
"Terima kasih atas penjelasannya, Dok." Fauzan membungkukkan badannya sejenak, sebelum dia pamit keluar dari ruangan tersebut.
Dokter hanya mengangguk dan mempersilakannya pergi.
Dengan napas berat, Fauzan meninggalkan ruangan sang dokter dan kembali ke ruangan Aina. Berencana menjenguk istrinya.
Selama perjalanan Fauzan hanya diam. Dia sedikit melamun sampai menabrak beberapa perawat yang bersimpangan dengan dirinya tiap kali ada tikungan lorong.
Tok ... tok ....
Fauzan mengetuk pintu kamar Aina pelan. Membuat mertua Fauzan menoleh ke arah pintu. Melihat kehadiran Fauzan di sana.
"Ayah," panggil Fauzan, menyalami orang tua Aina dengan sopan dan berusaha membuat raut wajah baik di depan mereka.
"Ayah sudah mendengar permintaan itu." Ardi, mertua Fauzan, langsung mengungkit tentang perceraian mereka tanpa rasa sungkan.
"Maafkan Ayah Fauzan. Tapi Ayah berharap kamu mau mengabulkan permintaan Aina." Ardi tampak sendu. Walau dia berbicara dengan tegas. Masih ada sedikit rasa sayang untuk Fauzan di dalam hatinya.
"Saya akan memikirkannya lagi, Ayah." Fauzan menunduk sedih. "Bagaimana pun juga, saya masih mencintai Aina."
Ardi mengangguk. Dia paham. Dia pun mengerti seberapa besar rasa sayang Fauzan kepada Aina.
Tapi melihat Putrinya menginginkan hal menyakitkan untuk mengakhiri rumah tangganya, Ardi hanya tak ingin putrinya merasa lebih sakit dan banyak terombang-ambing jika Fauzan bersikukuh mempertahankan dirinya.
"Maafkan Ayah, Nak." Ardi memberikan sebuah amplop coklat yang sempat di perlihatkan Aina beberapa saat yang lalu sebelum dia kembali tertidur karena lelah. "Pikirkanlah dengan baik dan tanda tangani berkas ini."
Fauzan menerimanya dengan menyungging senyuman masam. "Baik Ayah."
Ardi menepuk pundak Fauzan dan berjalan melaluinya. "Ayah pulang dulu. Femi dan Awan sedang ada di rumah. Ayah tidak bisa meninggalkan mereka terlalu lama," ucapnya, menyinggung tentang cucunya.
Fauzan yang mengerti hanya mengangguk dan mengantarkan lelaki itu sampai di depan pintu.
"Hati-hati di jalan, Ayah."
Ardi kembali mengangguk dan meninggalkan tempat. Membiarkan Fauzan ada di sana, menunggu Aina.
Setelah melihat kepergian Ardi, Fauzan masuk kembali ke dalam dan duduk di samping ranjang Aina.
"Bangun. Aku tahu kamu hanya berpura-pura tidur?" ucap Fauzan, menghela napas panjang nan kasar.
Perlahan-lahan Aina membuka matanya dan melihat wajah suaminya. "Kamu tahu?"
"Ya. Tentu saja tahu. Kita tidak bersama beberapa tahun saja, Aina. Hampir 12 tahun kita hidup bersama. Membesarkan anak-anak dalam waktu yang lama." Fauzan menghentikan ucapannya. Menatap Aina dengan wajah sendu. "Setelah semu itu– kamu masih ingin berpisah?"
Aina termenung. Diam menatap wajah Fauzan yang tampak berat dan tak ikhlas jika harus melepaskannya.
"Aku ingin sendiri di sisa waktu ini." Aina tersenyum lembut. Dia tampak tulus saat mengatakan itu. Tapi bukan berati tidak ada rasa sakit yang menusuk dadanya.
"Kamu yakin?" Fauzan masih memastikan. Dia terus berusaha membuat Aina berubah pikiran dengan terus bertanya hasil keputusannya.
Tapi tampaknya Aina sudah membulatkan tekat sedari awal. "Jika aku tidak yakin dengan perpisahan kita. Aku takut akan membuatmu menderita saat aku pergi, Mas."
Fauzan terkejut. Ini kah alasan mereka berpisah? Karena dirinya terlalu mencintai Aina dan Aina yang menyayanginya, berusaha menjadi orang jahatnya di sini?
"Kenapa kamu beranggapan seperti itu?" Fauzan menggenggam kedua tangan Aina dan menangis. Ini air mata ke sekian yang telah dia tumpahkan hanya untuk Aina. Tak pernah dengan alasan lainnya kecuali wanita ini.
