
Alva keluar dari kamar Aina pada pukul 10.00 malam. Tapi di lantai 1 dia melihat Pak Yanto dan Mbak Yanti terlihat cukup gelisah dengan ponsel mereka ataupun mondar-mandir di depan pintu seakan menunggu seseorang pulang.
Alva turun ke lantai 1 dan menemui kedua orang pekerja di rumahnya tersebut, hendak bertanya apa yang menjadi masalah sampai mereka berdua terlihat begitu gelisah.
"Mbak? Kenapa kok mondar-mandir kayak gitu di depan pintu?! Lagi tungguin siapa?" tanya Alva, sambil menuruni tangga lantai 2 untuk sampai ke lantai 1.
Mbak Yanti yang melihat keberadaan Alva langsung berlari mendekati lelaki berusia 17 tahun itu.
"Itu loh, Mas. Mas Izra nya belum pulang-pulang dari tadi. Di telepon sama Pak Yanto juga enggak bisa. Ponselnya mati. Pak Yanto juga udah menghubungi Nona Keisha, soalnya tadi terakhir kali Pak Yanto tahunya, Mas Izra itu pergi sama Nona Keisha ke kantor. Tapi pas Pak Yanto jemput di kantor dan udah tunggu lama di depan kantor, Mas Izra gak keluar-keluar. Pas tanya satpam juga, katanya Mas Izra pergi sama Nona Keisha."
Mbak Yanti menghela napas panjang beberapa kali dan melihat Pak Yanto yang kebingungan dengan tatapan kasihan.
"Pak Yanto bingung kalau nanti Nyonya Aina tanya di mana Mas Izra. Bapaknya enggak tahu, gimana mau jawabnya?!" celetuk Mbak Yanti, menjelaskan panjang lebar kepada Alva.
Alva yang mendengar keluhan itu langsung menoleh ke arah kamar ibunya yang dia tutup rapat, karena Aina sudah tidur, dengan tatapan masam.
"Coba aku hubungi temannya deh. Siapa tahu dia lagi main sama mereka atau mungkin lagi ke perusahaan punya dia tuh, yang di pinggir pantai. Coba aku telepon temannya dulu ya?!" ucap Alva, mengeluarkan ponsel dari dalam saku celana kolornya dan menghubungi beberapa teman Izra dari berbagai tempat.
Dan saat tiba waktunya Alva menghubungi salah satu karyawan yang ada di kantor IT milik Izra. Di sanalah ekspresi wajah cemasnya berubah menjadi khawatir dan panik.
Tapi di sisi lain tiba-tiba suara Pak Zean terdengar sangat nyaring dari lantai 2. Lebih tepatnya dari kamar Aina.
Mendengar suara nyaring tersebut, tentu saja Alva, Mbok Yanti dan Pak Yanto bergegas naik ke arah lantai 2 dan melihat apa yang terjadi di dalam kamar Aina.
Di dalam sana Aina sudah terkapar lemas di pinggir ranjang dengan hidung dengan mulut yang sudah mengeluarkan darah.
Alva yang masih mendengarkan penjelasan Gion, atas situasi yang ada di seberang sana, tentu saja menjadi semakin panik dengan kedua situasi yang kacau di saat bersamaan ini.
"Pak, bisa tolong antarkan Mama ke rumah sakit? Mbok Yanti juga, tolong jaga Mama di rumah sakit sampai aku datang." Alva menggenggam kedua tangan orang tersebut dengan rasa cemas yang sampai menjalar di ujung-ujung jarinya.
Melihat ekspresi wajah Alva yang begitu kacau, tampaknya ada sesuatu yang terjadi kepada adiknya dan Nona Keisha.
"Memangnya Anda mau pergi ke mana Mas Alva? Biar saya antarkan. Sekarang sudah malam. Nanti, Nyonya Aina biar pergi dengan mbok Yanti dan Pak Zean saja. Kalau perlu, sekalian bawa Mas Dirga juga buat jagain Nyonya," ucap Pak Yanto, juga terlihat cemas melihat ekspresi wajah pucat Alva saat ini.
"Enggak, Pak. Tolong jaga Mama aja. Aku cuman bentar kok. Izra juga enggak terluka parah jadi enggak perlu banyak orang buat bantu saya ke sana." Alva melepaskan tangannya dari kedua genggaman orang tersebut dan segera turun kembali ke lantai.
"Aku pergi sekarang ya, Pak. Nanti kalau Mama sudah dapat kamar tolong kabari saya langsung ya. Nanti saya langsung ke sana," ucap Alva, benar-benar pergi meninggalkan rumah itu dengan membawa motornya.
