Don'T Be The Antagonist

Don'T Be The Antagonist
Neraka



Izra naik kembali ke panggung, membuat perhatian Keisha dan Fauzan tersita padanya.


Tapi sebelum dia berhasil mendekati Keisha, Alva mencegatnya di bawah panggung saat Izra ingin menaiki tangga.


"Apa yang kamu bawa?" tanya Alva, menatap adik lelakinya yang berjalan menaiki tangga dan pergi ke orang tuanya.


"Sepatu untuk Bunda. Kamu kira aku akan membawa tembak dan menembak keluar isi kepalanya?" celetuk Izra, mengatakan hal mengerikan itu dengan ekspresi dinginnya.


Alva menelan ludahnya susah, menatap adik lelaki yang selalu menunjukkan ekspresi dingin dalam keadaan apa pun.


"Dasar menyebalkan. Sana, Bunda sudah tidak tahan berdiri di atas sepatu tinggi itu," pekik Alva, mengusir Izra dari hadapannya.


Izra segera melanjutkan perjalanannya ke tempat tujuan, berdiri di depan Keisha dengan tatapan datar.


Keisha menatapnya dengan ekspresi bingung, karena selalu tak paham dengan apa yang di inginkan Izra, karena dia selalu menatapnya dingin lebih lama, sebelum mengucapkan maksudnya bersikap.


"Ada apa?" tanya Keisha, tak pernah melihat Izra sebagai musuh setelah mengetahui identitas lelaki muda ini. "Kamu butuh sesuatu dariku?" tanyanya, untuk yang kedua kalinya.


"Duduklah, Bun! Aku akan pasangkan sepatu yang baru aku beli," ucap Izra, di sertai helaan napas panjang sambil mengambil sikap berjongkok ala pangeran.


Keisha menatap Fauzan yang juga tampak bingung melihat kelakuan dari sosok anak keduanya ini.


"Duduk saja, Kei. Dia hanya membelikan sepatu untuk kamu," ucap Fauzan, membuat Keisha menurutinya dengan gerakan ambigu.


Keisha duduk, melihat apa yang di lakukan Izra untuknya dengan saksama.


"Mau di pasangkan plester sekalian? Kaki Bunda sudah agak lecet, tadi aku beli untuk jaga-jaga," ucap Izra, menunjukkan plester luka yang dia ambil dari dalam sakunya.


Keisha hanya mengangguk, melanjutkan acaranya untuk melihat setiap pergerakan Izra dengan tatapan hangat.


"Kamu tidak bisa tersenyum atau menunjukkan ekspresi lain?" tanya Keisha, membuat Izra mendongak, menatapnya dan Fauzan serta Alva melirik ke arah mereka dengan tatapan resah.


"Kenapa? Bunda tidak nyaman melihat wajahku yang selalu ketus?" tanya Izra, balik.


Keisha menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak, aku hanya menyayangkan sikap anak muda pendiam seperti kamu. Padahal seharusnya kamu menjadi anak yang aktif dan penuh tawa di usiamu ini. Masa remaja, seharusnya menjadi masa yang paling menyenangkan untuk anak-anak sepertimu."


Izra tersenyum simpul, seakan menertawakan perkataan Keisha. "Tidak semua anak harus berperan aktif, Bun. Harus ada anak yang berperan pasif agar ada anak aktif yang terlihat jauh lebih bersinar di mata orang lain."


Izra bangkit dari posisinya dan mengulurkan tangannya pada Keisha, hendak membantunya berdiri.


"Aku tidak bermaksud buruk saat mengatakannya. Hanya saja, tidak perlu menjadi baik di mata orang lain jika kita harus merelakan diri kita sendiri." Irza menatap Keisha yang terus menatapnya dengan saksama, memperhatikan setiap pendapat yang di utarakannya dengan baik. "Aku seperti ini, karena sudah dari sananya di cetak sedemikian rupa. Jika Bunda tidak suka, aku minta maaf! Tapi maaf juga, karena aku tidak berniat merubah kepribadianku yang buruk di mata Bunda. Aku terlalu nyaman menjadi diri sendiri!"


Keisha hanya bisa diam, menatap anak jujur yang lebih jujur dari dinginnya balok es ini dengan tatapan terkesan.


Keisha tersenyum, tertawa kecil dan menatap Izra dengan bangga. Membuat Izra menatapnya dengan tatapan aneh.


"Kenapa tertawa? Sepertinya tidak ada yang lucu, Bun," celetuk Izra, menatap Keisha dengan tatapan tak mengerti.


"Karena kamu unik dan membuatku menjadi punya pandangan berbeda dalam mendidik anak. Ah, menarik sekali, haha. Maaf jika kamu tersinggung, Zra. Bunda kagum, bukan mengejek! Semoga kamu paham," ucap Keisha, menghentikan tawanya dan hanya tersenyum lembut padanya.


Izra hanya diam, mengangguk singkat dan berjalan pergi meninggalkan panggung mereka.


Fauzan menyenggol bahu Keisha sampai membuatnya menoleh. "Kenapa kamu berkata seperti itu pada Izra? Bagaimana jika dia semakin menjadi anak pemurung dan tertutup? Hahh ... kamu ada-ada saja, Keisha!" celetuknya, menghela napas lelah berulang kali.


"Oh, Pak Fauzan. Aku tidak berniat menjelekkannya." Keisha menatap ke arah mana Izra pergi dengan senyuman licik. "Dia pun pasti mengerti apa yang aku maksud–"


Bibir Keisha terkatub, kedua bola matanya membulat saat melihat sosok anak perempuan yang tampak aneh di kejauhan sana.


Walaupun Izra berjalan ke arah anak perempuan itu, tapi detak jantung Keisha yang tiba-tiba terpacu cepat ini, membuatnya tidak nyaman.


"Apa yang kamu lihat–" belum selesai Fauzan berucap, Keisha sudah menjinjing gaunnya, berlari cepat dengan air mata yang tumpah dari pelupuk matanya dengan cepat.


Beberapa orang yang melihat itu, sontak menatap sikap Keisha dengan tatapan tak mengerti.


Apa yang membuat pengantin wanita itu berlari sekencang itu dan meninggalkan pestanya?


Kenapa dia terlihat begitu panik saat melangkah keluar, meninggalkan suaminya?


Semua pertanyaan itu terjawab saat Keisha melewati langkah Izra dan berjongkok di depan kursi roda Nuri dengan tatapan terkejut dan terkesan kaku.


Kedua tangan Keisha yang merengkuh tubuh mungil gadis itu dalam pelukannya, membuat Aina yang sibuk dengan para tamu undangan, menoleh pada mereka dengan air mata yang berjatuhan tak terkendali.


Wajah memerah Keisha yang tampak takut dan gelisah saat memeluk tubuh mungil yang terkulai itu, membuat sikap dramatisnya di mulai dengan sayatan hati setiap penonton.


Jeritan Keisha yang memekakkan telinga, membuat banyak orang terdiam kaku. Terlebih saat melihat gaun putih cantik yang di kenakannya berubah menjadi gaun bercorak merah darah karena pelukan Nuri.


"Tidak, tidak boleh. Jangan lakukan ini pada kami, Nuurrriiii ... AKH!!!"