
“Mama ….” Alfa memandang wajah Aina yang tampak pucat dengan tatapan bersalah. “Aku tak ingin Mama dan Ayah bercerai.”
Plak!
Alfa terantuk ke depan dan menoleh ke belakang dengan tatapan arah. Dia segera menoleh dan melihat siapa yang ada di belakang sana.
Izra memandang tajam wajah Alfa yang tampak marah dengan tindakan kurang ajarnya.
“Apa?” tanya Izra, dingin.
“Kamu memukul kepala Kakakmu. Berikan kepalamu! Biarkan aku membalasnya.” Alfa tampak geram. Tapi sikap kurang ajar adiknya tampaknya semakin overdosis seraya tubuhnya tumbuh semakin besar.
“Kepalaku cuman satu. Kalau kakak memukulnya dan itu menjadi bodoh. Nanti siapa yang akan menjalankan perusahaanku?” Ira melirik Alfa setelah dia melihat kondisi sang ibu yang masih tertidur dengan pulasnya. “Kamu mau mengambil alih tanggung jawab itu?”
Alfa mendengus kasar dan memandang wajah ibunya. Mencari ketenangan sambil melihat wajah wanita yang sangat dia sayangi di atas segalanya ini.
“Kamu marah karena aku mengatakan hal yang tak masuk akal padahal Ayah dan Mama sudah menandatangani kontrak?’
Izra mengangguk mantap. “Begitulah. Aku hanya sedikit kesal karena kamu tak paham posisi Mama dan terus mementingkan dirimu. Egois sekali.”
“Aku anak mereka. Wajar--”
“Tidak wajar bagiku yang juga anak mereka.” Izra mendengus kasar. Duduk di tepi ranjang dan memandang wajah kakak lelakinya dengan tatapan lurus. “Kamu tahu seperti apa perasaan Mama akhir-akhir ini?”
“Aku tak punya watu untuk memastikan semuanya baik. Kamu tahu aku sedang menyiapkan kejuaraan Olimpiade sainsku!”
Izra mengangguk. “Karena itulah. Jangan menghalangi perceraian mereka. Kamu tak tahu bagaimana sakitnya menjadi Mama saat keadaan tubuhnya seperti ini dan suaminya yang seperti itu.” Izra menggelengkan kepalanya pelan. “Mama tak bahagia.”
Alfa mengerutkan keningnya dalam. “Mama tidak bahagia bersama Ayah? Kamu yakin mengatakan hal itu?”
“Kamu juga pernah mendengarnya Alfa. Jangan sok polos. Aku jengkel melihat sikap itu!” geram Izra, berusaha menenangkan dirinya.
Alfa pun diam dan keduanya melihat kelopak mata ibunya yang mulai terbuka dan mengedar ke sekeliling untuk memastikan di mana dia sekarang.
“Mama sudah bangun?” tanya Izra, menatap sang Ibu yang tersenyum begitu melihat wajah kedua putranya sudah terpampang saat dirinya terbangun.
“Bagaimana keadaan Mama? Ada yang sakit?” tanya Alfa, bergantian.
Tapi Aina hanya tersenyum dan memandang keduanya dengan mengelus kepala mereka secara bergantian.
Izra turun dari tempat duduknya dan mengecup pipi Aina. “Izra akan panggilkan dokter untuk Mama. Sepertinya Mama sulit berbicara,” ucapnya, dan bergegas pergi.
Alfa yang melihat itu langsung memandang Aina dengan tatapan cemas. “Mama ingin bangun?” tanyanya, begitu melihat Aina yang kesulitan bangun sendiri.
Alfa segera membantunya dan tak lama setelah itu dokter datang bersama dengan Izra. Dan ada seorang tamu lagi yang datang ke sana.
Tapi tamu itu bukan tak di kenali kedua anak Aina. Nyatanya, mereka saling mengenal dengan baik.
“Ayah?” gumam Alfa, menatap kehadiran lelaki itu dengan kening bertaut dalam.
Berbeda dengan Aina yang terlihat tak terkejut dengan kehadiran mantan suaminya itu.
Izra mendekati Aina dan berdiri di samping Alfa. Lain halnya dengan Fauzan yang lebih memilih berdiri di dekat sang dokter untuk melihat pemeriksaan Aina.
“Ist—ah, salah. Maksud saya Bu Aina baik-baik saja.” Dokter berujar pada Fauzan dengan nada lembut.
