Don'T Be The Antagonist

Don'T Be The Antagonist
Nasehat Bunda



"Terima kasih, Sus," ucap Keisha, menerima kembali kartu tabungannya dengan berat hati.


"Keisha, bagaimana dengan Nuri?" seru seorang wanita, berlari ke arahnya dengan suaminya.


Aina langsung menggenggam kedua tangan Keisha dengan erat, menatap wanita itu dengan tatapan cemas.


"Nuri baik-baik saja, Mbak. Dia sedang di bawah ke ruang operasi oleh dokter. Operasinya akan segera dimulai 15 menit lagi," ucap Keisha, menjelaskan.


Aina yang mendengar itu langsung menghela napas lega dan berterima kasih kepadanya.


"Baiklah, aku akan pergi ke sana. Lalu di mana Alva?" tanya Aina, dengan suara gemetar, akan benar-benar bersalah karena tidak bisa menerima panggilan telepon dari putra sulungnya.


"Alva sedang mencari minuman bersama Mbak Vina, Mbak. Mbak Aina lebih baik tenangkan diri dulu, semuanya baik-baik saja di dalam kendali dokter. Jangan cemas dan bernapaslah dengan benar," pinta Keisha, sambil membantu Aina mencontohkan cara bernapas dengan sabar.


Aina dengan spontan mengikuti pergerakan Keisha, dan beberapa saat kemudian dia sudah bisa mengatur ritme napasnya dengan baik.


"Nah, bagus. Jika Mbak ingin menemani Nuri, Mbak bisa pergi ke lantai 3, di ruang operasi nomor 2. Nuri akan dibawa ke sana oleh para dokter," ucap Keisha, segera membuat kedua kaki wanita itu kembali melangkah pergi.


Keisha menghela napas panjang dan menatap ke arah Fauzan yang masih setia menemaninya di sana dengan terus menatapnya.


"Ada apa?" tanya Keisha, menatap lelaki itu dengan tatapan bingung. Karena sedari mereka berdua datang, Fauzan sudah memfokuskan diri untuk melihatnya.


Fauzan menggelengkan kepalanya pelan dan berjalan berdampingan dengan Keisha, menuju tempat yang dituju oleh Aina saat ini.


Kedua orang itu melangkah dengan santai. Dan tidak akan terburu-buru karena Keisha sedang mengandung muda. Pergerakan yang terlalu aktif tidak baik untuk bumil muda, karena itulah Keisha tidak berlari mengejar langkah Aina.


"Terima kasih. Nanti uang tabungan yang kamu gunakan untuk membayar kamar dan biaya operasi Nuri, akan aku ganti. Jadi jangan menangis di dalam hati," ucap Fauzan, benar-benar peka akan hal itu.


Keisha yang mendengar itu, langsung menganggukkan kepalanya antusias. "Terima kasih, tadi aku kira uang tabungan yang sudah aku kumpulkan selama 2 tahun akan habis karena satu masalah. Syukurlah jika akan diganti," ucapnya, menghela napas lega.


Fauzan terkekeh geli, menatap Keisha yang tampak tenang walaupun telah melewati badai besar dan mungkin memorak-porandakan isi hatinya, karena mengetahui kondisi sebenarnya dari anak bungsu Aina dan Fauzan.


"Kamu tidak ingin bertanya sesuatu kepadaku?" tanya Fauzan, mulai mengobrol dengan bahasa yang santai.


Keisha menoleh ke arahnya dengan menatapnya lama. Lalu dia menggelengkan kepalanya pelan dan kembali menatap ke depan


"Tidak, saya tidak akan bertanya pertanyaan yang privasi seperti itu. Karena kalian berdua tidak mengatakan apa-apa tentang keadaan Nuri kepada saya, yang sebentar lagi akan menjadi bagian dari kalian. Jadi saya tidak akan ingin tahu ataupun penasaran tentang hal itu. Mungkin saya akan mendengarkan jika kalian memiliki tekanan untuk menerangkannya sendiri," ucap Keisha, menolak sejarah halus.


Fauzan yang mendengar itu hanya mengangguk dan diam, tidak mengatakan apa pun kepada Keisha dan hanya terus menemaninya berjalan sampai ke ruang operasi.


"Ayah sudah datang? Bagaimana dengan Mama? Apa dia sudah di depan ruang operasi?" tanya Alva, saat tidak sengaja bertemu dengan Fauzan dan Keisha yang berjalan di lorong lantai 3, hendak pergi ke ruang operasi.


