
"Silakan, Nyonya." Mirza mempersilahkan Aina duduk, setelah dia menarikan kursi dan membantu Nuri membenarkan kursi rodanya agar dia menghadap sesuai dengan arah meja berada.
Aina mengangguk sopan, tersenyum lembut dan membuat beberapa teman Keisha berkerumun di dekatnya.
"Anda Direktur Perusahaan K.SC, kan?" tanya Sherly, mencoba untuk akrab dengannya.
Aina hanya tersenyum, tidak mengangguk atau menolak pernyataan tersebut.
"Kalian teman Keisha?" tanya Aina, mengalihkan pembicaraan mereka ke arah yang lebuh ringan.
Sherly, Arina, Sindy dan Lia saling menatap satu sama lain dan tersenyum penuh arti.
"Ya, kami teman baik Keisha, Nyonya. Senang bertemu Anda. Nama saya Sherly, istri sekretaris Anda, Tuan Baron," ucap Sherly, mengukurkan tangannya pada Aina.
Aina menatapnya sejenak, sebelum akhirnya menjabat tangan Sherly dengan senyuman ramah, tapi perkataan yang keluar dari mulutnya, tidak akan seramah senyumannya.
"Ah, maaf. Pak Baron tidak pernah membahas istrinya. Mungkin karena dia tidak terlalu senang membanggakan Anda." Aina tersenyum penuh arti sambil terus bersikap ramah padanya. "Padahal Anda sangat cantik dan sopan, iya kan?"
Sherly mengerutkan keningnya samar, menatap Aina dengan tatapan benci.
"Apa-apaan wanita ini? Kenapa dia menyudutkanku di pertemuan pertama?" Sherly mengerutkan keningnya semakin salam. "Apa dia meremehkan aku?"
Sherly tampak geram sampai tak sadar jika tangannya menggenggam erat tangan Aina sampai membuatnya kesakitan.
Plak!
Tangan Sherly di tepis oleh seorang lelaki yang tiba-tiba saja datang dan menatap Sherly dengan tajam.
"Apa yang kamu lakukan pada Nyonya?" desis Baron, dengan tatapan menusuk, pada istrinya yang tampak kesal.
Aina menatap tangannya yang memarah karena genggaman Sherly dengan tatapan lelah.
"Saya baik-baik saja, Pak Baron. Jangan terlalu marah pada istrimu. Mungkin dia hanya sedikit kesal padaku," celetuk Aina, semakin membuat tatapan Baron menajam, pada Sherly.
Sherly menundukkan kepalanya, dan tak sengaja menatap wajah Nuri yang tampak diam dengan menatapnya lurus.
"Apa kau lihat-lihat?" celetuk Sherly, mencoba menakuti Nuri.
Namun Nuri langsung memalingkan wajahnya, memilih menatap Mirza yang terus menatap mereka dengan tatapan tertarik.
"Makan saja, Tuan. Jangan terlalu tertarik dengan urusan perempuan. Itu akan merendahkan martabatmu," celetuk Nuri, membuat Mirza mengulas senyuman miring dan menggeser kursinya ke dekat Nuri.
"Kenapa kamu berpendapat seperti itu, Nona Muda? Kamu tidak senang di bela seorang lelaki saat mendapatkan masalah seperti ini?" tanya Mirza, berbisik di dekat Nuri.
Nuri meliriknya dan tersenyum lembut. "Iya. Aku tidak senang di bela, saat aku mampu melawannya. Itu akan membuatku merasa rendah, sebagai seorang wanita kuat!" celetuknya.
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Aina, menatap Nuri dan Mirza secara bergantian dengan tatapan lembut.
Nuri segera tersenyum dan menutup mulut Mirza dengan tangannya, di saat bersamaan. "Tidak ada, Ma. Mama lanjutkan saja. Kami akan makan dengan tenang," ucapnya, terus tersenyum.
Aina menghela napas dalam, menarik tangan Nuri yang menutupi mulut Mirza. "Yang sopan, sayang! Paman Mirza terlihat tidak nyaman karena kamu," tuturnya, lemah-lembut.
Namun Mirza kembali meraih tangan Nuri dan mengembalikannya di posisi awal, membuatnya menutupi mulutnya kembali. "Saya nyaman kok," ucapnya, mengacungkan ibu jarinya pada Aina.
Aina menggelengkan kepalanya ampun dan kembali menatap Baron dan Sherly yang bertengkar di depannya.
"Pak Baron, Bu Sherly, silakan nikmati makanannya. Jangan bertengkar saja, sebaiknya kalian menikmati pesta perjamuan ini. Fauzan dan Keisha sudah menyiapkan banyak hidangan untuk para tamu hadirin tolong hargai usaha mereka," ucap Aina, segera mengalihkan perhatian keduanya.
Baron menghela napas panjang, menatap Aina dengan tatapan bersalah. "Maafkan kelakuan Istri saya, Nyonya. Sekali lagi, saya benar-benar meminta maaf karena dia," ucapnya, menundukkan kepalanya dalam.
Aina menepuk-nepuk pundak sekretarisnya. "Jangan di pikirkan, aku baik-baik saja Pak Baron. Silakan nikmati perjamuannya," ucapnya, mempersilahkan mereka pergi.
Baron dan Sherly pun segera meninggalkan tempatnya, meninggalkan Aina, Mirza dan Nuri yang ada di meja itu begitu saja.
Sherly sempat menoleh, menatap Aina dengan tatapan culas, seakan membawa dendam saat kepergiannya.
Aina hanya menatap istri sekretarisnya dengan tatapan dingin nan menusuk. Membalas tatapan penuh kebencian itu dengan sikap coolnya.
"Anda tidak terganggu dengan sikapnya?" tanya Mirza, membuat Aina mengalihkan tatapannya.
"Terganggu? Kenapa? Apa dia sering bersikap seperti itu?" tanya Aina, mengarahkan pandangannya ke atas panggung, menatap kedua pengantin di atas sana dengan saksama.
Aina menatap Keisha dan Fauzan dengan senyuman lembut, kedua pengantin itu terlihat menderita dengan senyuman mereka yang harus terus di paksakan, tiap kali ada tamu yang naik ke sana untuk menyapa mereka.
"Ya, Nyonya. Keisha yang paling sering mendapatkan perlakuan tidak pantas darinya."
Aina menoleh pada Mirza yang baru memberinya informasi penting. "Keisha? Dengan wanita itu?" Aina menaikkan sebelah alisnya. "Dia di bully oleh gadis itu?" tanyanya, tertarik.
Mirza tersenyum masam saat melihat sorot mata Aina yang tampak marah, di dalam ekspresinya yang tenang.
"Iya, Keisha sering di tindas Sherly." Mirza menyandarkan punggungnya, melipat kedua tangannya di depan dada dan menatap Nuri tang terus diam dengan memakan makanannya. "Karena Keisha bukan orang yang berada, Sherly terus menindasnya."
Aina menatap datar, menoleh ke arah Keisha yang mulai tersenyum kaku, seakan mengisyaratkan jika dia mulai lelah dengan aktivitasnya.
"Apa aku balaskan saja?" gumam Aina, sangat lirih.
Tapi Mirza yang mengerti gumaman itu, langsung membulatkan matanya, tersenyum dengan culas di balik tangannya. "Wah, penyokong yang mengagumkan, hahaha."