“Saya akan menjelaskan kondisi Bu Aina pada keluar beliau nanti. Saya sudah membuat janji dengan Ayah beliau, jadi untuk sekarang saya permisi dulu. Cepat sehat, Bu Aina.” Dokter itu tersenyum ramah pada Aina dan berlalu pergi.
“Terima kasih, Dok!” jawab Aina, membuat kedua putranya membulatkan matanya sempurna.
“Mama prank kita?!”
Aina hanya terkekeh. Menertawakan raut wajah menggemaskan kedua putranya yang khawatir setengah mati karena dirinya tak berbicara sama sekali tadi.
"Maafkan Mama." Aina mengulas senyuman sendu. Dia tahu ini hanya candaan. Tapi Aina mengira jika hal itu akan terjadi dalam waktu dekat.
"Kenapa minta maaf?" Alfa bertanya. Rasa sesak sedikit menyusup ke dalam dadanya. Perubahan raut wajah Aina membuatnya sedikit terusik.
Begitu pula dengan Izra. Dia juga mulai terganggu. Reaksi Aina membuat mereka merasakan firasat buruk yang kental.
"Jangan pergi." Izra mengepalkan kedua tangannya. Berusaha untuk berani mengucapkan kata penahan. "Jangan pergi, Ma."
Aina menggelengkan kepalanya. "Tidak sekarang Izra. Mama belum ingin meninggalkan kalian," ucapnya, menjawab dengan lirik.
Izra mendekat dan memeluk Aina. Begitu pula dengan Alfa.
"Jika Mama pergi. Aku sungguh tidak punya seseorang di sisiku." Izra berbisik. Suaranya parau.
Sungguh menyakitkan mendengar Izra berkata demikian. Aina adalah wanita yang membuatnya memiliki keluarga dan bisa merasakan cinta. Lantas jika Aina pergi– mungkin Izra akan menjadi gelandangan. Dia tak seberuntung Alfa yang masih memiliki seorang Ayah.
"Izra anak yang pandai. Hidup mandiri pasti tidak akan menjadi rintangan yang besar." Aina balas memeluk kedua putranya dan mengusap kepala bagian belakang keduanya dengan lembut. "Jangan lupa, Izra masih punya Alfa sebagai kakak dan Ayah seperti Ayah Fauzan."
Izra menggeleng. Dia memeluk Aina semakin kuat. "Mama itu berbeda." Izra mulai menangis. Terisak pelan dan membuat hati Alfa dan Aina seperti di iris tipis-tipis. "Tangan Mama yang menyatukan aku dan Ayah. Begitu pula dengan Alfa. Jika Mama tidak ada. Izra takut tidak punya sosok untuk berpegang."
Aina menangis. Dia tahu kekhawatiran Izra. Tapi apa yang bisa dia lakukan? Dia bukan orang yang berumur panjang. Penyakitnya ini, bisa membuat Aina pergi kapan saja.
Aina menangis dalam diam. Air matanya membasahi bahu Alfa. Sementara tangan Alfa telah menggenggam tangan Izra. Tidak membiarkan adik lelakinya merasa sakit hati atau menyakiti perasaan ibunya.
"Ma, aku dan Izra mau beli makan dulu ya. Sekalian tengok Bunda nanti," ucap Alfa, melepaskan pelukannya.
Izra pun melakukan hal yang sama. Tapi Izra tidak setuju jika mereka berdua pergi bersama dan meninggalkan Aina sendirian.
"Aku tidak ikut ke Bunda. Aku di sini saja bersama Mama. Masalah makan, kamu bisa belikan untukku kan, Kak?" Izra menatap Alfa dengan tatapan lurus. "Aku akan sini!"
Alfa menghela napas panjang dan mengangguk paham. "Oke, aku akan antarkan makanan untuk–"
Brak!
Keisha masuk dengan heboh. Bahkan dia menggendong anaknya dan membuat bayi kecil itu menangis kencang setelah mendengar bunyi gebrakan pintu.
Aina, Izra dan Alfa menoleh padanya dengan tatapan terkejut.
"Bunda. Apa yang kamu–"
"Mbak, kamu sungguh bercerai dengan Mas Fauzan?" teriak Keisha, membuat anaknya kembali menangis lebih keras.
Aina hanya mengulas senyuman masam. Sementara kedua orang putranya menatap Aina dengan tatapan terkejut.
"Mama sungguh bercerai sekarang?"