
"Selamat datang Keisha!" teriak seorang wanita berusia lebih dari 50 tahun, berlari memeluk Keisha yang berdiri di depan ruang kantor lamanya.
"Apa kabar, Bu. Saya rindu," ucap Keisha, benar-benar memeluk wanita paruh baya itu dengan erat.
"Ibu juga merindukan kamu, Kei. Sudah lama tidak bersua, ternyata kamu datang dengan calon suami kamu," ucap Atifah, menatap Fauzan yang berdiri di samping Keisha dengan senyuman lembut ketika di sindirnya.
Atifah melepaskan pelukannya dari Keisha dan berlanjut ke arah Fauzan, yang siap mendapatkan ramah-tamah darinya.
"Kapan kalian akan menikah? Ibu di undang, bukan?" tanya Atifah, langsung pada Fauzan yang mencium tangannya.
"Tentu, Bu. Saya akan mengundang semua orang yang ada di panti asuhan ini. Saya harap Ibu dan anak-anak tidak keberatan datang ke pesta pernikahan kami," ucap Fauzan, mengeluarkan sebuah undangan yang sudah dia simpan di balik jasnya.
Atifah tersenyum haru melihat betapa cantik desain undangan pernikahan itu. Dari sana dia dapat bersyukur karena Keisha mendapatkan calon orang yang berada dan tampaknya terkenal juga di media sosial.
"Maaf, wajah Anda tidak asing untuk Ibu. Apa kita pernah bertemu di suatu tempat?" tanya Atifah, menatap Fauzan cukup lekat, untuk mengingat tentangnya.
Keisha dan Fauzan saling memandang. Mereka merasa cemas, lantaran keduanya sudah sepakat jika keduanya tidak akan menyinggung tentang Keisha akan menjadi istri kedua Fauzan. Lalu bagaimana keduanya menjawab pertanyaan ini?
"Em ... mungkin Ibu salah mengenali. Wajah Mas Fauzan memang pasaran, hahaha ...," pekik Keisha, tertawa hambar.
"Pasaran?" batin Fauzan, sedikit kesal saat Keisha mengatakan hal tersebut.
Tapi Fauzan tahu jika dirinya tak bisa melakukan apa pun. Bahkan, mungkin saja celetukkan menyakitkan itu adalah jalan keluar yang terpikir oleh Keisha ketika keduanya sedang kepepet. Jadi ya, bisa apa dirinya?
Fauzan hanya bisa menghela napas panjang dan menatap wajah Atifah yang terlihat bahagia melihat Keisha bersanding dengannya.
"Kalian berdua sangat cocok. Keisha yang cantik, dan Fauzan yang tampan. Kalian benar-benar cocok, Nak!" seru Atifah, bersemangat dan bahagia.
"Terima Kasih, Bu. Tapi, apa kita tidak boleh masuk? Dari tadi di biarkan di sini," cibir Keisha, membuat Atifah tersadar akan ke tidak sopannya kepada tamu.
"Eh, iya ... maaf. Ayo masuk, silakan Nak," seru Atifah, mempersilahkan keduanya masuk untuk berbincang-bincang.
***
Fuuhh ....
Fauzan menoleh padanya dan terkekeh. "Kenapa kamu terlihat tertekan, Kei? Dari tadi kamu tidak bisa santai, padahal Bu Atifah sudah seperti Ibu untuk kamu, bukan?" tanyanya, penasaran.
"Karena itu saya merasa semakin tegang, Pak. Anda saja tidak tahu, jika Ibu saya itu sangat pandai membaca gerak-gerik orang. Dia lulusan ilmu psikologi, dia sangat pandai membaca ekspresi seseorang!" jelas Keisha, membuat Fauzan semakin terbahak-bahak.
"Kamu lupa jika saya juga lulusan bidang itu? Karena itu dari tadi saya tidak tegang dan mengikuti permainan, hahh ... dasar kamu, Keisha! Yang penting hari ini kita tidak ketahuan," celetuk Fauzan, ikut merasa lega.
"Benar, Pak. Itu yang terpenting," sahut Keisha, setelah itu keduanya kembali diam dan sibuk dengan pemikirannya masing-masing.
Tapi di satu titik, Fauzan menatap Keisha yang terus menatap keluar jendela sampai menoleh ke belakang saat mereka melalui sesuatu.
"Kamu mau makan itu?" tanya Fauzan, membuat Keisha terkejut dan segera menoleh kepadanya.
"Apa boleh? Nanti Anda semakin terlambat pulang jika kita berhenti di sini. Kata Anda, Anda tidak ingin pulang terlambat karena takut Mbak Aina menunggu terlalu lama," cicit Keisha, menghela napas panjang sambil menundukkan kepalanya dalam.
Fauzan menyalakan lampu sen agar mereka bisa menepi dan turun. "Tidak apa. Aina akan mengerti jika aku bilang kamu sedang mengidam. Ibu hamil memang seperti itu. Dia pasti bisa mengerti," jelasnya, berjalan turun di ikuti Keisha.
"Sungguh?" tanya Keisha, masih tak yakin.
"Iya. Ayo, jangan ragu-ragu seperti itu dan membuat waktu saya terbuang semakin banyak," tegur Fauzan, sambil menghela napasnya panjang.
Keisha segera mengangguk dan mengikutinya. "O-oke, tunggu saya!"
...Candra Tristan Fauzan...
...(Fauzan) ...
...Berusia 35 tahun. Seorang CEO perusahaan TA yang mendalami tentang Teknologi Komunikasi. ...
...Penyayang adalah sikap alaminya. Tapi karena wajahnya yang ketus, banyak orang yang menganggapnya dingin dan sering di jadikan target pelakor yang ingin menguji seberapa pintar mereka dalam menghasut lelaki. Dan salah satunya adalah Keisha, yang berhasil mencetak golnyaš¤....