
Sruk ....
"Antagonisnya datang juga, haha ...," tawa seorang wanita berpakaian glamor dengan cincin berlian yang menghiasi semua jarinya.
Keisha yang mendengar celetukan Arina, hanya mengulas senyuman dingin dan lebih memilih memanggil pelayan, memesan minuman untuk dirinya.
"Kamu sudah punya uang untuk memesan makanan mahal, ya?" ucap Arina, kembali mencemooh Keisha.
Keisha menoleh ke arahnya, tersenyum ramah dan mengulurkan tangannya dengan dagu yang sedikit di angkat, memperlihatkan sikap angkuh.
"Kamu ingin berkenalan dengan Nyonya baru keluarga Tristany?" Keisha memiringkan kepalanya, menatap Arina dengan senyuman merendahkan. "Setelah menikah, jabat tanganku akan sangat mahal. Kamu yakin tidak ingin berjabat tangan denganku sekarang?"
Arina memalingkan wajahnya, tampak canggung, tapi tetap mempertahankan sikap angkuhnya.
"Bagaimana persiapan pernikahanmu, Keisha? Aku yakin kamu datang untuk membagikan undangan pernikahan, kan? Karena rakyat jelata tidak mungkin berani menginjakkan kaki di pertemuan kami." Sindy menatap rendah ke arah Keisha. "Jika memang ada, kami pasti sudah menginjaknya sampai sama rata dengan tanah. Ya, sesekali! Agar mereka sadar posisinya."
Keisha memutar bola matanya malas, mengeluarkan beberapa undangan untuk di bagikan pada 7 orang wanita paling berkuasa di masa sekolah SMA-nya dulu.
"Aina pasti akan marah jika tahu aku di rendahkan seperti ini oleh kelian," ucap Keisha, menatap angkuh pada mereka bertujuh. "Ya, siapa yang akan menyangka jika istri pertama Fauzan akan bersikap baik padaku?"
Keisha mengangkat bahunya acuh, menatap mereka dengan senyuman merendahkan.
"Yah, perusahaan suami kalian pasti bisa di lindas dengan mudah dengan roda bisnis sekelas Aina. Hemph, sudah begitu kalian masih mau sombong?" tanya Keisha, di akhiri dengan tatapan menikam.
Ketujuh wanita itu tak ada yang berkutik. Mereka memilih bungkam dari pada jatuh terperosok ke dalam jebakan Keisha.
"Ah, kamu datang, Keisha?" celetuk seorang wanita berambut blonde, baru saja datang di urutan terakhir.
Keisha menoleh ke arah Sherly, wanita yang paling cantik di perkumpulan ini.
Dia memiliki mata biru seperti lautan dalam, kulit putih, badan ramping seperti angka 8, dan rambut pirang.
Walaupun begitu, Sherly adalah orang yang sangat congkak dan sombong. Dia sangat ditakuti orang-orang karena memiliki mulut pedas yang tidak memiliki rem.
Berbeda jauh dengan Keisha yang masih memiliki sopan santun dan etika jika berhadapan dengan orang yang sopan, dan pandai menghargainya.
Lain halnya dengan Sherly, yang tidak memiliki belas kasih dan selalu bersikap angkuh di depan semua orang. Mau tua atau muda, Sherly benar-benar tidak memiliki etika dan mau menang sendiri.
Entah dari mana datangnya kepercayaan diri setinggi itu. Atau mungkin karena dia memiliki uang dan jabatan yang sangat di sanjung orang-orang? Jadi dia bisa berlagak sangat aku.
Yang jelas, Keisha jika dipertemukan dengannya, mungkin akan terjadi perang dunia ketiga.
"Kamu di sini?" seru Keisha, segera mengambil bagian undangan untuk Sherly. Dan desain undangan itu sangat berbeda, dengan teman-temannya yang lain.
Desain undangan itu sangat elegan dan mewah. Pita yang ada di undangan itu terbuat dari benang emas, dan sampul undangannya juga dilapisi dengan emas murni sebanyak 15 gram.
Teman-teman mereka yang melihat hal itu, langsung menatap benci ke arah Sherly. Karena dia menerima undangan semewah itu, sementara mereka hanya menerima undangan biasa, seperti yang diterima banyak orang.
Keisha yang mendengar itu, langsung menaikkan sebelah alisnya dan menatap Mia dengan tatapan bingung.