"Karena kamu mencintaiku lebih dari diriku sendiri– aku yang paling tahu seberapa kerasnya kamu berusaha membenciku. Kamu tidak pernah bisa melakukannya." Aina tersenyum kecut. "Karena itu, biarkan aku yang menjadi pemicu rasa benci itu terlebih dahulu."
***
“Maafkan aku.” Keisha mencicit pelan. Tak berani memandang Aina yang duduk di seberang dirinya dengan menggendong putrinya.
“Untuk apa meminta maaf?” tanya Aina, memandang Keisha yang masih tetap menundukkan kepalanya dai tadi. “Angkat kepalamu. Aku yang menginginkan hal ini. Semuanya bukanlah salahmu.”
Keisha menghela napasnya panjang dan besar. ”Tetap saja. Aku merasa kalau ini tetaplah salahku.” Keisha menggelengkan kepalanya pelan. “Aku benar-benar meminta maaf.”
“Aku ingin berterima kasih padamu.”
Perkataan Aina membuat Keisha mendongakkan kepalanya. “Untuk?’
Aina tersenyum tanpa memandangnya. Dia fokus melihat putri kecil Keisha yang mirip dengan ibunya. Sangat cantik dan mungil.
“Terima kasih karena kamu telah menikah dengan Fauzan dan membiarkan aku memiliki kebebasan setelah Nuri pergi. Terima kasih telah menggantikan tanggung jawabku sebagai istrinya.” Aina memandang Keisha dengan senyuman lembut. “Dengan begini aku bisa pergi dengan tenang tanpa harus mengkhawatirkan Fauzan.”
Keisha terdiam dengan mulut terkatup rapat. Dia menjadi begitu tegang begitu kalimat yang secara tak langsung terdengar seperti pernyataan pamit itu di ucapkan oleh Aina.
“Mbak …,” Keisha menangis dengan bahu berguntang pelan. “kenapa kamu mengatak hal menyedihkan di depanku? Aku harusnya masih bahagia karena baru saja memiliki bayi. Menyebalkan!”
Aina tersenyum miring dan menggelengkan kepalanya ampun. “Apa yang kamu lakukan? Sudah besar tapi merengek untuk hal-hal yang tidak penting. Kamu ini, Kei … Kei … entah mengapa aku tak bisa membayangkan kamu dan Fauzan hidup bersama.”
Aina tersenyum mengejek. “Dua orang ceroboh hidup bersama. Wah … mungkin para pembantu Fauzan akan di buat kerja ekstra sebentar lagi, hahaha.
Keisha mendengus kasar. “Berhentilah meledekku dan pikirkan tawaran Mirza. Dia tetap ingin menikah denganmu walau pun kamu sedang sakit sekarang. Pikirkanlah ….”
Aina tercengang. Dia memandang Keisha dengan tatapan terkejut.
Keisha yang melihat itu langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan dengan kedua bola mata membulat kaget. “Mirza belum menyatakan perasaannya kepadamu?”
Aina menggelengkan kepalanya dan menunjuk ke arah belakang punggung Keisha.
Glek!
Keisha menelan luahnya susah dan menoleh ke arah belakang. Melihat Mirza yang berdiri di sana dengan posisi mematung. Kaget dan tercengang mendengar perkataan Keisha pada Aina.
“Apa yang kamu bicarakan Keisha?” Mirza mendekati Keisha dengan langkah kaku. “Ka-kamu baru saja mengatakan kalau aku menyukainya?” Mirza menunjuk ke arah Aina dengan dagunya.
Wajah keduanya terlihat canggung, kaku dan mungkin keduanya ingin melarikan diri dari hadapan Aina. Tapi tak bisa, karena Aina sedang menggendong bayi Keisha di sana.
“Jangan dengarkan Keisha, Mbak.” Mirza berusaha menjelaskan dengan wajah kaku dan keringat dingin yang telah membasahi sebagian pelipisnya.
Aina hanya mengangguk setelah mengangkat bahunya acuh. “Jangan terlalu memikirkannya juga. Aku baik-baik saja. Anggap aku tak pernah mendengarnya.”
Mirza dan Keisha menghela napas lega dan mengusap dada mereka untuk menenangkan jantung mereka yang berdebar kencang.
“Karena aku sudah tahu.”
Glek!
Keisha dan Mirza menelan ludah mereka susah dan kompak menatap Aina dengan lemas.
“Kamu sudah tahu kalau Mirza menyukaimu?” tanya Keisha, berbisik pelan di dekat wajah Aina yang berjarak satu meja.
Aina hanya diam dan tak membalasnya. “Jangan di hiraukan Pak Mirza. Saya baik-baik saja,” terang Aina, sekali lagi.
“Ya, saya tahu kalau Anda baik-baik saja. Sekarang yang tidak baik kan saya … hahahaha ….”