"Ya, Mama kamu sudah di depan ruang operasi. Kamu sudah tenang? Sepertinya kamu sangat panik saat membawa Nuri ke rumah sakit. Tadi Ayah di hubungi Pak RT jika kamu sampai menangis saat di mobil," ucap Fauzan, menata putra sulungnya yang tampak mengulas senyuman masam.


"Maaf, Ayah. Alva tidak bermaksud menangis. Tapi-"


"Aih, kenapa kalian berdua berpikir seperti itu? Padahal beban anak laki-laki sama beratnya dengan beban anak perempuan. Mereka sama-sama memiliki hati yang rapuh. Walaupun anak laki-laki cenderung lebih kuat, tapi terkadang menjadi kuat sangat melelahkan, bukan?" tanya Keisha, membuat Alva diam dengan tatapan tertegun.


Keisha yang mendapati tatapan hitung malah tersenyum tanpa beban.


"Dari pada melakukan hal yang aneh-aneh, lebih baik menangis saat kamu merasa stres, iya, kan? Daripada pergi merokok atau melakukan hal aneh lainnya, lebih baik menangis saja untuk melampiaskan emosimu. Jangan lebih memilih merasa gengsi, daripada merelakan dirimu yang rusak. Ya, itu hanya saran sih. Kamu tidak harus melakukannya," sambung Keisha, sebelum akhirnya berjalan pergi meninggalkan mereka.


Alva menaikkan sebelah alisnya, menatap sang ayah dengan tatapan penuh tipu muslihat.


"Ayah dengar itu? Lebih baik menangis saja daripada melakukan hal aneh-aneh. Aku lebih suka saran Bunda daripada saran Ayah yang menyesatkan!" celetuk Alva, sebelum akhirnya berlari meninggalkan Fauzan yang tampak tercengang karena perkataan putranya.


Mbak Vina hanya terkekeh pelan, menertawakan majikan yang terlihat syok karena ejekan dari anak lelakinya itu.


"Kenapa, Mbak Vin? Kamu menertawakan saya?" geram Fauzan, terlihat kesal.


Mbak Vina segera menggelengkan kepalanya dan menyusu langkah Keisha dan Alva yang pergi terlebih dahulu dan meninggalkan Fauzan seorang diri di sana.


Tiga jam berlalu sejak operasi berlangsung ....


Kini seorang dokter keluar dari ruang operasi dengan melepaskan masker dan topi operasinya.


Aina, dan orang-orang yang setia menunggu Nuri di depan ruang operasi, langsung bangkit dari tempat duduknya dan mendekat pada dokter tersebut.


"Bagaimana kondisi putri saya, Dok?' tanya Aina, menatap dokter itu dengan air mata yang sudah menetes membasahi pipinya.


Ekspresi doktor itu tampak tidak bersahabat, kedua alisnya yang mengurut samar, membuat mereka merasa sedikit cemas tentang kondisi Nuri di dalam sana.


"Tolong ikut dengan saya ke ruangan," ucap dokter tersebut, membuat Aina dan Fauzan berjalan pergi mengikutinya.


Sementara yang lain, tetap tinggal di depan ruang operasi untuk menunggu Nuri keluar dari sana dan dipindahkan ke bangsal VIP yang telah dipesan oleh Aina.


"Hah, aku harap tidak ada berita buruk lagi," gumam Alva, menatap kepergian ketiga orang tersebut dengan tatapan berat.


"Jangan berbicara terlalu banyak dan memperbanyak pikiran negatif. Berdoa saja untuk kesembuhan Nuri. Dia lebih membutuhkan itu daripada prasangka buruk kamu, Alva," ucap Keisha, menasihatinya.


Alva yang mendengar itu hanya menganggukkan kepalanya pelan dan menghela napas panjang.


Tidak berselang lama setelah kepergian sang dokter, Nuri yang masih berada di bawah pengaruh obat bius dibawa keluar oleh beberapa orang suster untuk dipindahkan ke bangsal.


Alva, Keisha dan Mbak Vina langsung mengikuti mereka tanpa banyak bicara.


"Lihatlah wajah yang pucat dan tubuh yang kurus itu. Bagaimana aku tidak pernah curiga jika dia mengidap penyakit yang langkah? Padahal dari tubuhnya yang ringkih saja, sudah terlihat. Hah ... kamu sungguh bodoh, Keisha," batin Keisha, menghardik dirinya.