
Klek ....
Alva keluar dari mobil setelah Keisha memarkirkan besi berjalan itu di tempat yang seharusnya.
Keduanya turun dan masuk ke dalam rumah, membuat Mbak Vina menyambut mereka dengan kerutan samar di keningnya.
"Den Alva? Kenapa ada di sini lagi? Mau menginap di sini lagi?" tanya Mbak Vina, berjalan mendekati keduanya.
Alva mengangguk singkat, dan memberikan tas besar berisikan baju dan seragam sekolahnya. "Iya, ini tolong di setrika ya, Mbak. Besok mau di pakai ke sekolah."
Mbak Vina menganggukkan kepalanya mengerti dan membawa benda itu masuk. Tapi baru sampai di samping tangga, langkahnya langsung terhenti saat dia mengingat sesuatu.
"Anda berdua sudah makan? Saya belum memasak makan malam. Karena tadi saya pikir Non Keisha tidak akan pulang dan menginap di sana," jelas Mbak Vina, menatap keduanya secara bergantian.
"Ya sudah, enggak usah masak, Mbak. Nanti beli saja di luar. Saya nanti mau makan di luar aja sama Alva, gak usah repot-repot," ucap Keisha, berjalan ke arah kamarnya berada.
Mbak Vina yang mendengar itu, hanya mengangguk dan segera masuk ke dalam.
Sementara Alva lebih memilih duduk di depan televisi untuk menonton acara favoritnya.
Gdubrak!
Suara jatuh dari kamar Keisha langsung membuat Alva meloncat dari tempat duduknya dan membuat Mbak Vina keluar dari kamarnya dengan segera.
Kedua orang itu langsung berlari ke kamar Keisha, membukanya dengan cepat dan memastikan keadaan wanita itu baik-baik saja di sana.
"Ada apa, Bun?" tanya Alva, begitu dia membuka pintu dan melihat Keisha berdiri di dekat ranjang dengan kedua mata membulat lebar dan sebelah tangan yang membekap mulutnya.
Kedua manik mata Keisha fokus melihat ke arah ponselnya, membuat Alva merasa janggal dengan tatapannya yang tampak bahagia itu.
Alva masuk dengan langkah perlahan, setengah canggung karena dia belum pernah masuk ke dalam kamar Keisha sebelumnya. Bahkan Keisha tak pernah memberinya izin untuk masuk ke dalam tempat ini.
Alva berdiri di dekat Keisha, menatap layar ponsel Keisha yang menampilkan sebuah pesan sari seorang perawat di rumah sakit tempat Nuri di rawat.
"Hah? Nuri udah sadar, Bun?!" seru Alva, tampak bahagia. Dia bahkan nyaris memeluk Keisha karena saking bahagianya melihat berita itu.
"Iya, Al. Kamu kasih tahu Mama sama Ayah kamu gih. Setelah isya, nanti kita langsung pergi ke rumah sakit ya?!" seru Keisha, juga tampak senang dan bersemangat.
Alva mengangguk dan segera keluar dari tempat itu, pergi ke ruang tengah untuk mengambil ponselnya yang di tinggal di atas sofa.
Alva langsung menghubungi Ayah dan Mamanya. Tapi sayang, kedua ponsel orang itu lagi-lagi mati dan tidak ada seorang di antara keduanya yang bisa Alva hubungi.
Alva menghela napasnya dalam-dalam. Ekspresi wajah bahagianya sedikit terkikis dengan ekspresi kesal.
Mbak Vina berlari ke dapur, mengambil alat masaknya dan beberapa bahan makanan yang ada di dalam lemari pendingin.
"Mau ngapain, Mbak?" tanya Alva, dari ruang tengah.
"Masak, Den. Nanti tolong di bawakan buat Non Nuri, ya?" ucap Mbak Vina, tampak senang.
Alva hanya mengangguk dan memperhatikan apa yang di lakukan Mbak Vina di dapur, beberapa saat.
Mbak Vina mulai memasak sesuatu, memasak makan kesukaan Nuri agar Keisha dan Alva bisa membawakan masakannya untuk Nona kecilnya itu.
"Alva, sholat dulu. Nanti kalau Mbak Vina sudah selesai masak, kita berangkat!" ucap Keisha, mencelingukkan kepalanya di balik pintu kamarnya yang terbuka sedikit.
Alva menoleh padanya dan mengangguk paham. "Iya, Bun. Alva akan sholat di masjid. Alva berangkat sekarang!" ucapnya, berlari pergi keluar rumah dengan langkah riang.
***
Sesampainya di rumah sakit, Keisha dan Alva segera pergi ke kamar Nuri. Dengan rasa bahagia, keduanya membayangkan jika Nuri sudah siuman dan tampak sehat.
Namun siapa sangka, sesampainya mereka di sana. Kedua orang itu malah menyaksikan Nuri dalam keadaan yang lebih buruk dari sekedar koma.
Gadis kecil berusia 10 tahun itu tengah kejang, dengan 4mpat perawat yang memegang masing-masing dari tangan dan kakinya.
Bukan senyuman yang terpampang di wajah Keisha dan Alva, melainkan tangis yang tak tertahan.
Keisha hampir pingsan saat melihat Nuri dalam keadaan buruk. Gadis kecil itu terus memuntahkan darah dari mulut dan hidungnya, membuat pakaiannya di penuhi noda merah.
Keisha segera di bawa keluar oleh Alva. Keduanya tampak gentar dan syok.
Makanan yang di buat oleh Mbak Vina, yang tadinya masih hangat, kini di biarkan begitu saja di atas kursi besi di depan kamar Nuri sampai dingin.
Keisha duduk dengan menatap kosong ke depan. Dia masih syok, selama hampir 1 jam dia melihat banyaknya perawat dan dokter keluar masuk ruangan Nuri dengan tatapan pucat, karena khawatir.
Seorang dokter keluar, Keisha dan Alva yang dari tadi menunggu di depan ruangan, langsung berdiri dan menyambutnya dengan tatapan resah.
"Bagaimana keadaan anak saya, Dok?" tanya Keisha, spontan mencekal kedua bahu sang dokter tampan itu.
Dokter itu menundukkan kepalanya, tampak sedih dan tertekan. "Padahal operasinya berhasil, tapi kami masih belum menemukan alasan tentang kondisinya saat ini. Mungkin kami akan melakukan rontgen pada kepalanya, tolong tanda tangani dokumen yang di bawakan suster nanti, Bu."
Setelah mengucap itu, dokter pun pergi, meninggalkan rasa khawatir di antara keduanya.
Keisha berjongkok, menangis dengan kedua tangan yang menutupi wajahnya. "Hiks, bagaimana gadis sekecil itu bisa melalui semua ini? Apa Tuhan tidak terlalu kejam karena memberikan ujian sebesar itu padanya?" ucap Keisha, parau, di sela-sela isak tangisnya.