
Jarrett melihat jam di dinding kamar sudah menunjukkan tengah malam. Gail dan Jemma tampak tidur pulas di kasur yang sama dengannya.
Berhati-hati Jarrett turun dari ranjang dan duduk menyudut di jarak terjauh dari tempat dua orang kesayangannya berada.
Tujuannya adalah menelepon Nigel sehingga Jarrett mengusahakan suara yang akan dia keluarkan tidak kentara. Jangan sampai menganggu yang sedang tidur.
"Halo, Ja," jawab Nigel di ujung telepon. Nada suara yang menenangkan bagi Jarrett
"Iya Papa," balas Jarrett singkat.
"Bagaimana kabarnya Genius Tampan ini? Papa tidak menemukan Jarrett yang biasanya selama makan malam tadi. Ceritakanlah apa pun pada Papa, Son. Papa ada untukmu, selalu."
Cara Nigel mengucapkan kalimat panjang itu meyakinkan Jarrett untuk membuka curahan hatinya. Maka mengalir kata-kata yang disimpan si pria kecil dari tadi.
Tentang Gail yang menyita gawai, rasa bersalah Jarrett saat melihat sang mama menangis karena dirinya bersamaan dengan kesalnya yang juga memuncak sebab apa yang direncanakannya terancam lebih lama berhasil karena terundur, serta hal-hal lain terkait.
Si genius Jarrett tetaplah anak-anak ketika emosional menyangkut Gail. Sisi dewasa dalam dirinya mengalami konflik batin, antara logika dan egonya juga.
Perlu dua jam lebih durasi sambungan telepon antara Jarrett dan Nigel sebelum diakhiri. Pembicaraan itu ditambah pengarahan sang papa pada anak laki-lakinya.
“Ja, masih belum mengantuk? Jangan sampai Mama yang bangun lebih dulu besok.”
“Belum, Pa. Tapi, aku akan paksakan tidur saja,” kata Jarrett menjeda kalimatnya. Ada buncahan rasa dalam hatinya kini karena curhat pada Nigel, lalu lanjut berkata, “Terima kasih banyak, Papa.”
Nigel dan Jarrett berbalas beberapa kalimat kemudian sambungan putus. Arahan yang pria kecil itu terima dari papanya berulang-ulang terputar dalam kepala.
“Mama, maafkan aku. Marah saja, boleh. Tapi jangan sampai menangis. Aku bingung. Aku marah juga. Aku sayang Mama. Jarrett sayang Mama, sungguh.”
Setelah membisikkan kalimat itu, Jarrett mencium sebelah pipi Gail yang jadi favoritnya karena Jemma lebih dulu memilih sebelah lainnya. Kemudian dia memeluk lengan Gail dan menidurkan diri.
Berbeda dengan Jemma, dua kelopak matanya bergerak membuka. Perempuan kecil itu tersentak dari tidurnya tadi dan sempat mendengar jelas apa yang Jarrett bisikan kepada Gail.
Jemma menjadi pura-pura tidur. Dia tahu Jarrett tidak seperti dirinya yang gampang mengungkapkan apa yang terasa di hati sehingga dia tidak akan merusak momen.
Menunggu beberapa waktu sampai suasana sunyi, Jemma mengira-ngira apa Jarrett sudah lelap dari penglihatan matanya yang terhalangi badan Gail.
Perlahan Jemma turun dari ranjang dan menuju sisi tempat Jarrett. Tubuhnya cukup muat untuk pindah tidur di samping saudaranya.
Jemma ingin memeluk Jarrett sepanjang sisa malam. Dia tidak tahu apa yang bisa dibantu untuk masalah yang dia juga tak tahu apa. Semua baik-baik saja menurutnya selain Jarrett.
***
“Mam, selamat pagi,” sapa Jemma ketika Gail bangun lalu duduk menyandar di kepala ranjang.
“Selamat pagi, Sang Putri,” sambut Gail senang.
Tidak setiap hari Jemma berada di depan mata Gail ketika bangun tidur. Lagi-lagi karena jam bangun keduanya yang berbeda dampak dari ajaibnya kondisi tubuh Gail.
“Hari ini aku akan terus bersama Mama,” ucap Jemma sambil bergelayut manja di leher Gail.
“Menyenangkan sekali. Sang Putri mau menemani Mama di tempat yang katanya membosankan,” kekeh Gail membalas dekap Jemma.
“Iya, Mam. Kita biarkan saja para lelaki bersenang-senang ke Hicity.”
“Para lelaki? Siapa yang Jemma maksud?”
