
Setelah pulang sekolah, Izra langsung mengganti pakaian dan siap pergi ke perusahaan sang Ayah.
Lain halnya dengan Kakak pertamanya, Alva. Dia memilih untuk tidak ikut bekerja hari ini karena sibuk dengan kegiatannya di OSIS.
Menghela napas panjang, Izra keluar dari kamar dengan setelan jas berwarna coklat muda. Terlihat sangat cocok dengan penampilan dirinya.
Keisha sempat terdiam saat melihat anak lelaki keduanya itu turun dengan pakaian seperti itu.
"Bun, sekarang kita berangkat?" tanya Izra, berjalan mendekati Keisha yang tengah menunggu di ruang tamu, sambil membenarkan posisi jam tangannya.
"Ya. Kamu sudah membawa semuanya? Klien kita hari ini sedikit rewel tentang beberapa desain. Aku harap kamu bisa membantuku sedikit, kalau mereka mulai berulah!" tutur Keisha, membuat seluruh perhatian Izra teralihkan padanya.
"Baiklah, aku akan bantu Bunda menangani mereka semampuku," tuturnya, tanpa ragu.
Hal itu malah membuat Keisha menggelengkan kepalanya ampun dan berjalan pergi di ikuti dengan Aren, bodyguard yang di perkerjakan Aina untuk menjaganya.
Tapi baru keluar pintu, Keisha tiba-tiba merasa mual sampai sangat lemas dan tak bisa menahan beban tubuhnya yang tak seberapa itu.
Aren langsung sigap, menahan tubuh Keisha agar tak membentur lantai dengan keras saat hampir terjatuh.
"Nyonya, Anda baik-baik saja?" tanya Kelvin, tak tak sengaja lewat setelah membuat kopi untuknya dan dua satpam penjaga rumah.
"Aku gak tahu, rasanya pusing dan mual!" keluh Keisha, menahan perutnya yang terus terasa di aduk.
Izra menatap jarum jam kecil yang ada di tangannya. Waktu menunjukkan pukul 12.45 siang. Itu berarti waktu temunya dengan klien mereka tersisa 45 menit lagi.
Belum di potong waktu perjalanan mereka yang terbilang jauh dari tempat perjanjian.
Melihat kondisi Keisha yang tak memungkinkan, Izra berinisiatif berangkat sendiri. Toh, dia sudah terbiasa menghadapi para klien dari perusahaannya.
Tapi keputusan itu di tentang oleh Keisha dengan keras. Bahkan Keisha sampai memegang tangan Izra agar tak meninggalkannya pergi.
"Bun, Bunda kan lagi sakit. Gak papa, biar aku aja yang ke sana. Bunda istirahat aja di rumah." Izra melepaskan genggaman tangan Keisha dengan lembut, berusaha meyakinkan wanita itu agar tetap percaya padanya.
Tapi sayangnya, Keisha tampak enggan. Karena bagaimanapun juga, Izra masih terlihat kecil dan tidak akan sanggup menghadapi hal seperti pertemuan klien seorang diri. Terlebih lagi, ini adalah proyek besar. Keisha semakin tak bisa melepaskan Izra sendirian.
Setelah ribut 5 menit, seorang lelaki dengan seragam sekolahnya datang dengan membawa paper bag coklat berisikan buku baru yang dia beli di perpustakaan beberapa saat yang lalu.
Alva berlalu masuk ke dalam rumah, memperhatikan keributan di depan pintu dengan tatapan tak acuh.
"Drama apa lagi hari ini?" batin anak lelaki itu, berjalan masuk ke kamarnya dan segera mengganti baju.
10 menit, berkecimpung di kamarnya. Kini Alva kembali turun dan menatap keributan yang ada dengan tatapan lelah.
Rencana tak jadi ke kantornya spontan batal melihat wajah pucat Keisha yang menahan sakit, dan wajah Izra yang panik karena waktu pertemuan mereka sudah mendekati jadwalnya.
"Aku sudah siap. Jadi hentikan pertengkaran ini, Bunda. Biar aku dan Izra yang menangani tender kali ini!" ucap Alva, membuat cengkeraman Keisha lepas dari pergelangan tangan Izra.
