie yang menatapnya lembut dan hangat, bagai sosok ibu kandungnya yang sudah lama tiada.
“Ceritakan pada Bunda,” ucap Ellie sambil mengambil tempat untuk keduanya bisa duduk dan nyaman bicara. Ellie melihat kedua mata Nigel mulai berembun, seperti Jemma ketika sedang cengeng.
Maka mengalirlah kata-kata keluar dari bibir Nigel. Dia menceritakan kejadian tentangnya berdua dengan Gail. Lagi-lagi tembok tak kasat mata yang ada pada Gal membuat Nigel sulit.
“Susah sekali, Bunda,” ucap Nigel dan tetes air matanya jatuh beberapa bulatan. Akhir-akhir ini sisi emosionalnya semakin sering tersentuh.
“Saatnya Menantu Bunda istirahat, kembali ke villa,” kata Ellie membujuk, “Tenang, ya. Hari ini sudah cukup. Ada Bunda di sini. Bunda sudah pulang dan tidak kembali ke Dapur.”
Nigel mendengarkan, tapi tidak ada bantahan atau setuju setelah itu. Pandangannya lurus saja.
Lanjut Ellie berkata agar sang menantu terbujuk, “Nigel bisa kembali lagi ke sini besok, Nak.”
“Bunda, tapi Gee-” ucap Nigel kemudian terpotong.
“Tidak apa-apa, Nigel. Istrimu akan baik-baik saja, percayakan pada Bunda,” sahut Ellie cepat. Sang menantu tidak boleh terus menerus seperti sekarang.
Ellies melihat betapa kusutnya seorang Nigel Irey. Tampak seperti Jarrett yang menyesal setelah mengusili Jemma berlebihan, bukan seperti seorang tuan Irey si orang kaya nan berkuasa.
Dengan berat hati lagi, Nigel mengiyakan untuk berpisah tempat dengan Gail dan Duo J. Cara Ellie meminta berhasil menggerakkan diri Nigel untuk pergi tanpa merasa dipaksa.
“Menantu Bunda, jaga diri baik-baik. Kembalilah besok ke sini dengan dirimu yang lebih kuat,” pesan Ellie ketika melepas kepergian Nigel di pintu rumah The Brown.
***
Jemma tidak menemukan Nigel ketika dia bangun dari tidur siangnya. Rasanya agak lega ketika Ellie memberitahunya bahwa sang papa kembali ke villa.
Berarti Nigel masih di pulau Delan, itu sudah cukup bagi Jemma sekarang. Bersamaan dengan itu, Jarrett mendapati Gail bangun tidur dalam keadaan yang tidak segar.
Mata Jarrett yang genius membaca raut wajah Gail, ada yang tertutupi oleh ekspresi bahagia dan hangat yang sang mama perlihatkan. Seolah semua baik-baik seperti biasanya.
Ketika bertemu Ellie yang sedang beberes ruang lepas, Jarrett teringat kesalahannya tadi siang. Dia mengingkari apa yang mereka sepakati.
"Nenek," panggil Jarrett mendekat ke Ellie. Takut-takut diraihnya tangan kanan salah satu perempuan kesayangannya.
Ellie hanya melihat apa yang Jarrett perbuat. Tatapan matanya datar saja. Itu membuat sang cucu ketar-ketir.
"Nenek, Jarrett Brown mengaku salah. Mohon maafkan cucumu yang tampan ini," ucap Jarrett sungguh-sungguh lalu berencana mencium punggung tangan Ellie.
Tapi kalah cepat, Ellie malah menarik tubuh yang berusia lima tahun itu dan mereka berpelukan. Sang nenek sudah hafal gerak gerik Jarrett dalam minta maaf.
"Punggung tangan Nenek sedang kotor untuk Cucu Tampan Nenek cium. Tadi lihat kan, Nenek sedang bersih-bersih," ucap Ellie lembut sambil mengusap sayang punggung Jarrett.
"Iya, Nek," kata Jarrett pendek dan suaranya keluar agak serak. Perlakuan Ellie yang penuh kasih sayang seperti ini memancing perasaan Jarrett untuk meledak. Tapi pria kecil ini tidak mau kelepasan.
"Tidak."
"Cerita pada Nenek?"
"Tidak."
"Ya sudah."
"Terima kasih."
"Kenapa Jarrett mengajak Jemma pulang lebih awal?"
"Ingin saja."
"Itu saja?"
Jeda beberapa saat. Ucapan pendek-pendek antara Jarrett dan Ellie terhenti karena sang cucu tidak langsung menjawab.
"Nenek, dimana Jemma dan Papa?" tanya Jarrett beralih topik. Dia juga mengurai pelukan pada Ellie.
"Saudarimu di kamar mandi," jawab Ellie sambil menghela nafas karena tidak bisa mengorek keadaan Jarrett sekarang. Pasrah, itu akan jadi urusan Landon nanti.
"Papa?"
"Kembali ke villa."
"Kenapa, Nek?"
Ellie tidak menjawab langsung. Dia berusaha mengerti makna kata tanya kenapa yang meluncur dari bibir sang cucu. Mode banyak tanya Jarrett mirip Gail, membuatnya harus pintar-pintar menjawab.
"Jarrett, masih belum mandi sore?" suara Gail terdengar dari pintu kamar tidur mereka. Nada bertanya yang didominasi perintah.
"Ada Jemma di kamar mandi, Ma," kata Jarrett beralasan.
"Jemma pakai dua kamar mandi sekaligus?"
"Mungkin iya. Tapi sebelum Mama memaksaku mandi, aku akan minta Jemma memberikan salah satu kamar mandi untuk aku pakai," ucap Jarrett bertingkah. Lalu ngacir ke kamar mandi.
Gail jadi geleng-gelang kepala dan mulai menggerakkan lagi ganggang sapu yang dari tadi dipegangnya. Menyapu lantai kamar yang harusnya dilakukan pada pagi hari.
Eliie yang menyimak kedua ibu dan anak itu mengulum senyum. Keadaan sudah kembali membaik, sepertinya. Gail sudah tidak tampak seperti semalam.
Kemudian semuanya terjadi seperti sedia kala, dari sore itu hingga pagi esoknya. Tampak baik-baik saja, saling menutupi kejadian tidak biasa yang terjadi pada masing-masing mereka.
Gail menyipitkan matanya untuk bisa mengetahui jam berapa dia bangun pagi kali ini. Sebab dia menemukan Jemma masih berbaring di sampingnya.
Biasanya Duo J lebih dulu bangun daripada sang mama. Saat ini hanya Jarrett yang sudah tidak ada di kasur. Ternyata Gail bangun setengah jam lebih cepat dari rata-rata.
"Jemma," panggil Gail sambil menepuk lembut pipi anak lima tahun itu untuk bangun.
"Mam," sahut Jemma tapi matanya masih terpejam.
"Lima menit lagi harus bangun. Mama akan membangunkan Sang Putri lagi," kata Gail kemudian turun dari tempat tidur. Dia ingin ke ruang makan.
Seperti otomatis saja, arah mata Gail langsung menuju satu posisi duduk dekat meja makan. Titik yang biasa ditempati Nigel dan kursi rodanya saat menyambut Gail dengan senyuman manis di pagi hari.
'Apa Nigel pergi?' Gail bertanya dalam hati karena tidak ada sang suami di sana. Lanjut menenangkan diri dengan berkata sendiri, 'Mungkin belum datang karena aku bangun lebih cepat sekarang.'
*bersambung..
-Diw @ diamonds.in.words | Oktober 2021