
Fauzan membimbing langkah Keisha masuk ke dalam vila yang tak terpakai, tapi tetap di rawat dengan baik oleh beberapa pelayan di rumah ini.
"Saya sudah memanggil dokter keluarga untuk datang ke sini dan mengobatimu." Fauzan membuka pintu rumah, dan membiarkan Keisha masuk ke dalam. "Jika kamu butuh sesuatu, panggil saja Mbak Vina dan Mas Gintara. Mereka akan membantumu," jelasnya.
Keisha hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya pelan. Dia berjalan mendekati sebuah foto keluarga yang tampak asing di dinding. Di pajang dengan pigura besar dan megah.
"Ini siapa?" tanya Keisha, menoleh pada Fauzan yang tampak sibuk membuka kain putih yang menutupi beberapa perabotan di sana.
"Itu foto keluarga Aina. Dulu ini adalah tempat kedua orang tua istriku tinggal! Tapi sekarang mereka sudah tidak di sini dan ikut keluarga Kakaknya di Jakarta," jelas Fauzan, tanpa menatap lawan bicaranya.
"Nyonya mirip mendiang Ibunya ternyata," gumam Keisha, membuat Fauzan tersenyum lembut.
"Kamu benar, istriku sangat mirip Ibunya. Terlepas dari mata dan hidung Ayahnya, semua yang melekat pada Aina sama persis dengan Ibunya," ucap Fauzan, seakan benar-benar tahu hal itu.
"Saya tidak akan mengganggu kehidupan pernikahan Anda setelah kita menikah, saya bisa berjanji! Tapi–" Keisha menoleh pada Fauzan dengan tatapan miris. "Tolong perlakukan saya dengan baik di depan orang-orang untuk menjaga nama saya," ucapnya, seakan memohon.
Fauzan diam, menatap gadis yang berusia 5 tahun lebih muda darinya, menatapnya dengan tatapan putus asa.
"Sebenarnya kenapa kamu melakukan perbuatan buruk seperti itu kepada saya? Apa yang mendorong kamu untuk memaksa saya memiliki hubungan dengan kamu, Keisha?" tanya Fauzan, tampak serius, tapi tak menatapnya dengan tajam.
Tatapan Fauzan terlihat teduh dan lebih terkesan sedih, dan sakit hati. "Sebenarnya apa alasan kamu menginginkan pernikahan ini? Naik kasta? Bukankah seharusnya kamu menargetkan Kakak saya, Fadil, jika kamu menginginkan itu? Kenapa malah memilih saya?" tanyanya, parau.
Keisha memalingkan wajahnya, menatap kembali potret keluarga Aina dengan senyuman sendu.
"Mungkin kamu menganggap saya gampangan karena saya selalu baik padamu. Saya minta maaf, mungkin perhatian saya membuat kamu salah paham. Namun itu murni hanya sebatas memperhatikan teman sekaligus rekan kerja terdekat saya," ucap Fauzan, panjang.
Fauzan menundukkan kepalanya dalam, merasa bersalah sekaligus tak berdaya. "Mungkin saya juga yang membuat kamu seperti ini. Sungguh maafkan saya, Keisha."
Keisha hanya diam. Tak menjawab perkataan itu atau menunjukkan respons positif akan pernyataan dan permintaan maaf itu.
"Sebaiknya Anda lekas pergi. Saya akan menjaga diri di sini. Terima kasih sudah membiarkan saya tinggal di sini, Pak." Keisha menundukkan kepalanya dalam, sebelum akhirnya berjalan pergi meninggalkan Fauzan di sana.
Fauzan menghela napas panjang, menatap Keisha yang masuk ke dalam salah satu kamar secara random dengan tatapan berat.
"Tuan," panggil seorang wanita, berjalan dengan terburu-buru sambil membawa 2 kantung keresek merah besar.
"Ma-maaf saya terlambat. Sa-saya baru saja pulang dari pasar dengan Mas Gintara," ucap Mbak Vina, meminta maaf dengan napas tersengal-sengal.
"Tidak apa, Mbak." Fauzan menatap kamar yang di masuki Keisha dengan tatapan lelah. "Saya titip calon istri saya di sini, ya! Aina yang memintanya tinggal di sini, jadi tolong perlakukan dia dengan baik."
Mbak Vina yang setengah kaget, hanya bisa menatap Fauzan dengan kedua mata membulat sempurna.
Fauzan mengerti rasa terkejut itu. Dia hanya menghela napas panjang dan berjalan keluar vila. "Pokoknya saya titip, nanti saya akan berkunjung dengan Aina jika masalahnya sudah beres semua."
"Ba-baik, Tuan. Selamat jalan."