Pak Yanto menghela napas panjang dan melihat kepergian Alva dengan berat hati.
Tapi keadaan di rumah itu sudah terlalu panik sampai-sampai Pak Yanto tidak memiliki kuasa untuk mengkhawatirkan Alva yang konteksnya sudah berusia 17 tahun.
"Pak, Ayo bawa Nyonya ke rumah sakit segera. Jangan lupa hubungi Pak Fauzan juga," ucap Mbak Yanti, menyadarkan Pak Yanto dari lamunannya.
"Iya, Mbok."
Sementara itu di rumah sakit tempat Keisha melahirkan saat ini, Izra dan beberapa pegawainya terlihat mondar-mandir di depan ruang operasi dengan tatapan khawatir.
Dari kejauhan seorang lelaki berusia 35 tahun berjalan dengan langkah cepat menghampiri mereka dan menata Putra keduanya, yang mengalami beberapa luka parah di bagian tangan kiri dan lututnya.
"Bagaimana keadaan Bunda kamu? Kata dokter gimana tadi pas sebelum masuk ruang operasi?!" tanya Fauzan, terlihat sangat khawatir dan panik.
"Tenang, Yah. Bunda enggak apa-apa kok. Cuman kata dokter dia harus melahirkan secara prematur kalau janinnya ingin selamat. Mungkin ini karena efek benturannya yang cukup kuat saat kecelakaan terjadi. Maafin Izra."
Izra menundukkan kepalanya dalam dan tidak berani memandang wajah Fauzan yang terlihat sangat marah tapi tidak bisa mengeluarkan amarahnya, melihat keadaan putranya yang juga tidak baik-baik saja.
"Kalau saja Izra tetap enggak mengizinkan Bunda untuk antarkan Izra ke perusahaan, mungkin kecelakaan ini enggak bakalan terjadi sama kita berdua. Maafin Izra, Yah ...."
Fauzan hanya diam dan tidak membalas perkataan Izra. Karena dia sedang tidak bisa berkata-kata sebab pikirannya terlalu kacau.
Tak lama setelah itu, Alva datang dan mendekati mereka dengan langkah panik dan wajah yang pucat pasi.
Dengan napas yang tersengal-sengal, Alva menatap Ayah dan adik lelakinya dengan tatapan panik.
"Bagaimana keadaan Bunda? Katanya Bunda harus melahirkan sekarang?! Itu benaran?" tanya Alva, menatap kedua lelaki yang ada di depannya dengan tatapan bergantian.
Istirahat hanya mengangguk pelan sementara Fauzan lagi-lagi tidak menjawab perkataan putranya.
Fauzan lebih memilih duduk di dekat beberapa teman Izra, sambil menenggelamkan wajahnya di dalam kedua telapak tangannya.
"Tapi Bunda enggak kenapa-napa lagi kan? Terus kamu, udah enggak ada patah tulang atau gimana-gimana, kan?" tanya Alva, mencengkeram kedua bahu Izra dengan pelan, seakan-akan adik lelakinya itu sangat rapuh sampai-sampai dia tidak berani menggenggamnya terlalu kuat.
Lagi-lagi Izra mengangguk dan menatap wajah Alva yang terasa sedikit menjanggal.
Padahal Alva sudah mendengar kalau keadaan Izra dan Keisha baik-baik saja. Tapi tampaknya ekspresi khawatir itu masih tersisa dengan jelas di wajahnya.
Terutama kelakarnya yang terlihat terburu-buru itu, membuat Izra semakin penasaran dengan apa yang membuat Kakak lelakinya begitu panik.
"Kenapa? Kamu kan sudah dengar kalau aku dan Bunda baik-baik saja. Terus kenapa masih khawatir?" tanya Izra, membuat Fauzan yang mendengar pernyataan itu juga memandang anak pertamanya dengan napas tertahan.
Seakan tidak sanggup jika mendengar ada berita buruk yang lain di saat situasi genting ini.
"Mama-" Alva menata Fauzan dan juga Izra secara bergantian sebelum akhirnya mengulas senyuman masam sambil menggelengkan kepalanya. "Aku gak bisa terlalu lama tinggalkan Mama di rumah sendirian. Karena kalian berdua sudah ada di sini, aku pamit pulang dulu ya Ayah, Izra."
Setelah mengatakan hal itu Alva segera berlari meninggalkan lorong operasi, tanpa memedulikan suara Izra ataupun Fauzan yang memanggilnya.
"Pasti ada apa-apa sama Mama!" batin Izra, mulai curiga dengan sikap Alva.