
Mengangkat tubuh Nuri yang terkulai dalam pelukannya, Keisha menatap orang-orang yang tampak panik, tapi tak beranjak dari posisi mereka, kecuali Fauzan, Alva, Aina dan Izra.
Keisha menatap orang-orang itu dengan mulut terkatup rapat dengan air mata yang tak bisa dia hentikan membasahi pipinya.
"Bun, bawa dia ke mobil. Ah, tidak! Biar aku yang menggendongnya," ucap Izra, paling pertama menghampiri mereka karena jaraknya yang terpaut dekat dengan keduanya.
"Aku saja, bajuku sudah terkena darahnya. Jangan kotori pakaianmu, ayo. Kita harus lekas membawanya," getir Keisha, menatap Nuri yang tak bangun walaupun tubuhnya mendapatkan banyak guncangan.
"Baiklah. Ayo bawa dia–"
"Biar aku saja," ucap Aina, menghentikan langkah Keisha, saat dia hendak pergi dari pesta dan mengikuti Izra.
"Tapi bajuku sudah terkena nodanya. Lebih aku saya yang membawa dia–"
"Berikan anakku padaku, Keisha!" sergah Aina, penuh penekanan.
Deg!
Keisha terpaku, melihat sorot mata Aina yang tampak marah di sela-sela air matanya dan wajah yang memerahnya itu.
Keisha memberikan tubuh Nuri pada ibunya, membuatnya terlihat bodoh karena hanya bisa melakukan apa yang di minta olehnya.
Aina menatap Nuri dengan tatapan sedih. Tubuhnya yang berguncang saat menerima tubuh Nuri yang terasa sedikit dingin, membuat kesan kuat jika Aina tampak depresi menghadapi ini.
"Ma, biar Alva saja. Nanti Mama tidak bisa jalan kalau–" Alva terdiam, menatap wajah Aina yang ketus dan dingin saat menatapnya.
"Ayo pergi, Zra!" ucap Aina, berjalan pergi di ikuti yang lainnya, ke arah mobil Izra.
Saat Aina sudah masuk ke dalam mobil di ikuti Alva, dan saat Fauzan dan Keisha ingin ikut dengan mereka, tiba-tiba tatapan Aina menusuk dalam pada keduanya.
"Apa yang kalian lakukan? Turun dari sini dan kembali ke dalam sana!" tajam Aina, memerintah dengan tatapan tajam nan menusuk.
Keisha dan Fauzan masih kekeh mempertahankan posisinya, yang duduk di samping Aina, ingin ikut mereka pergi ke rumah sakit.
Alva dan Izra yang duduk di depan, hanya bisa diam dengan tatapan tegang, melihat Aina yang tampak geram dengan sikap Ayah dan Bunda mereka.
"Aku Ayahnya, aku ingin pergi dengan kamu ke rumah sakit, Aina! Jangan membantah suamimu!" ucap Fauzan, seakan marah dengannya.
Aina menatap Fauzan, suaminya, yang duduk tepat di sebelahnya dengan tatapan tajam nan dingin.
"Lalu meninggalkan 1000 tamu yang datang ke pesta kalian itu?" Aina menatap Fauzan marah. "Jangan bercanda, Mas! Kamu ingin membuat citramu jatuh sampai masuk ke dalam tong sampah?" tanyanya, menyindir.
Fauzan mengepalkan tangannya kuar, menatap wajah Istrinya yang tampak serius.
Fauzan menatap Nuri yang harus segera di bawa ke rumah sakit untuk mendapatkan pengobatan, dan mengalihkan tatapannya pada Aina yang terus menatap dia dan Keisha dengan tatapan dingin.
Keisha menangis, menatap mobil Izra yang membawa Nuri dengan tatapan sakit.
"Kenapa kamu menarikku turun? Aku ingin ikut dengan mereka, memastikan kondisi Nuri, Mas!" teriak Keisha, marah pada Fauzan yang tampak tak berdaya di hadapan amarah Aina.
Fauzan menatap tangannya yang menggenggam tangan Keisha dengan erat, menatap Keisha yang benar-benar marah dengan pilihannya.
"Maafkan aku, Kei. Aku hanya tidak bisa membiarkan anakku terus tertahan karena kita. Dia harus segera di bawa ke rumah sakit, maafkan aku. Sungguh," ucap Fauzan, menyesal.
Keisha memejamkan matanya, duduk di atas tanah dengan posisi bersila. Menundukkan kepalanya dan menang sejadi-jadinya.
Tak peduli dengan pandangan para tamu undangan mereka. Karena hal yang menimpa keluarga mereka beribu-ribu lebih menyayat hati dari pada gunjingan tetangga yang tak ikut merasakan penderitaan mereka.
"Nak, apa yang akan kalian lakukan dengan para tamu undangan? Sepertinya mereka juga bingung dengan situasi ini," ucap seorang lelaki, di belakang punggung mereka, dengan suara lembut dan sabar.
Fauzan menoleh, menatap mertuanya dengan tatapan sedih dan sungkan. "Maaf, Ayah. Kami–"
Ardi tersenyum masam, menatap menantunya yang tampak bingung dengan tatapan sedih.
"Ayo masuk dan lanjutkan pestanya sampai hari ini. Besok Ayah akan membantu kamu membatalkan sisanya," ucap Ardi, menatap Keisha dengan tatapan sedih.
Karena wanita itu terus menangis dan menundukkan kepalanya dalam, seakan benar-benar sedih.
Fauzan mengangguk, berterima kasih pada sang Ayah mertua, yang bahkan lebih perhatian dari pada kedua orang tuanya sendiri.
"Terima kasih Ayah, kami akan segera masuk. Ayah masuklah dulu, saya akan menyusul setelah menenangkan Keisha," ucap Fauzan, membuat Ardi mengangguk mengerti dan meninggalkan keduanya.
Fauzan menghela napas panjang, menatap Keisha yang tampak lebih terpukul darinya. Yah, mungkin karena dia perempuan dan hatinya lebih sensitif dari pada seorang lelaki, Fauzan berusaha memahami kondisinya yang rapuh.
"Kei, mari masuk dan selesaikan acara hari ini. Kamu bisa, kan?" tanya Fauzan, menatap Keisha yang perlahan-lahan menghentikan tangisannya dan berusaha menenangkan dirinya dengan baik.
Keisha mengangguk pelan, membuat Fauzan mengulas senyuman dan mengelus kepalanya penuh kasih sayang.
Keisha mendongak, menatap lelaki itu dengan tatapan lekat. Menatap wajah tampan yang tengah tersenyum lembut kepadanya, dengan tatapan terkesima.
"Kamu bisa melakukannya, kan?" tanya Fauzan, memastikan untuk ke sekian kalinya, keadaan Keisha.
Keisha mengangguk sambil menatap Fauzan, berusaha meyakinkan dirinya dengan sikap itu.
Fauzan tersenyum lembut dan bangun dari posisinya, mengulurkan tangannya pada Keisha, hendak membantunya bangun dari posisi itu.
"Ayo pergi, kita selesaikan ini dan pergi ke rumah sakit untuk menengok Nuri, ya?"
"Iya.”