Don'T Be The Antagonist

Don'T Be The Antagonist
Kesalahan (5)



Melihat ekspresi wajah Keisha yang tiba-tiba sedih, Aina langsung menyenggol bahu Fauzan, yang berdiri di antara mereka berdua.


"Kenapa? Masih ada yang kamu butuhkan?" tanya Fauzan, menoleh padanya dengan tatapan bertanya-tanya.


Aina menunjukkan gerakan dagu, yang mengarah pada Keisha. Membuat lelaki itu segera menoleh ke arahnya.


"Kenapa, Kei? Kamu membutuhkan sesuatu?" tanya Fauzan, menatap calon istri keduanya dengan tatapan lembut.


Keisha segera sadar dari lamunannya dan menggelengkan kepala pelan. "Tidak, aku baik-baik saja."


Fauzan mengangguk mengerti dan acara makan segera dimulai setelah mereka berdoa.


"Jadi, bolehkah keluarga kami datang ke pernikahan kalian?" tanya Ardi, hampir membuat Keisha tersedak karena saking kagetnya.


Keisha menoleh pada Fauzan, seakan bertanya. "Bukankah mereka sudah seharusnya datang? Tapi kenapa mereka malah terbanyak kepadaku?" tanyanya, lewat pergerakan matanya.


Fauzan menoleh pada Aina, membuat wanita yang sedang asyik makan bersama dengan Alva itu, mengalihkan perhatiannya pada sama suami.


"Ada apa?" tanya Aina, setengah berbisik.


"Ayah bertanya, apakah dia boleh datang ke pernikahanku dan Keisha?" tanya Fauzan, dengan suara berbisik.


Aina mengurutkan keningnya, menatap lelaki yang ada di depannya dengan tatapan aneh.


"Kenapa kamu malah bertanya kepadaku? Bukankah kalian berhak untuk memutuskan yang secara langsung?" tanya Aina, menatap Fauzan dan Keisha secara bergantian. "Ini kan pesta pernikahan kalian?!" celetuknya, dengan suara sedikit lantang.


Glek ....


Fauzan dan Keisha menelan ludah mereka dengan kasar, dan memalingkan kepalanya secara spontan melihat Ardi yang sudah mengecek mereka dengan senyuman kecil.


"Apakah kalian merasa bersalah pada putriku? Karena itu kalian berdua bersikap canggung dan terkesan penuh perhitungan, dari tadi?" tanya Ardi, to the point.


Fauzan tidak menjawab, sementara Keisha tampak bingung harus berbuat apa sedih dalam situasi ini. Karena sepertinya keluarga Aina mengundang mereka berdua datang bukan untuk memarahi, tapi sekedar untuk menjalin silaturahmi dengan dirinya.


"Saya tidak akan menghalangi Anda, jika memang Anda ingin datang ke pernikahan kami, Om. Anda juga bisa datang dengan mengajak keluarga yang lain," ucap Keisha, menjawabnya dengan sikap gugup.


Ardi tersenyum lembut dan mengangguk kan kepalanya mengerti. "Baiklah, kami semua akan datang."


Setelah itu Ardi menoleh dan kepalanya pada putri bungsunya, yaitu Aina yang dari tadi sibuk makan bersama dengan anak sulungnya, Alva.


"Bagaimana keadaan si bungsu? Aku dengar dia baru dioperasi tiga hari yang lalu. Sekarang sudah ada di rumah atau masih di rumah sakit?" tanya Ardi, membuat fokus Aina berpindah kepadanya dengan cepat.


Rafa dan Ana yang melihat itu hanya bisa terdiam, menatap wajah Aina yang tampak sedih tapi tetap berusaha untuk tersenyum lembut agar Ayah mereka tidak khawatir, membuat mereka jauh lebih sedih.


"Apa Ayah ingin menjenguk Nuri. Jika iya, aku bisa mengantar Ayah besok. Aku akan meminta sekretarisku untuk mengosongkan jadwal," ucap Rafa, mendapatkan anggukkan kepala dari Ardi.


"Lalu bagaimana dengan sekolahmu, Alva? Semuanya baik-baik saja, kan? Kamu tidak lagi membuat onar seperti yang kemarin, bukan?" celetuk Ardi, mengundang senyuman masam di wajah Alva.


"Hehe, sejauh ini sih aman Opah. Opah enggak perlu mengkhawatirkan sekolah Alva. Semuanya baik-baik saja," jelas Alva, seperti sedang tidak berbohong.


Padahal aslinya, dia masih mendapatkan perlakuan buruk dari beberapa temannya. Tapi Alva hanya bisa menyembunyikan semua itu dari keluarganya.


"Bagus. Nanti setelah makan malam kamu ikut dengan Opah ke belakang. Opah ingin melihatnya secara langsung!" ucap Ardi, mengubah tatapannya menjadi tetapan tegas dan terkesan tidak menerima penolakan.


Alva melirik ke arah Aina yang hanya diam saja, seakan mendukung permintaan sang Ayah.


"Opah kamu tidak akan menyakitimu walaupun kamu berbohong, Alva. Lagi pula  bunda tidak bisa melihatnya secara langsung, kan? Kamu pasti tahu alasannya," ucap Aina, membuat ekspresi wajah Alva berubah secara drastis.


Alva langsung tampak tertekan, dan tidak berat selera makan.


Sementara yang lain, yang tidak paham dengan sikap Aina dan alasan Ardi tiba-tiba berlaku tegas pada Alva, hanya bisa diam dan tidak ikut campur.


"Selesaikan makanmu dan ikut aku ke belakang. Awas sampai kamu kabur, Alva! Aku akan meminta Mama kamu, untuk memotong uang jajan!" celetuk Ardi, mengancam.


Alva yang mendengar itu hanya menganggukkan kepalanya mengerti, dan terus menundukkan kepalanya sambil berusaha menghabiskan susah makanannya di piring.


Aina mengelus punggung anak lelaki itu dengan lembut. "Tidak ada yang akan terjadi, Alva. Tenanglah," bisiknya, berusaha menenangkan anak sulungnya.


Alva hanya menganggukkan kepalanya, dan melirik ke arah Fauzan.


Tapi siapa sangka jika sang Ayah akan menatapnya dengan tatapan dingin seperti itu dan membuat Alva sampai terkejut.


Alhasil, Alva hanya bisa semakin menundukkan kepalanya, menghindari tatapan mengintimidasi dari Fauzan.


Sementara Keisha yang melihat semua perlakuan aneh orang-orang terhadap Alva, lambat-laun menjadi paham arah pembicaraan ini.


"Alva di-bully di sekolah, kah? Kenapa respons semua orang mengatakan hal yang sama?" batin Keisha, terus menatap ke arah Alva. "Jika iya, bagaimana bisa anak sultan malah mendapatkan perlakuan buruk dari teman-temannya? Aneh, pasti ada sesuatu yang janggal di sana!" batinnya, lagi, mulai merasa semakin penasaran.


"Sepertinya aku harus mencari tahu masalah ini," batin Keisha, seakan sudah bertekad.