
Deg ... Deg ....
Sion mengingat bagaimana binar mata Izra saat menatapnya beberapa waktu yang lalu.
"Kamu takut?" tanya Nevan, menatap teman lelakinya yang tampak gugup.
Sion mendongak, menatap wajah Nevan yang seperti menertawakannya. "Tidak. Memang aku terlihat seperti itu?"
Nevan diam, memalingkan perhatiannya kembali ke makanan yang ada di hadapannya. "Tidak sampai terlihat. Tapi untuk ukuran orang yang sudah mengenalmu selama lima tahun, garis wajahmu terlihat nyata. Kamu terlihat resah!" celetuknya, tidak acuh.
Sion menatap sahabat karibnya itu dengan kening yang berkerut dalam. "Apa sangat terlihat? Bagaimana jika anak-anak tahu kalau aku takut- ah, tidak! Maksudku gentar karena anak baru itu? Bisa-bisa muncul gen yang akan mementangku, nanti!" celetuknya, terlihat tertekan.
Nevan memalingkan wajahnya pada keributan yang terjadi di depan kantin. Tiga orang anak lelaki masuk dengan berbicara sampai, sementara di belakang mereka beberapa murid perempuan tampak mengikuti.
Senyuman di wajah para murid perempuan itu, membuat Nevan tersenyum miring. Perhatian yang selalu tertuju kepadanya itu, kini telah diambil alih oleh seseorang. Bahkan hanya anak baru yang baru pertama kali mereka lihat.
"Hahh, awalnya aku tidak peduli karena dia anak baru dan hanya membuatmu sedikit kesal. Tapi setelah melihat itu-" Nevan menunjuk ke arah pintu masuk kantin, dengan gerakan dagunya. "Aku jadi merasa marah karena itu!"
Sion, Torin dan Putra, yang juga duduk bersama dengan mereka berdua, langsung menoleh ke arah yang ditunjuk olehnya.
"Hahaha, sepertinya mereka menemukan pangeran sekolah yang baru. Dan lebih fresh!" celetuk Torin, menertawakan wajah kesal Nevan dengan setengah mengejek. "Aku dengar dia murid akselerasi. Usianya baru 15 tahun tapi dia sudah duduk di kelas yang sama dengan kita. Dia berkali-kali lipat lebih hebat dari kamu, Nevan! Haha, entah kenapa jika sekarang aku bisa membayangkan popularitasmu turun dengan drastis!"
Nevan menatap tajam pada Torin yang baru saja mengatakan hal yang tidak masuk akal itu, dengan tatapan kesal setengah mati.
"Hahaha, bagaimana rasanya kesel karena dia? Lebih menjengkelkan daripada melihat Alva naik ke podium setiap tahun karena prestasinya di sekolah, kan?" celetuk Sion, masih setia dengan tawa renyahnya.
Nevan hanya mendengus kesal, dan bangkit dari tempat itu untuk pergi langsung menemui tiga orang yang baru saja masuk dan membawa keributan.
"Hei! Kalian tidak bisa tenang sedikit? Kalian kira ini tempat apa? Ribut sekali!" celetuk Nevan, berjalan mendekat ke arah mereka dengan langkah angkuh dan ekspresi wajah dingin yang senantiasa menghiasi wajah tampannya.
Izra, Yaka dan Neal, menoleh ke arahnya dengan tatapan aneh.
"Apa salahnya ribut di kantin? Semua orang juga sedang berbicara. Dan mungkin kamu salah menegur! Karena yang berisik bukan kita, tapi anak-anak perempuan di belakang itu," celetuk Neal, menuju beberapa fans Izra yang mengikuti mereka sampai ke dalam kantin.
Nevan mengalihkan pandangannya pada para murid wanita itu, menatap mereka dengan tatapan tajam dan mampu membungkam mulut mereka dalam satu kali tindakan.
"Hahh ... kenapa juga kamu harus marah pada mereka? Ini jam istirahat, mereka bebas melakukan apa pun selama tidak membuat kerusuhan yang merugikan orang lain. Sah-sah saja kalau mereka ingin bicara dengan suara yang sedikit keras. Ini bukannya di kelas! Jadi jangan mempermasalahkan hal kecil yang bisa membawamu mendapatkan masalah yang lebih besar!" celetuk Izra, membuat para wanita itu terkesima olehnya.
"Dia membela kita. Pangeran tampan itu ...."
"tidak salah aku sudah pindah haluan dari Nevan ke Izra. Dia benar-benar lelaki yang sangat baik. Ah, jantungku tidak kuat!" celetuk beberapa anak perempuan, yang merasa jika mereka sedang di bela oleh Izra.
"Benar katanya! Kenapa kamu mempermasalahkan hal kecil? Mereka bebas membuat keributan di sini. Bahkan suara mereka tidak terlalu keras dibandingkan suara tawa kalian bertiga. Kalian kira aku tidak dirugikan karena mendengar suara kalian itu? Aku yang biasanya tidak memedulikan suara sekeras apa pun saat tidur siang, sampai terbangun hanya karena kalian bertiga tertawa! Kalian habis makan toak ya? Nyaring sekali! Memang kantin ini milik kalian, ha?!" seru murid perempuan, dengan tatapan tajam, sambil berjalan ke arah mereka sambil menguap dan mengucek matanya yang sulit untuk dibuka.