
"Tunggu sebentar, Vega. Kamu yakin tidak akan memperkeruh hubungan kalian berdua dengan kabur seperti ini?" tanya Izra, membuat teman-temannya berhenti sekaligus.
"Kamu tidak perlu memusingkan itu, Zra. Mereka berdua terlalu sering bertengkar, sampai aneh rasanya jika melihat keduanya akur. Pemandangan seperti itu sudah biasa bagi kami," celetuk Neal, mendapatkan anggukkan kepala dari Yaka.
"Benar katanya, tidak perlu ikut pusing dengan urusan mereka berdua. Kamu hanya membuat emosi Nevan semakin memuncak. Diam saja dan biarkan mereka mengurus urusan mereka sendiri," timpal Yaka.
Izra menghela napas panjang, menunjukkan ekspresi dingin sambil berjalan meninggalkan ketiga temannya.
"Baiklah, terserah kalian saja. Lagi pula aku tidak ada rencana ikut campur dengan urusan Vega. Aku hanya bertanya, jadi tidak perlu salat paham!" seru Izra, menjelaskan kepada mereka.
"Kamu mau pergi ke mana?" tanya Vega, menatap Izra yang terus berjalan menjauh dari mereka.
"Aku ada urusan dengan kepala sekolah. Kalian kembalilah ke kelas terlebih dahulu, nanti aku akan menyusul!" ucap Izra, sambil melambaikan tangan tanpa melihat ketiga temannya di belakang sana.
Vega menghela napas panjang. "Aku merasa cukup asing dengannya. Padahal dulu dia orang yang baik dan pengertian. Tapi sekarang dia terlihat dingin dan tidak acuh dengan orang-orang di sekitarnya. Kenapa ya? Apa karena dia banyak melewati masa sulit?" gumamnya.
Yaka menatap jarum jam yang sudah berputar sebanyak 45 derajat dari posisi terakhir dia melihatnya.
"10 menit lagi kelas kita akan dimulai. Sebagai kita kembali ke kelas sekarang. Dan jika kamu ingin tahu kenapa dia berubah," Yaka menatap kedua temannya dengan tatapan lelah. "Sudah jelas kalau hatinya masih terluka di mana pengertian Nuri. Aku dengar dari Alva kalau dia sangat dekat dengan Nuri. Ingatlah, sedikit magma dari gunung dapat membuat gersang lingkungan sekitarnya."
Vega dan Neal hanya diam, menatap Yaka yang tampak sendu setelah mengatakan kalimat itu. Seakan dia tahu persis rasanya kehilangan seseorang yang berharga untuknya dengan sangat baik.
"Sekarang kita kembali ke kelas?" tanya Yaka, menatap kedua temannya yang terus diam sambil menatapnya dengan tatapan iba.
"Ya."
Izra menyadarkan punggungnya di sebuah dinding, menatap langit biru yang ada di atasnya dengan tatapan penat.
"Padahal belum genap satu minggu kamu ada di sini. Tapi lihat ekspresi tertekan itu. Haha, tidak betah tinggal di sini?" tanya Alva, berjalan mendekatinya sambil membawa buku paket yang baru saja dia pinjam dari perpustakaan.
Izra menoleh ke arah sumber suara, menatap saudara yang lebih tua setahun darinya dengan tatapan masam.
"Tidak, bukan begitu maksudku. Pada lari ini hari pertamaku masuk sekolah, tapi sudah banyak kejadian yang aku alami. Aku hanya sedikit lelah karena itu. Hahhh ... mungkin karena ini aku tahu kenapa kamu mencoba untuk menjadi penyendiri saat di sekolah," celetuk Izra, mengundang tawa kakak lelakinya itu.
"Kalau Mama mendengar apa yang kamu ucapkan saat ini, dia pasti akan sangat marah. Ngomong-ngomong tentang keadaan Mama, kamu tahu jika perusahaan yang mengalami beberapa masalah akhir-akhir ini? Mungkin karena itu juga kondisi Mama sangat drop setelah upacara kematian Nuri kemarin." Alva menatap ke depan dengan tatapan lelah. "Dia pasti sangat lelah karena harus mengurus kita juga, dua anak lelaki yang sedang beranjak dewasa dan sering merepotkannya. Padahal kita bukan-"
Izra melirik Alva dengan tatapan tajam, membuat lelaki itu membungkam mulutnya dengan mengatupkan kedua sisinya dengan rapat.
"Baik, aku tidak akan mengatakannya lagi. Jangan marah. Nanti kita berdua bertengkar lagi," celetuk Alva, mengulas senyuman masam.
Izra menghela napas panjang nan lelah. "Jangan khawatir tentang perusahaan Mama. Katanya aku akan naik pangkat. Mama menyerahkan sebagian sahamnya padaku. Jadi mungkin satu bulan lagi aku akan masuk ke perusahaan secara resmi. Hahh ... padahal aku baru berusia 16 tahun, tapi bisa-bisanya sudah disuruh bekerja memegang perusahaan besar seperti itu," keluh Izra, pada orang yang tidak tepat.
Alva yang sudah menjabat sebagai seorang CEO di usianya yang ke-15 tahun, hanya tersenyum masam sentil menertawakan adiknya
Izra segera peka dengan hal itu. Dia menepuk keningnya ampun, menatap Alva dengan tatapan getir. "Aku melupakan keberadaan CEO muda ini. Hahhh ... bisa-bisanya ini terjadi."
"Oh iya, aku mendengar gosip memang cukup konyol tentangmu. Banyak anak yang mengira kamu masih berusia 15 tahun, hahaha ... siswa akselerasi kita meong benar-benar pandai mengguncangkan dunia. Bagaimana pendapat Anda, Tuan Muda 15 tahun? Hahaha," ledek Alva, di sambut dengan ekspresi kesal dari adiknya.
"Hahh ... apa lagi itu? Kemarin aku sudah genap 16 tahun. Apa-apaan orang-orang ini!" pekik Izra, tampak lelah dan malas.