Don'T Be The Antagonist

Don'T Be The Antagonist
Insiden Penculikan (2)



"Ma," panggil Alva, membuat wanita berusia 36 tahun itu menoleh, menatapnya dengan tatapan bertanya-tanya.


"Ya?" jawab Aina, pada Alva.


"Bunda gimana?" tanya Alva, tampak cemas.


Tapi Aina tahu jika itu hanya sekedar basa-basi saja. Karena Aina pun tahu, jika Alva tak memedulikan Keisha. Keisha di culik seperti itu, Alva malah senang sebenarnya.


Namun karena Aina menuntutnya untuk menerima kehadiran Keisha, terbuatlah drama seperti ini oleh Alva.


"Bunda sudah sama Ayah. Semoga dia baik-baik saja. Sekarang pikirkan kesehatan kamu sendiri, baru memikirkan orang lain," celetuk Aina, menghela napas panjang nan lelah.


Alva pun kembali memejamkan matanya, pergi ke alam mimpi agar dia beristirahat dengan tenang.


Sementara Aina, hanya memantau kedua kendaraan suami dan yang di kendarai Keisha dari dalam ponselnya, memastikan jika Fauzan tak salah mengambil jalan.


***


Ckit ....


Fauzan segera turun dari mobil bersama dengan Dion, satpam muda yang bekerja di rumahnya selama 3 tahun terakhir ini.


"Apa benar ini tempatnya, Pak?" tanya Dion, menatap sebuah lapangan sepak bola yang sangat luas dan sepi, di depan sana.


Fauzan menatap ponselnya, melihat titik merah yang ada di dalam peta yang di berikan istrinya.


"Benar, ini tempatnya. Ayo masuk dan cari mereka!" ucap Fauzan, bergegas meninggalkan mobilnya, di ikuti oleh Dion.


Keduanya masuk ke dalam lapangan, menatap sekelilingnya dengan saksama, mencari keberadaan Keisha dan para preman yang menculiknya.


Fauzan tak khawatir sama sekali. Karena konteksnya dia tak mencintai Keisha sama sekali, dia pergi ke sini atas permintaan Aina, istrinya! Bukan berdasarkan rasa khawatir.


"Cari yang benar. Pelan-pelan saja, yang penting akurat!" ucap Fauzan, mencari di sekitar ruangan yang ada di pinggir lapangan terbengkalai itu.


"Baik, Tuan," sahut Dion, berpencar darinya, agar mereka bisa menemukan Keisha lebih cepat.


"Ke mana perginya mereka?" batin Fauzan, tak sengaja menatap satu titik hingga membuat kedua matanya menyipit, menatap lebih detail apa hang bergerak di ujung belakang bangku penonton itu.


Seorang wanita tengah di ikat, sampai mulutnya pun di lakban, membuatnya tak bisa berteriak meminta tolong dan hanya bisa menangis saja.


"Dion!" panggil Fauzan, membuat ajudannya mendekat dengan cepat, dan menatap apa yang Fauzan tunjukkan padanya.


"Benar itu, kan?" tanya Fauzan, membuat Dion menganggukkan kepalanya antusias.


"Benar, Tuan. Sebaiknya saya ke saja duluan, Anda menyusul. Supaya, jika ada masalah yang terjadi pada saya, Anda bisa mengantisipasi tindakan apa yang harus Anda perbuat di situasi bahaya," terang Dion, langsung membuat Fauzan menyetujuinya.


"Bawa ini." Fauzan memberikan selembar cek, bertuliskan 200 juta padanya. "Kalau mereka meminta uang, berikan saja itu dan bawa Keisha pergi. Tapi kalau mereka tetap melawanmu, aku akan segera membantumu," jelasnya, panjang.


Dion mengangguk mengerti dan segera pergi ke arah Keisha berada. Dia berjalan dengan cepat mendekatinya, tanpa adanya kendala.


"Anda baik-baik saja?" tanya Dion, melepaskan lakban di mulut Keisha dengan hati-hati. "Di mana para penculik itu?" tanyanya, sekali lagi.


Keisha hanya menangis dan tak mengatakan apa pun. Tenggorokannya sakit dan juga terlihat ketakutan.


Kejadian kecelakaan Alva di depan matanya tadi, membuat Keisha trauma dan merasa bersalah. Lalu kali ini dia harus membahayakan nyawa Fauzan untuk menyelamatkannya?


"Non Keisha, di mana para penculiknya? Jika Anda tak mengatakannya, kami akan merasa kesulitan," ucap Dion, menyadarkan wanita itu dari lamunannya.


Keisha menatap Dion dengan kedua mata berkaca-kaca. "Pergilah ke Fauzan! Yang mereka incar adalah Fauzan, bukan aku. Lindungi Tuanmu, jika tidak–"


Dor!!


Suara tembakan memekakkan telinga, membuat Keisha dan Dion melebarkan matanya, melihat seorang lelaki yang tengah bersembunyi, tiba-tiba terjatuh dan terkulai.


Bahu Dion berguncang. Begitu pula dengan Keisha, yang menyaksikan dua kejadian buruk dalam satu hari.


Fauzan terjatuh, tak sadarkan diri dengan kondisi telungkup! Setelah seorang lelaki menembakkan sebuah peluru menembus jantungnya.


"T-tidak, Tuan!!"