
"Kehadiran Alva di dalam keluarga kalian saja sudah cukup menyakitkan untukku. Apalagi untuk adik perempuanku yang harus melihat wajahnya dan membesarkan anak itu dengan kedua tangannya setiap hari! Apakah kamu pernah berpikir, bagaimana istrimu bertahan dengan hati yang kamu tikam dan tusuk setiap hari?" tanya Rafa, tampak marah.
Fauzan menundukkan kepalanya dalam. Hanya satu kata yang bisa dia ucapkan. "Maaf," ucapnya, dengan ekspresi wajah bersalah.
Aina mengerutkan keningnya samar, menatap saudara laki-lakinya dengan ekspresi sedih. "Sudahlah, Kak. Anggap aja ini semua musibah. Kita hanya perlu mengikhlaskan agar mendapatkan hikmahnya dari Tuhan. Sudah, jangan terus memojokkan suamiku," pintanya, teman suara yang lembut.
Rafa menundukkan kepalanya, menatap wajah Aina yang tampak sakit, melihat suaminya seperti itu
"Mau dibiarkan seperti apa lagi, Na? Karena dulu kamu membiarkannya begitu saja, sekarang lelaki itu membuat masalah lagi, kan? Dulu aku sudah sempat memintamu untuk mengajukan gugatan cerai atas kasus penipuan. Tapi kamu lebih memilih melindungi kedua lelaki itu daripada mendengarkan nasihat keluargamu?" Rafa menatap Aina dengan tatapan marah.
"Sekarang lihat apa yang dilakukan lelaki itu kepada kamu! Lihat dengan baik!!" ucap Rafa, menunjuk ke arah Keisha dan Fauzan yang berdiri tiga langkah di hadapan mereka dengan posisi sejajar.
Aina menghela napas kasar. "Sudahlah, jangan diperpanjang! Aku dan mereka belum menghadapi kedua orang tua kita. Jangan marah sekarang dan membuatku tambah pusing, Kak. Aku dan mereka juga memiliki banyak masalah, jadi tolong jangan menambah beban kami," ucapnya, berusaha tetap bersabar.
Tapi sepertinya Rafa masih belum puas mengeluarkan emosinya, dia masih terlihat marah dan ingin mengungkapkan isi hatinya kepada Fauzan ataupun adik perempuannya yang tidak pernah mau mendengarkan nasehat keluarganya.
"Tapi dia sudah menyakitimu. Bagaimana aku, sebagai kakak mau ini, tetap diam saja walaupun melihatmu jatuh tersungkur dan dibolak-balik di atas lumpur seperti itu? Kamu kira aku bisa tenang seperti kamu? Tidak, Aina. Karena kamu tidak bisa marah, sebab dia adalah suamimu! Jadi biarkan aku saja yang marah keberadaannya, sebagai kakak iparnya!" teriak Rafa, sampai terdengar di dalam rumah.
Keisha yang melihat betapa hebatnya pertengkaran di antara mereka bertiga, hanya bisa diam dan menentukan kepalanya dalam.
Benar kata Fauzan. Keluarga Aina memang sangat mengerikan karena mereka memiliki mulut yang frontal, dan terkesan tidak memiliki rem saat berbicara.
Suara mereka yang lantang, membuat telinga Keisha berdengung sakit. Tapi Keisha tidak mengeluhkan hal tersebut dan hanya diam, karena takut.
"Sudah!! Kamu tidak dengar aku bilang berhenti saja? Urusan keluargaku biar aku yang mengurusnya. Aku sudah berusaha mengikhlaskan semua karena ingin mendapatkan ridho dari Tuhan. Kakak jangan membuatku memiliki dosa karena durhaka kepada suamiku! Kakak mengerti tidak sih, tugas istri untuk suaminya? Kakak kan juga punya istri, kenapa bersikap seperti tidak tahu? Jangan kekanak-kanakan!" lantang Aina, naik pitam.
Fauzan segera mendekat ke arah kedua saudara tersebut, memisahkan istrinya dari kakak lelakinya, agar mereka berhenti bertengkar.
Namun baru saja selangkah lebih maju dari posisinya, Rafa langsung mengalihkan pandangannya ke arah Fauzan dan menatapnya dengan tatapan tajam.
Aina lama-kelamaan menjadi pusing karena mendengar suara teriakan kakaknya yang memekakkan telinga.
Nginggg ....
Telinga Aina berdenging kuat. Membuatnya tidak stabil dengan mudah, bahkan hampir terjatuh dari kursi rodanya.
Tiga orang yang melihat hal itu langsung mendekat dengan spontan, melihat keadaan Aina yang menurun dengan drastis.
"Kamu kenapa?" tanya Rafa, dengan suara yang masih terdengar keras.
"Tutup mulutmu! Karena suara kakak yang sangat keras telingaku jadi sakit. Diam dan pergi sana!" teriak Aina, benar-benar terlihat kesakitan.
Rafa yang melihat itu langsung terdiam, membeku. Menatap adik perempuannya yang menangis karena menahan sakit di kepalanya.
"Ma-maafkan aku, Aina. Aku tidak bermaksud membuatmu sakit," ucap Rafa, dengan suara lembut dan mencoba membujuk ada perempuannya, yang sudah ada di dalam pelukan sang suami.
"Pergi saja, Kak. Tolong jangan berbicara kepadaku. Kamu membuatku malu di depan Keisha, dan membuatku seperti istri durhaka di depan Mas Fauzan. Pergi saja, tolonglah!" usir Aina, menghempaskan tangan Rafa yang berusaha menggenggam tangannya.
Rafa yang melihat situasi menjadi semakin runyam, akhirnya memilih pergi dan masuk ke dalam rumah. Menemui orang-orang yang menahan langkahnya di depan pintu, tidak berani mendekat ke arah mereka karena kondisi Aina yang terlihat buruk.
Ardi, ayah dari Aina dan Rafa, langsung menyambut kedatangan putra sulungnya dengan tatapan tajam.
"Padahal Ayah sudah mempercayakan Aina kepadamu. Memintamu, untuk menjaga adikmu! Bukan ikut menyakitinya." Ardi menatap Rafa, tajam. "Sebenarnya apa yang berusaha kamu sampaikan dengan sikap buruk seperti itu, Rafa? Kamu membuat Ayah kecewa berat!" ucap Ardi, tampak marah.
"Maafkan aku, Ayah. Sungguh, aku tidak bermaksud menyakitinya," ucap Ardi, tampak bersalah.