“Papa dan Jarrett, Mam. Aku bisa apa karena aku perempuan,” ucap Jemma bercanda.
Meski sedih dalam hati Jemma, tidak akan dia arahkan menjadi masalah. Sebab dia lebih ingin saat Jarrett kembali bersama Nigel nanti, saudaranya kembali dengan rasa senang.
"Seingat Mama tadi malam tidak ada yang bilang tentang pergi ke Hicity selain Paman Miles dan Bibi Avery," ucap Gail mengorek informasi lebih lanjut.
"Papa bawa mobil sendiri, Jemma?" tanya Gail terkejut.
Gail tidak lupa Nigel memberitahu bahwa kedua kakinya itu membaik. Tapi untuk urusan membawa mobil, itu mengkhawatirkan bagi Gail.
Bukankah mengendarai mobil perlu kecekatan kaki menggunakan pedal dengan segala fungsinya. Pikiran Gail tidak tenang.
"Iya, Mam. Sendiri. Paman dan bibi sudah pergi dari Delan tadi malam."
"Astaga," ucap Gail lirih. Perasaan cemasnya semakin muncul.
"Mam, ada telepon dari papa," seru Jemma karena pemberitahuan di layar ponselnya yang tergeletak jelas di kasur.
Jemma segera melepaskan lengannya dari Gail dan secepat kilat mengangkat telepon itu. Sebuah panggilan video.
"Pap, halo," kata Jemma riang.
"Halo, Sang Putri," balas Nigel dengan antusias pula.
Kamera depan ponsel Jemma pun mengarah sesuai dengan perpindahan gerak Jemma. Perempuan kecil itu menyandar ke Gail supaya sang mama ikut masuk dalam tangkapan video.
Nigel semakin dikagumi Jemma. Sang papa menepati ucapannya untuk menelepon saat mama baru bangun tidur dan tepat sekali. Makin sempurna sosok papanya Jemma itu.
“Selamat pagi, Gee,” sapa Nigel mendahului Gail. Tidak ketinggalan cara khasnya bicara kepada sang istri.
“Selamat pagi,” balas Gail singkat dan matanya lebih berfokus ke latar belakang Nigel dalam video.
Penasaran Gail tentang berada di mana Nigel saat menelepon sekarang dan juga ingin melihat Jarrett.
“Jarrett sedang di toilet, Gee,” kata Nigel dari menebak gerakan mata Gail yang tidak terasa menatapnya.
“Baiklah. Apa Jarrett baik-baik saja, Nigel? Kapan kembali ke Delan?” ucap Gail sembari memfokuskan matanya tepat ke Nigel.
Nada suara yang bisa Nigel dan Jemma dengar kesenduannya. Meski wajah Gail yang baru tidur itu tampak menampilkan senyum.
“Jarrett baik, Gee. Tenang saja, ya,” kata Nigel meyakinkan. Lanjut berkata,” Aku belum tahu pasti kapan. Tapi kami akan tiba di rumah The Brown sebelum jam tidurmu, paling lambat.”
“Ya sudah. Jaga diri.”
“Pasti, Gee,” kata Nigel. Lalu beralih ke Jemma untuk berkata, ” Sang Putri, sudah ada yang diinginkan untuk Papa bawa dari Hicity?”
“Tidak ada, Pap. Aku sudah bilang tidak mau apa-apa. Jemma hanya mau Papa dan Jarrett tidak menginap di sana,” tutur Jemma dengan cemberut.
“Oke. Permintaan Sang Putri dikabulkan,” ujar Nigel terkekeh dan mencoba menggoda Gail dengan berkata, “Gee, apa keinginanmu sama dengan Jemma? Juga ingin tidak lama-lama berjauhan denganku?”
Gail melotot kepada Nigel. Bisa-bisanya arah pembicaraan jadi begini, di depan Jemma pula.
"Mam, apa jawabannya?" tanya Jemma yang sudah mengarahkan tubuhnya berhadapan dan dekat dengan wajah Gail.
Tak ketinggalan binar mata Jemma yang berharap mendengar kata ya atau sejenisnya. Gail juga melihat binar-binar yang sama di mata Nigel.
|Bersambung..
Author: Diw @ diamonds.in.words | Rd2021
Saatnya beri ‘suka’, ‘vote, ‘hadiah’, juga jadikan ‘favorit’ lalu bagikan ajakan baca novel Diw ini, lagi :D
Makasih ya sudah baca sampai sini dan kasih dukungannya untuk keberlangsungan Duo J: Genius :)