Don'T Be The Antagonist

Don'T Be The Antagonist
Pertengkaran Remaja (3)



"Begitu, tapi tetap saja, aku tidak suka kamu ada di dekatnya. Jadi lepaskan tanganmu dan cepat pergi ke sini, Vega!" ucap Nevan, penuh penekanan.


***


Vega yang mendengar itu langsung memandangnya dengan tajam, kedua mata yang tiba-tiba berubah menjadi datar itu, membuat orang-orang di sekitar mereka langsung terdiam dengan mulut yang terkatup rapat.


Suasana kantin yang tadinya ricuh, kini langsung berubah menjadi senyap seperti bangunan kosong dengan para hantu yang menghuni. Semua orang fokus pada Vega, murid perempuan yang terkenal dengan sikap kasar dan mulutnya yang busuk.


Vega menyugar rambutnya kasar, mengarahkan bagian depan rambutnya ke arah belakang, membuat arah rambutnya tak beraturan.


Namun penampilan itu malah menjadi pusat perhatian orang-orang. Terutama kaum adam yang suka kecantikan bunga liar seperti Vega.


"Kau ingin bertengkar lagi denganku? Seminggu yang lalu kau sudah membuatku terkurung di rumah selama 5 hari tanpa bisa melakukan apa pun! Kedua orang tuaku menyita ponsel dan laptop. Tugas yang seharusnya aku selesaikan hari itu tidak bisa aku selesaikan dan aku jadi dipanggil ke ruang guru dan mendapatkan hukuman sekaligus! Dan itu semua terjadi karena sikap konyolmu yang menuduhku bergaul dengan arah ke nakal? Padahal kamu juga merokok saat di sekolah! Orang munafik sepertimu apa masih mau dipertahankan untuk membangun masa depan bersama?" Vega mengulas senyuman culas. "Aku tidak sebodoh orang-orang yang jatuh cinta karena tampangmu itu! Dan aku yakin kamu juga tahu itu, kan? Jika sikapmu semakin hari semakin buruk kepadaku! Apa yang harus aku pertahankan darimu? Tidak ada, kan?"


Diam sudah, Nevan tidak bisa bergeming dari sikap terkejutnya. Kedua bola matanya yang membulat dengan sempurna, menunjukkan jelas sikap tercengang saat mendengar perkataan Vega yang terdengar jujur tanpa melebih-lebihkan.


Vega melepaskan tangannya dari pundak Izra, menarik lengan baju lelaki itu dan mengajaknya pergi.


"Makan di luar saja, lagu jadi tidak berselera makan di sini, karena ada pengganggu yang seperti benalu!" celetuk Vega, sambil melenggang pergi.


Izra yang mendapatkan perlakuan itu langsung menyerap tangan Yaka dan Yaka menarik kerah baju bagian samping Neal. Alhasil mereka keluar dengan cara bergandengan seperti kereta api.


Sementara Nevan hanya bisa diam mematung di tempatnya, sampai beberapa waktu ke depan sampai akhirnya Putra menghampirinya dan menyeret Nevan untuk duduk di tempatnya semula.


"Hahh ... kenapa kamu mengacaukan semuanya? Padahal Vega sudah bilang padamu kalau Izra hanya temannya. Memang kekasihmu itu pernah berbohong tentang hal seperti itu padamu? Tidak, kan?" celetuk Sion, membuat Nevan menundukkan kepalanya dan merenungkan kesalahannya.


"Hahh ... benar katanya. Seharusnya kamu lebih percaya pada kekasihmu daripada halumu! Dia sudah setia padamu walaupun tahu kamu bukan orang yang baik, malah terlihat seperti orang bodoh jika terus mempertahankanmu, kan? Tapi gadis itu tidak memedulikan omongan orang lain dan tetap bersamamu sampai sekarang. Setidaknya, hargailah sedikit kebebasan yang ingin dia pertahankan itu," timpal Torin, ikut menasihatinya.


Tapi Nevan hanya diam dengan kepala yang menuntut dalam, tidak ada sepatah kata pun yang dia ucapkan pada teman-temannya. Walaupun mereka seperti menyalahkan dirinya dan tidak berpihak padanya.


"Hahh ... masa bodoh. Apa sebaiknya aku putus aja?" gumam Nevan, menelungkupkan kepalanya ke atas meja dengan menyembunyikan wajah  sedihnya.


Lantas Sion, Putra dan Torin malah saling berpandangan satu sama lain, sebelum akhirnya mengulas senyuman licik.


"Coba saja putus dengannya. Lalu biar aku coba peruntunganku dengannya! Kamu tahu aku pernah suka padanya, kan?" celetuk Putra, membuat Nevan mendongak dan menatapnya tajam.


"Barusan kamu ngomong apa, Put? Kamu ingin bertengkar denganku hanya karena perempuan?" celetuk Nevan, menatapnya horor.


Putra mengangkat kedua tangannya sejajar dengan dadanya, mengkode Nevan jika dia hanya bercanda dan jangan menganggapnya serius.


"Bercanda. Aku berkata seperti itu karena kesal dengan sikapmu. Vega bukan orang yang harus perhatian karena dia banyak yang memperhatikan. Jadi, alih-alih memikirkan perpisahan dengannya. Lebih baik kau jaga kekasihmu itu, bodoh! Dia orang baik," ucap Putra, berusaha menyadarkan Nevan sebelum menyesali keputusan gegabah karena amarahnya.