Don'T Be The Antagonist

Don'T Be The Antagonist
Kesalahan (4)



Sruk ....


Aina melepaskan pelukan suaminya dan menatap Fauzan dan Keisha dengan tatapan tidak enak hati.


"Maafkan aku. Sikap kakak benar-benar jahat. Maafkan aku, Keisha. Padahal yang mengundang kalian kemari adalah aku, tapi aku malah membuat kalian menjadi bahan tontonan dan pembicaraan keluargaku. Aku benar-benar minta maaf pada kalian berdua," ucap Aina, menyeka keringatnya yang jatuh dari pelipisnya.


Wajah Aina sudah semakin pucat, membuat Fauzan dan Keisha lebih mencemaskan kondisinya daripada rasa sakit hati mereka.


"Pak- eh, Mas ... sebaiknya kamu bawa Mbak Aina masuk ke dalam rumah duluan-"


"Kamu? Ayo masuk bersama kami. Kamu mau pergi ke mana, Kei? Ayah dan keluargaku yang lain sudah menunggu kamu di dalam. Aku mengundang kalian berdua karena Ayah ingin bertemu dengan kamu, Keisha," ucap Aina, menatap wanita cantik berambut panjang itu dengan tatapan berharap.


Keisha tentu saja tidak bisa menolak. Apa lagi, jika itu adalah permintaan Aina, seorang wanita yang sudah bersikap sangat baik kepadanya.


"I-iya, Mbak. Nanti aku akan menyusul kalian masuk. Mbak dan Mas Fauzan bisa masuk dulu untuk menyapa keluarga di dalam. Aku akan segera menyusul nanti," ucap Keisha, beralasan.


Tanpa banyak bicara, Aina langsung menggenggam tangan Keisha dan menariknya untuk mengikuti mereka pergi.


Fauzan juga tampak diam, karena dia menyetujui keputusan Aina. Mendukung sikapnya yang terlihat seperti kekanak-kanakan.


Klek ....


Aina masuk ke dalam rumahnya, melihat beberapa orang yang berdiri di balik pintu, dengan situasi yang tidak baik.


Tampaknya Ardi sedang memarahi kakak lelakinya, karena sudah bersikap tidak sopan pada tamu dan membuat Aina memiliki penyebutan pikiran.


"Ayah," panggil Aina, membuat lelaki berusia 70 tahun itu menoleh padanya dengan cepat, sambil mengulas sebuah senyum.


"Ya, Nak. Apakah kamu sudah datang? Oh, ternyata ini orangnya. Sangat cantik," ucap lelaki berusia 70 tahun, yang tampak awet muda itu tersenyum pada Keisha.


Keisha tersenyum dengan canggung, melihat anggota keluarga besar Aina dengan tatapan teliti, melihat siapa saja yang berdiri di sana untuk menyambutnya.


"Aku sudah mengira, Ibu Mbak Aina pasti tidak menyetujui pernikahan ini. Ah, aku harus siap-siap mendapatkan serangan dari dia!" batin Keisha, mulai waspada.


"Masuk, Nak. Kenapa kamu melihat-lihat sampai seperti itu? Kapan ada orang yang berani marah padamu, selama aku di sini. Aku akan menjamin keselamatan mental kamu" ucap Ardi, dengan ramah.


Keisha hanya tersenyum malu dan berjalan masuk, dibimbing oleh seorang wanita yang terlihat cantik ketika menggunakan cadar.


"Kamu masih terlihat sangat mudah dan cantik. Bolehkah aku tahu berapa usiamu?" tanya wanita itu, dengan suara yang lembut.


Keisha yang mendengarnya sampai merasa terkesima, dan tidak fokus melihat ke arah depan.


"Usia saya 27 tahun, Mbak.," jawab Keisha, tanpa sadar seperti meniru suara lemah-lembutnya.


"Padahal aku juga seorang wanita. Tapi bisa-bisanya aku malu melihatnya," celetuk Keisha, pada dirinya sendiri, di dalam hati.


"Tidak perlu bersikap pegang seperti itu, Keisha. Namaku, Ana. Kamu bisa memanggilnya Mbak Ana. Salam kenal ya," ucap Ana, mengeluarkan tangannya ke arah Keisha.


Keisha segera menjabat tangan tersebut dengan sopan. "Ah, salam kenal juga, Mbak Ana."


"Bunda," panggil seorang anak lelaki berusia 17 tahun, sedang berdiri di dekat meja makan, seakan tengah menunggu kedatangan Keisha.


Rafa langsung mengurutkan keningnya dalam, menatap tidak senang kehadiran Alva dan Keisha secara bersamaan.


Tapi lelaki itu tidak bersuara, dan hanya diam mengacuhkan kedua orang, yang sama sekali tidak dapat dia terima kehadirannya! Di rumah ini.


"Alva? Bukannya tadi kamu masih di rumah? Kenapa tiba-tiba sudah ada di sini?" tanya Keisha, masih dengan suara kalem.


Alva yang mendengar suara Keisha begitu lembut, langsung menatap Aina dan Ana secara bergantian, seakan memberikan kode kritik mengenai sikap Keisha yang begitu lembut itu.


Keisha yang menyadari hal itu langsung menatap Alva dengan tatapan datar. "Jangan mengejek, Bunda!" ucapnya, penuh penekanan.


Lantas orang-orang yang mendengar itu hanya tertawa kecil, sambil beranjak duduk di kursi yang ada di meja makan.


Fauzan mempersilahkan Keisha untuk duduk di sebelahnya, setelah dia membenarkan tempat duduk untuk Aina.


"Duduk saja di sini," ucap Fauzan, saat menarikan kursi untuk Keisha.


Keisha menganggukkan kepalanya dan mengucapkan terima kasih sambil berbisik pelan, karena dia tidak ingin mengganggu ketenteraman di meja makan di mana mesra mereka berdua.


Ya, menurut Keisha, ini adalah satu-satunya tempat yang tidak pantas untuk digunakan sebagai panggung kemesraan mereka.


Jadi sejak awal masuk ke dalam rumah ini, Fauzan dan Keisha memutuskan untuk menjaga jarak, untuk sekedar menghargai keluarga Aina, yang mungkin menentang pernikahan mereka.


Keisha menatap lurus ke arah kursi yang ada di depannya. Kursi yang sengaja dibiarkan tidak berpenghuni, walaupun di depannya tersedia piring kosong.


Ardi tersenyum lembut saat kedua manik matanya tidak sengaja berpapasan dengan tatapan Keisha.


"Ini kursi istriku. Tapi dia sudah berpulang sejak anak-anakku masih kecil. Aku harap kamu tidak keberatan untuk menyediakan suatu kursi kosong untuknya," ucap Ardi, hanya mendapatkan anggukkan antusias dari Keisha.


Keisha terdiam beberapa saat, sebelum memalingkan pandangannya ke arah Aina yang terus memastikan kenyamanan dirinya, dari jauh.


"Jadi dia tidak punya Ibu?" batin Keisha, entah kenapa merasa bersalah. Karena sudah berprasangka buruk, pada wanita yang bahkan tidak bisa menemuinya.


"Huff, hatiku jahat sekali," batin Keisha, menghardik dirinya sendiri.