"Kenapa kamu merespons itu dengan buruk? Aku hanya memberikan undangan yang berbeda kepada Sherly, karena dia orang yang lebih berkelas daripada kalian," cemooh Keisha, sontak membuat ke-7 orang teman wanitanya itu mengerutkan kening dalam.
Sementara Sherly mengulas senyuman angkuh, dengan penuh percaya diri.
"Hahaha, aku tidak mengira jika kamu memiliki selera yang sangat baik, Keisha. Seandainya kamu kayak dari dulu, mungkin aku sudah menempatkan mudi sisi kananku. Menjadi orang kepercayaanku!" celetuk Sherly, membuat Arina melirik arahnya dengan tatapan benci.
Karena perkataan yang keluar dari mulut Sherly itu, dengan halus dia akan menyinggung posisi Arina, yang duduk di sebelah kanannya, sebagai seseorang yang menjadi tangan kanan dan orang kepercayaan Sherly.
Keisha yang mendengar itu hanya tersenyum, dan menatap pelayan yang mengantarkan minumannya.
"Terima kasih," ucap Keisha, tanpa sadar kepada pelayan tersebut.
Sherly langsung tersenyum culas, seakan menganggap sikap baik Keisha, sebagai sikap rendahan.
"Ya, bagaimanapun juga kamu masih seorang rakyat jelata yang baru naik pangkat beberapa minggu. Jadi sikap rendahanmu masih melekat dengan baik di dirimu," celetuk Sherly, membuat teman-temannya yang lain tertawa.
Keisha kembali menaikkan sebelah alisnya, menatap wanita bermanik mata biru gelap itu dengan tatapan angkuh.
"Apa katamu? Apakah orang yang memiliki sopan santun akan selalu kamu anggap rendah? Aku hanya mengucapkan 'terima kasih' tapi tanggapanmu langsung seperti itu." Keisha tersenyum miring. "Wah, kamu memang sangat hebat saat menunjukkan jika kamu adalah orang yang tidak memiliki tata krama. Pantas saja setiap hari kamu keluar-masuk ruang BK. Wajah saja cantik, tapi sopan santun tidak punya!" cibirnya, pedas.
Keisha menyesap teh lemon hangat yang dia pesan. "Seperti barang dagangan yang disusun di baris paling terdepan. Terlihat sama dengan saudaranya, tapi paling sering di jamaah oleh orang-orang. Dasar rendahan!" sergahnya, membuat Sherly menatapnya dengan marah.
"Kamu menghinaku?" geram Sherly, tak di gubris oleh Keisha.
Keisha bangkit dari tempat duduknya, sambil melihat jam tangannya. "Oh, sorry kalau aku membuatmu marah. Tapi sekarang kita tidak bisa bertengkar, karena calon suamiku sudah menjemputku di depan," celetuknya, menatap remeh Sherly yang terlihat benar-benar marah padanya.
Keisha segera keluar dari Cafe tersebut, meninggalkan teman-temannya tanpa pamit.
Sherly mendenguskan napasnya kasar, menatap wajah Fauzan yang sedang bersama dengan Keisha, dengan tatapan tak senang.
"Padahal suaminya tidak terlalu ganteng. Tapi dia menjadi sangat angkuh setelah bersamanya." Sherly mengepal kedua tangannya kuat, menatap kedua orang itu dengan tatapan sinis. "Bagaimana kalau aku menghancurkan bisnisnya sekalian? Biarlah mereka menjadi gelandang, setidaknya itu balasan yang setimpal untuk-"
"Kamu ini berbicara apa, Sher? Kamu tidak tahu siapa istri pertama Tuan Fauzan?" celetuk Arina, memotong perkataan Sherly.
Sherly menoleh padanya dengan alis yang sudah mencuram dalam. "Aina Anindya Putri, itukan? Perempuan yang menjadi guru bahasa dan penulis novel itu, kan? Aku tahu dia, bukan wanita yang sangat hebat sampai-sampai aku harus takut kepadanya, iya kan?" celetuk Sherly, membuat Arina menepuk keningnya ampun.
"Kamu tidak tahu siapa wanita itu sebenarnya?" tanya Arina, menatap Sherly dengan tatapan muak.
"Memangnya siapa dia?" tanya Sherly, dengan tatapan culas.
Arina menghela napasnya kasar. "Hahh ... dia adalah pemilik asli perusahaan suamimu! Atasan langsung dari Pak Baron, kamu mengerti?!"
"Apa katamu?!!"