
Prang ....
Semua orang tercengang melihat sebuah piring beserta isinya terbang ke udara, mengarah pada Keisha dan Fauzan.
Fadil memang menghentikan sang Ayah dari amarahnya. Tapi dia tak berhasil menghentikan Fatimah dari rasa kesal dan sakit hatinya pada Fauzan dan Keisha.
Karena Fatimah baru saja melemparkan sebuah piringnya ke arah mereka, membuat Aina meringis sakit saat memeluk Fauzan yang berusaha melindungi Keisha dari benda itu.
"Sshhh ...," desis Aina, kesakitan saat piring itu mengenai bagian belakang kepalanya dengan sempurna.
"Mama!" teriak Alva dan Nuri, segera bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri Aina di tempatnya.
Nuri memeluknya dengan tangisan keras, melihat Kakaknya berusaha menyeka darah di bagian kepala sang Ibu.
"Mama, Mama gak papa?" tanya Nuri, mendongakkan kepalanya, menatap wajah pucat Aina yang tampak jelas.
"Iya, Mama gak papa sayang," sahut Aina, lemah lembut, sambil mendudukkan dirinya di kursinya.
Fauzan menatap istrinya dengan tatapan bersalah. "Ma-maaf, seharusnya–"
"Ayah jahat! Nuri benci Ayah!!" teriak gadis berusia 10 tahun itu, mendorong tubuh Ayahnya mundur, agar menjauh dari Ibunya.
"Maaf sayang, maafkan Ayah," ucap Fauzan, menghindari Nuri dan menyingkirkan Alva agar dia bisa menggendong Aina ke dalam pelukannya.
"Tolong panggilkan dokter, Mbok!" seru Alva, mengikuti langkah Ayahnya pergi ke kamar orang tuanya.
"Ba-baik, Tuan," sahut Mbok Yanti, segera pergi mendekat ke arah telepon kabel di ruang tamu.
Sementara Keisha yang melihat semua kejadian itu hanya diam, menatap Fauzan yang sangat khawatir melihat Aina sedikit terluka.
Ada perasaan menusuk di hatinya. Namun dia tak bisa mengungkapnya rasa sakit hatinya, karena Aina adalah istri sahnya! Sementara dia bukan orang yang di anggap oleh Fauzan ataupun keluarganya.
"Puas kamu melihat kekacauan di keluarga saya?" ucap Ragi, membuat perhatian Keisha teralihkan padanya.
Keisha menundukkan kepalanya dalam, tampak sedih dan tertekan. "Maafkan saya, Pak. Saya akan pulang sekarang. Sekali lagi, maafkan saya," ucapnya, memberanikan diri.
"Cepat pergi dari sini. Saya tidak mau melihat kamu di sini atau di kantor mulai besok, Keisha. Kamu saya pecat!" teriak Ragi, mengusir Keisha dengan cara kasar.
Bahkan telunjuk lelaki itu sudah menunjuk pintu keluar dengan lantang, membuat harga diri Keisha semakin jatuh karenanya.
Sementara Fadil yang sempat menawarkan bantuan padanya, malah hanya diam dan tak membantunya sedikit pun. Dia malah terlihat angkuh dan acuh.
Keisha berjalan pergi dengan langkah berat. Bahkan saat dia belum memakan sesuap pun makanan yang di hidangkan, dia harus meninggalkan rumah ini dengan perlakuan yang tidak sopan seperti ini.
Keisha menghela napas panjang, lelah dan gusar menghantui dirinya saat sampai dia sampai di depan pintu.
"Harusnya aku gak berurusan dengan lelaki yang sudah punya istri. Apa aku terima saja tawaran Pak Fadil?" batin Keisha, menimbang-nimbang. "Tapi, apa tawaran itu masih berlaku?" batinnya, gundah.
"Bunda," panggil Nuri, mencekal tangan Keisha dengan erat. Seakan tak membiarkan pergi begitu saja.
Keisha langsung menoleh pada gadis cilik itu dengan tatapan heran. "Siapa yang kamu panggil, Bunda?" tanyanya, bingung.
"Tante Keisha dong. Kata Mama, Tante Keisha mau jadi Mama kedua Nuri sama Abang Alva. Jadi Mama minta aku panggil Tante, Bunda!" jelas Nuri, dengan pembawaan polos dan menggemaskan.
Gadis berusia 10 tahun itu tampak lugu, membuat hati Keisha yang tak bisa berhadapan dengan orang baik sepertinya ataupun Aina, meronta-ronta.
"Mama kamu bilang seperti itu?" tanya Keisha, memastikan. Siapa tahu dia salah mendengarnya.
Nuri mengangguk mantap. "Iya kok! Mama bilang gitu. Sekarang, Bunda ikut Nuri ketemu Mama. Mama mau ngomong sesuatu sama–"
Ragi menggendong Nuri dan mendorong Keisha keluar dari rumahnya, menutup pintunya dan menguncinya sekalian.
"Tante Keisha mau pulang! Kamu jangan tahan dia. Mainnya sudah selesai hari ini," ucap Ragi, membawa Nuri masuk ke dalam rumah, membuat Keisha menghela napas panjang nan kasar.
Dia yang mendengar semua itu dari luar, hanya bisa diam dan tak punya pilihan lain kecuali meninggalkan rumah itu.
Tapi saat dia hendak pergi, Fani menghentikan langkahnya, menghalangi jalannya Keisha menuju gerbang keluar.
"Mari ikut saya untuk berbicara dengan Tuan Fadil, Nona Keisha!" ucap Fani, dengan tatapan datar.