Don'T Be The Antagonist

Don'T Be The Antagonist
Debat Dulu



Menatap pantulan dirinya di cermin, Keisha tampak tak bahagia walau dia tengah mengenakan pakaian pengantinnya.


Hari ini adalah pernikahannya. Hari yang paling Keisha tunggu setelah 3 minggu merencanakan semuanya.


Tapi kenapa hatinya lebih berat untuk melangsungkan impiannya? Mata merah dan mata sembab masih menghiasi wajah cantiknya.


Pikirannya sedang tidak fokus. Dia tak bisa memikirkan dirinya sendiri saat ini.


Hahhh ....


Keisha menghela napas panjang, menatap perutnya yang mulai membesar dari beberapa minggu yang lalu.


Keisha mengelus permukaan perutnya lembut, mengulas senyuman masam dan kembali menangis dalam diam.


"Kenapa Bunda enggak bahagia ya, Nak? Padahal ini yang Bunda mau, kan?" gumam Keisha, berbicara pada calon anaknya di salam perut.


Klek ....


Seorang lelaki masuk, menatapnya yang terburu-buru menyeka air matanya dengan tisu, dan membenarkan make upnya secara mandiri, dengan cepat.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Fauzan, menatap mempelai perempuannya yang kesulitan mengukir senyum sejak pagi.


Keisha hanya diam, tak bisa tersenyum dan hanya sibuk membenahi hatinya untuk semakin tabah.


"Anda, bagaimana perasaan Anda?" tanya Keisha, menatap lekat kedua manik Fauzan yang menatapnya masam.


"Tidak apa, Kei. Jangan menyalahkan dirimu. Aina yang meminta kita pergi, percaya saja pada dia. Semua pasti akan baik-baik saja. Percayalah padanya, ya?" ucap Fauzan, berusaha menenangkannya.


Keisha mengangguk, menatap beberapa orang masuk ke dalam sana dengan senyuman bahagia.


"Wah, cantiknya menantu kedua Mama," ucap Mama Fauzan, mengulas senyuman lebar, seakan menyambut Keisha dengan baik.


Keisha melakukan hak serupa, bersikap akrab dan mengulas senyuman cantik di depan mereka, sekedar tidak ingin mempermalukan  Ibu Mertuanya di depan teman-temannya.


"Iya, menantu kamu yang ini lebih cantik. Aku lebih suka melihat yang ini dari pada yang pertama," celetuk seorang wanita, berambut pendek.


Keisha langsung kehilangan senyumannya, begitu pula dengan Fauzan yang langsung melemparkan tatapan dingin padanya.


Fatimah hanya tersenyum masam, menanggapi cemoohan salah seorang temannya, kepada menantu pertamanya, Aina.


Keisha menatapnya tajam nan dalam, membuat beberapa orang di depannya merasa canggung dengan perubahan ekspresinya itu.


"Apa yang Anda suka dari saya? Karena cantik?" tanya Keisha, dengan tatapan datar. "Asal Anda tahu, saya belum tentu bisa mendidik anak sebaik Mbak Aina mendidik anak-anaknya. Saya tidak bisa mengaji, sayap tidak bisa memasak, saya tidak bisa melakukan pekerjaan rumah dan saya tidak pernah mendalami agama saya!"


Keisha membuat orang-orang itu menelan ludahnya susah. "Lalu kenapa Anda lebih menyukai saya dari pada Mbak Aina yang jelas-jelas lebih baik dari saya? Karena wajah?" Keisha tersenyum simpul. "30 tahun dari hari ini, wajah ini akan menjadi seperti Anda. Keriput dan jelek! Jangan membanggakan kecantikan fisik yang mudah pudar jika tidak di imbangi dengan uang! Kecantikan ilmu lebih bisa mendewasakan anak-anak, Nyonya!"


Selesai sudah, Keisha membuat semua orang menjadi canggung karena sikapnya yang frontal.


Siapa yang akan mengira jika orang yang seharusnya menjadi musuh istri pertama, akan sangat menyayangi sosok Aina?


Mereka salah menilai Keisha hanya karena alasannya menerobos masuk ke dalam keluarga Fauzan. Alhasil, merekalah yang terkena bom cabai dari mulut Keisha.


"Aku hanya berpendapat, kenapa kamu terlihat angkuh? Kamu tidak punya sopan santun?" wanita berambut pendek itu melipat kedua tangannya di depan dada, menunjukkan wajah permusuhan pada Keisha. "Apa orang tua kamu tidak mendidik kamu dengan baik?" celetuknya, membuat Keisha semakin menatapnya datar.


"Haruskah Anda membawa kedua orang tua saya?" Keisha menatap murka. "Sebagai anak yang tidak memiliki orang tua, saya merasa kesal mendengarnya. Kenapa Anda tidak sopan sekali? Bukankah saya mengundang Anda untuk menjadi tamu? Bukannya pendebat atau pembanding seseorang?" pekiknya, angkuh.


Fatimah menatap Fauzan yang tampak bingung dengan sikap Keisha yang terus berusaha memojokkan teman Fatimah itu.


"Padahal masalah ini akan selesai jika kamu tersenyum saja. Kenapa malah memperumit segalanya?" ucap suami dari wanita itu, menggelengkan kepalanya ampun, setelah mengkritik Keisha.


Keisha tersenyum tidak percaya. Wajahnya yang tampak menyebalkan, membuat teman-teman Fatimah semakin benci padanya.


"Astaga, kenapa juga aku harus mendapatkan perlakukan tidak adil di hari– hemp!"


Fauzan membekap mulut Keisha, dan membuat gadis itu memelototkan matanya pada sang calon suami.


"Sudah, diamlah, sayang. Mama, tolong bawa teman-teman Mama keluar juga kalian sudah melihat betapa cantiknya istri keduaku. Kami akan segera bersiap naik podium untuk melakukan upacara pernikahan dengan penghulu," ucap Fauzan, meminta pada Fatimah.


Fatimah mengangguk dan membawa teman-temannya keluar ruang mempelai wanita, dengan segera.


Klap ....


Fauzan menutup pintu, menatap Keisha yang marah padanya dengan tatapan lelah.


"Kenapa kamu mendebat mereka? Sudah tahu jika mereka orang tua banyak pendapat seperti pendebat, tapi masih saja kamu teruskan," keluh Fauzan, menggeleng-gelengkan kepalanya ampun.


Keisha hanya mendengus dan melipat kedua tangannya di depan dada, memalingkan wajahnya dari wajah Fauzan dan memperlihatkan gelagat kesal.


Fauzan diam beberapa saat, tersenyum simpul dan mendekatinya dengan senyum menyebalkan.


"Walaupun begitu, terima kasih karena sudah membela Aina. Aku tidak bisa berbicara jika musuhku wanita tua yang cerewet seperti Tante Dina." Fauzan mengelus puncak kepala Keisha, lembut. "Kerja bagus, Keisha."


Keisha mendengus, dan berkata, "Huhh! Nanti kamu harus memberiku jatah liburan lebih lama sebagai bayarannya. Aku mau satu minggu lebih lama!"


Fauzan mengangguk setuju. "Baiklah. Kamu cerewet sekali, Kei. Hahaha, teman hidup baru yang menarik," celetuknya, sambil terkekeh pelan.



Casimira Gustin Alvaro


(Alva)


Usia \= 17 tahun. Hobi main Basket. Pencinta kucing dan suka makanan pedas.



Shari Nuria Rahmatiani


(Nuri)


10 tahun. Penderita Kanker Otak stadium 3. Kelas 4 SD, ketua kelas. Hobi habisin duit Ayah and Mama^^