"Kamu yakin?" tanya Keisha, tampak sungkan.
Karena tak biasanya Alva mengambil cuti, jadi Keisha merasa sangat bersalah saat merepotkan anak pertamanya hari ini.
"Mau bagaimana lagi? Bunda sakit, tapi pertemuan itu tak bisa di serahkan ke pihak lain begitu saja. Harus ada pihak keluarga yang mendampingi!" jelas Alva, merapikan sedikit rambutnya yang tidak tertata baik karena dia tam memiliki waktu cukup untuk berdandan.
"Maafkan Bunda, Alva."
Keisha hanya diam dan mengulas senyuman masam. "Maaf ya," cicitnya, sekali lagi. Saat kedua putranya hendak pergi.
"Tak apa, Bun. Kami berangkat dulu. Assalamualaikum."
Setelah mengucap salam dan bersalaman dengan Keisha, kedua anak lelaki itu pergi meninggalkan rumah. Meninggalkan Keisha yang masih dalam keadaan mual.
"Anda sudah merasa lebih baik?" tanya Aren, membuat Keisha menoleh padanya dan menggelengkan kepalanya pelan.
"Tidak mungkin aku baik-baik saja. Perutku sangat sakit. Padahal aku tidak makan pedas, kamu bisa tolong panggilkan dokter?"
Aren mengangguk singkat dan menyerahkan Keisha pada Kevin.
"Anda masuk saja, saya akan memanggil beliau dan mengantarnya ke kamar Anda setelah beliau datang," ucap Aren, dengan sopan.
Keisha hanya mengangguk dan pergi meninggalkan lantai itu dengan bantuan Kevin, yang setia memapah langkahnya.
***
Alva dan Izra duduk di salah satu meja yang telah mereka reservasi beberapa saat yang lalu.
Tapi klien mereka tak kunjung datang, walau mereka telah menunggu selama 1 jam lamanya.
Alva sudah hendak pergi karena perlakuan tak sopan ini. Tapi Izra tetap menahannya dan berusaha keras untuk membuat sang Kakak tenang.
"Sudah? Ini sudah satu jam. Mereka tak datang-datang. Kamu masih mau menunggu?" tanya Alva, tampak tak bersahabat.
Wajah yang sudah di tekuk dengan kedua tangan yang di lipat di depan dada, membuat Izra menghela napas lelah dan memilih menurut.
"Oke, kita pergi." Izra bangkit, tapi seorang wanita segera datang dengan wajah pucat dan paniknya.
Keringat dingin sudah membasahi wajahnya. Bajunya juga sudah tak terlalu rapi. Sangat tidak cocok di gunakan di acara formal seperti pertemuan bisnis.
Melihat penampilan mitra mereka ini, Alva sudah sangat tidak suka. Dia sudah ingin pergi saja dari sana.
"Anda berlari?" tanya Izra, menyodorkan segelas air dan membiarkan wanita itu duduk.
Hal itulah yang menahan langkah Alva. Sikap dewasa dan peduli pada sesama tanpa mementingkan keegoisannya.
"Maafkan saya. Saya terlambat karena jalanan sangat macet. Padahal saya sudah naik motor ke sini, tapi ada kecelakaan kerja di bangunan baru yang jaraknya 1 km dari sini." Wanita itu berusaha menjelaskan walau suaranya sedikit sumbang karena napas yang belum teratur dengan benar.
Izra menatap Alva, memandang perubahan wajah Kakaknya setelah mendengar penjelasan itu.
"Jadi Anda berlari ke sini? Mangkanya penampilan Anda–"
Wanita itu segera menatap kemejanya yang sudah tak karu-karuan itu dengan tatapan malu.
"Ma-maafkan saya, saya izin ke toilet sebentar kalau Anda berdua tak keberatan. Hanya 5 menit."
Izra mengangguk ramah dan mempersilahkan wanita itu pergi. "Kamu lihat? Semua orang bertindak tak sopan bukan karena tak punya attitude, Kak. Melainkan karena mereka–"
"Iya ... iya ... cerewet sekali!" pekik Alva, membuat Izra terkekeh geli dan diam setelahnya.