
"Kamu aneh, Keisha," celetuk Aina, membuat Keisha terdiam seribu bahasa.
"K-kenapa? Apa saya melakukan kesalahan?" tanya Keisha, langsung merasa tertekan.
***
Aina menatap wajah Keisha cukup lama, sebelum akhirnya dia menggelengkan kepala dan kembali menunduk, menatap layar laptopnya.
"Tidak, kamu tidak melakukan kesalahan sama sekali. Sekarang pergilah makan dan segera pergi bersama Mas Fauzan untuk melihat-lihat gedung. Sebelum hari semakin siang, nanti kamu merasa pusing karena terlalu lama berada di bawah sinar matahari," jelas Aina, dengan penuturan yang sangat lembut.
Keisha menganggukkan kepalanya mengerti dan segera pergi ke ruang makan, duduk di hadapan Fauzan yang tengah meminum segelas jus jambu.
"Kelihatannya hubungan kalian berdua semakin dekat. Apa kamu nyaman dengan Aina?" tanya Fauzan, menatap wanita yang duduk di hadapannya ini dengan tatapan penasaran.
"Apa saya terlihat seperti itu?" ucap Keisha, balik bertanya padanya.
Fauzan menganggukkan kepalanya sambil tersenyum lembut. "Sama seperti kedua sahabat, kamu memperlakukan istriku dengan baik. Terima kasih," ucapnya, tulus.
Keisha diam beberapa saat, melihat senyuman yang lebih indah dari bunga dan lebih manis dari gula. Senyuman yang mampu membuat semua kaum hawa terpesona padanya, hanya dalam beberapa detik.
Keisha sampai tidak bisa merespons. Dia merasa langsung jika otaknya sedang rusak, karena mendapat serangan yang cukup besar secara tiba-tiba.
"Kei? Kenapa kamu melamun? Kamu memikirkan sesuatu?" tanya Fauzan, melambaikan tangannya di depan wajah Keisha, mencoba untuk menyadarkan wanita itu dari lamunannya.
"Ah ... aku sampai lupa mengatakannya," celetuk Aina, membuat perhatian dua orang yang duduk di meja makan, berpindah padanya.
"Apa itu, sayang?" tanya Fauzan, memperhatikan Aina dengan saksama saat wanita itu menatap ke arah mereka.
"Aku sudah mendaftarkan Keisha ke dokter kandunganku dulu. Aku harap setiap bulannya, kamu bisa menemani Keisha pergi cek up, Mas," ucap Aina, tanpa beban.
Tapi membuat kedua orang yang mendengarnya, merasa terbebani.
"Baiklah, aku akan menemani Keisha tiap kali dia akan pergi ke dokter. Kamu tidak cemburu, kan?" celetuk Fauzan, hanya ingin bergurau.
Tapi tatapan Aina mampu membunuh ekspresi bahagia Fauzan, yang menganggap pertanyaannya adalah hal lucu.
Glek ....
Keisha melirik ke arah Fauzan yang tiba-tiba menjadi tegang, saat melihat raut wajah Aina berubah menjadi ketus dan tampak dingin. Seakan memperlihatkan jika dia sedang menahan semua rasa marah dan cemburunya, agar mereka tidak bertengkar satu sama lain.
"Anda ini juga aneh, Pak. Bagaimana Anda bisa mengatakan pertanyaan seperti itu kepada Mbak Aina? Jika saja posisinya di balik, saya yakin Anda juga akan cemburu dan lebih parahnya, mungkin Anda akan langsung mengamuk dan pertengkaran setiap hari," celetuk Keisha, sambil menghela napas lelah.
Fauzan mengerutkan keningnya samar, merasa tidak enak karena membuat istri kesayangannya menyadari perasaan. Fauzan merasa begitu rendah, karena membuka luka yang sudah berusaha ditutupi dengan rapat dan baik oleh Aina.
"Maaf, aku tidak bermaksud menyakitimu, sayang." Fauzan bangkit dari tempatnya dan berjalan mendekat pada Aina, duduk di samping istrinya dan menggenggam tangannya dengan lembut. "Maaf," ucapnya, sekali lagi.
"Selama kamu merasa bahagia, Mas. Aku tidak akan berkomentar apa pun tentang tindakanmu. Maupun kamu memiliki empat orang istri sekaligus, aku tetap tidak akan memprotesnya. Karena selama kamu bisa bersikap adil kepada mereka, aku tidak akan pernah melarangnya. Sebab agama memperbolehkan dan aku seperti tidak memiliki hak untuk menentangnya," jelas Aina, memberikan jawaban yang cukup panjang.
Fauzan yang mendengar itu langsung diam dan menunjukkan kepalanya dalam. Melihat wajah Aina yang sendu dan juga lemah lembut, dengan perasaan sakit.
"Kenapa kamu mengatakan hal itu jika hatimu merasa sakit? Padahal aku akan melebihi mengutamakan kamu daripada kebutuhan pribadiku. Kamu tahu aku sangat menyayangimu, Na." Fauzan menggenggam erat tangan Aina dan sesekali mencium punggung tangannya. "Jadi tolong katakan jika kamu merasa sakit hati. Aku akan mengusahakan yang terbaik untuk memperbaiki setiap kesalahanku," ucapnya, melanjutkan.
Aina yang mendengar itu hanya diam, dan menatap suaminya dengan ekspresi wajah sendu.
"Ya, aku mengatakannya lain kali," jawab Aina, singkat. "Sekarang pergilah bersiap-siap. Sepertinya Keisha sudah selesai sarapan. Kalian berdua harus segera pergi dan kembali sebelum siang."
Aina menatap ke arah suaminya dengan senyuman lembut. "Jangan lupa, jika calon istri keduamu sedang mengandung. Tolong jaga dia dengan baik seperti kamu menjagaku dulu," ucapnya, tampak ikhlas.
Fauzan diam beberapa saat, menatap kedua manik mata gelap milik Aina dengan dalam, sebelum akhirnya sebuah senyuman sendu terbit di wajahnya.
"Sesuai keinginanmu, sayang," jawab Fauzan, mengulas senyuman palsu.