Don'T Be The Antagonist

Don'T Be The Antagonist
Kritis



"Jadi bagaimana? Kita susun rencana untuk membatalkan pernikahan mereka?" tanya Nuri, menatap kakak lelakinya yang tampak setuju dengan itu.


Ehem ....


Suara lelaki berdeham di antara telinga keduanya, membuat dua anak remaja itu menoleh dengan cepat ke arah sumber suara.


"A-ayah," celetuk keduanya, tiba-tiba menjadi kaku.


"Apa yang kalian bicarakan? Serius sekali," celetuk Fauzan, membuat kedua anaknya menatap satu sama lain dengan tatapan tegang.


"Hahaha, apa ya– enggak ada kok, Yah. Kita cuman lagi curhat aja. Kenapa?" Nuri melirik ke arah jam dinding, sekilas. "Ayah kok udah pulang? Padahal masih pagi," celetuknya, mengalihkan pembicaraan.


"Ayah ada rencana sama Mama. Kami mau keluar," jelas Fauzan, duduk di antara kedua anaknya, dan menatap keduanya bergantian. "Ada yang kalian inginkan? Ayah bisa membelikannya saat pulang nanti."


Nuri menggelengkan kepalanya pelan dan menatap Aina keluar dari kamar dengan mengenakan pakaian yang cukup tebal.


Nuri bangkit dari tempat duduknya, dan berjalan mendekat pada Aina yang tengah menurun tangga.


"Mama mau periksa ke dokter?" tanya gadis berusia 10 tahun itu, berlari kecil ke arah ibunya dan memeluk pinggangnya.


Aina balas memeluknya, menata putri kecilnya dengan tatapan lembut sambil berkata, "Ya, Mama makan pagi ke dokter sebentar. Kamu di rumah sama Kakak dulu ya, Nuri. Ingat, jangan nakal dan kerjakan tugasmu dengan baik," ucapnya, berpesan.


Nuri yang mendengar itu, hanya menganggukkan kepalanya pelan dan melepaskan pelukannya, membiarkan Aina pergi meninggalkannya.


"Ayo, Mas. Nanti keburu terlalu malam," ucap Aina, membuat Fauzan terdiri dari posisi duduknya dan mendekat ke arahnya.


Baru beberapa langkah kedua orang itu pergi, tiba-tiba saja suara batuk Nuri membuat Aina menoleh dan berlari ke arahnya.


"Kenapa, Nak?" tanya Aina, seketika menunjukkan ekspresi wajah pucat pasi, melihat putri bungsunya yang tiba-tiba batuk tanpa sebab.


Nuri tersenyum lembut, menggelengkan kepalanya pelan, dan menatap sang ibunda dengan tatapan polos. "Enggak, Ma. Kayaknya Nuri batu karena kemarin habis minum es. Nuri gak papa kok," ucapnya, menjelaskan.


Aina menghela napas lega dan menatap suami serta anak sulungnya dengan lelah.


"Al, nanti kalau adikmu terus batuk, belikan obati apotek ya? Ini Mama kasih uang," ucap Aina, memberikan selembar uang berwarna merah kepada Alva.


Alva mengangguk pelan dan membiarkan kedua orang tuanya pergi meninggalkan mereka berdua di rumah.


Sruk ....


Baru beberapa saat, setelah kedua orang tua mereka keluar dari pintu. Tiba-tiba saja Nuri jatuh duduk dengan memegang dada kirinya.


Alva dengan spontan langsung berlari ke arah adiknya, menatap wajah Nuri yang mulai mengeluarkan keringat dingin, dengan wajah yang sedikit pucat.


"Kamu kenapa, Nur? Kepalanya pusing?" tanya Alva, tiba-tiba terhenti saat melihat tangan kanan Nuri yang semakin kuat mencengkeram dada kirinya. "Jantung kamu-"


Nuri menggelengkan kepalanya kuat, menolak argumen yang bahkan belum dikatakan oleh sang kakak.


"Enggak, Nuri gak papa Kak Alva. Mungkin Nuri kayak gini karena kecepekan aja. