
Aina terbangun di tengah malam, menatap suaminya yang terlelap di sampingnya, memeluknya dengan lembut sambil meneteskan air matanya.
Aina mengusap air mata itu, mengecup pipi Fauzan dan membuatnya terbangun.
"Kenapa sudah bangun? Ini masih pukul 12.30 malam, sayang." Fauzan membelai wajah Aina dan kembali memeluknya dalam tidur.
"Aku ingin sholat malam, Mas. Bisa lepaskan aku? Aku ingin mengeluh pada Tuhan," ucap Aina, mendorong pelan tubuh Fauzan, berusaha melepaskan diri darinya.
Fauzan melepaskannya, dan dia ikut bangun dari posisi tidurnya. "Aku juga akan sholat malam. Sama seperti kamu, aku juga ingin bercerita pada Tuhan," ucapnya, berjalan pergi ke kamar mandi.
Aina menghela napas dalam, bangkut dari tempatnya dan keluar dari kamar tidurnya.
Dia berjalan ke dapur untuk mengambil minum. Tapi di meja makan, dia malah melihat kedua putranya yang tengah mengobrol dengan mengenakan pakaian koko, lengkap dengan sarung dan peci.
"Kalian?" seru Aina, membuat keduanya menoleh dan tersenyum lembut.
"Habis sholat malam, Ma. Izra juga mau keluar, katanya. Mau ke rumah Bunda," ucap Alva, memberitahukan hal tersebut pada sang Ibu.
Izra menepuk keningnya ampun, melihat kakak lelakinya yang usil karena mengatakan hal yang seharusnya menjadi rahasia mereka, kepada Aina.
Aina mengerutkan keningnya dalam, menatap Izra dengan tatapan bertanya-tanya. "Kenapa kamu mau ke rumah Bunda jam segini? Tidak sopan bertamu di jam ini, Izra!" tegurnya, kalem.
Izra menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, menatap Aina dengan tatapan sungkan.
"Baiklah, aku tidak akan pergi ke sana. Aku balik tidur aja," ucap Izra, bangkit dari tempatnya dan berjalan masuk ke kamarnya.
Aina menggelengkan kepalanya ampun dan mengalihkan pandangannya pada Alva, sambil dia menuang segelas air untuk di minum.
"Kenapa adikmu ingin pergi ke Bunda jam segini? Ada masalah di rumah sana?" tanya Aina, pada anak sulungnya.
Alva menatap ke arah jam dinding, yang ada di atas lemari pendingin. "Bunda minta tolong di ajarkan sholat malam. Bunda tidak bisa sholat dan mengaji. Tapi dia mau belajar dari Izra. Hem, mungkin Mbak Vina yang bilang kalau Izra pernah mencalonkan diri jadi Hafiz," jelasnya, panjang.
"Memangnya kamu tidak pandai mengaji? Biasanya Bunda selalu hubungi kamu duluan, kan? Kenapa sekarang jadi ke Izra?" celetuk Aina, membuat Alva menggidikkan bahunya tak tahu.
"Kalau begitu Alva masuk dulu ya, Ma. Ada yang mau di kerjakan. Tapi habis sholat, memang ada rencana begadang selesaikan tugas. Biar hati minggu bisa main sama anak-anak," ucap Alva, sambil menaik-turunkan kedua alisnya.
Aina hanya mengacak rambut Alva gemas, dan membiarkan anaknya masuk ke dalam kamarnya.
Setelah tempat itu menjadi sepi, Aina teringat kembali pada putrinya dan menangis dalam diam. Berusaha menguatkan hatinya, dengan kepergian anak kandung semata wayangnya itu.
"Kamu kuat, Aina!" batin Aina, menguatkan diri sendiri.
***
"Hari ini aku akan berangkat, ya ... aku pergi sendiri. Mas Fauzan tak bisa mengantar karena ada meeting dulu. Nanti kami akan bertemu di sana," ucap Keisha, menyeret kopernya memasuki bandara dan berbicara dengan seseorang di telepon.
"Biar saya bantu, Nyonya," ucap seorang pramugari, menghampiri Keisha yang tampak kesulitan meletakkan kopernya ke dalam lift bagasi.
"Terima kasih," ucap Keisha, bersamaan menutup teleponnya.
Dan seorang lelaki menepuk pundaknya dan membuat Keisha menoleh padanya dengan cepat.
"Hai, apa yang kamu lakukan di sini?" tanya lelaki itu, berusaha akrab dengan Keisha yang tampak kaget dengan kehadirannya.
"Kenapa dia di sini? Apes sekali nasibku," batin Keisha, menatap lelaki berkaca mata dengan tinggi 180 cm itu, masam.
"Aku akan bulan madu dengan suamiku. Aku duluan," ucap Keisha, berusaha menghindarinya.
Tapi lelaki itu segera mengejarnya, ikut naik ke pesawat yang sama dengan Keisha.
Keisha meliriknya, menatapnya dengan tatapan tak nyaman. Dia segera membuka aplikasi pesan dan mengetikkan sesuatu di sana.
Mencoba menghubungi Fauzan walaupun tak seharusnya Keisha melakukan itu, jika tahu Fauzan sedang sibuk saat ini.
Kling ....
Suara notifikasi itu terdengar kencang, di belakang Keisha. Membuatnya menoleh dan menatap Fauzan yang entah kenapa ada di belakang lelaki, yang mengikuti Keisha ini.
"Kenapa kamu mengirim pesan, sayang?" tanya Fauzan, berjalan mendekati Keisha dan melalui lelaki pengganggu itu, begitu saja.
Keisha menghela napas lega, segera menggandeng tangan Fauzan dan duduk di bangku mereka, yang ternyata di pesan bersebelahan.
"Untung saja kamu datang, Mas. Jika tidak, mungkin aku hanya akan sampai di penerbangan tanpa bisa bertemu kamu di sana," celetuk Keisha, menghela napas lega berulang kali.
Fauzan menatap lelaki yang duduk di depan mereka, bagian samping, dengan tatapan menyelidik. "Memangnya dia siapa? Sampai membuat kamu begitu takut," ucapnya, penasaran.
"Dia stalkerku saat SMA dulu. Hah, aku hampir pindah sekolah karena dia. Lalu, kenapa kamu di sini, Mas? Bukannya seharusnya di ruang rapat dengan klienmu?" tanya Keisha, balik merasa penasaran.
Fauzan menghela napas, menyandarkan punggungnya di kepala kursi sambil menatap Keisha dengan tatapan datar.
"Jangan bertanya tentang hal yang sudah jelas! Aku yakin kamu juga tahu jawabannya," pekik Fauzan, tampak kesak karena dia harus melewatkan jadwal rapat pentingnya pagi ini.
Keisha terkekeh, sudah jelas! Alasan Fauzan ke sini adalah karena Aina yang menyuruhnya datang. "Kenapa tidak menolaknya? Kamu berhak menentang keputusan Mbak Aina, kan?"
"Iya, aku berhak. Tapi aku terlalu bucin untuk menentangnya. Kamu kan juga tahu itu," pekik Fauzan, merasa lelah sendiri.
Keisha terbahak-bahak, menertawakan Fauzan yang tak pernah berdaya di hadapan Aina. "Syukurlah kalian berdua baik-baik saja setelah kejadian kemarin. Aku lega melihatnya."
"Siapa yang kamu sangka baik-baik saja, Kei? Kami hanya berusaha melaluinya saja, sebenarnya sih tidak baik-baik saja!" jawab Fauzan, tampak lelah.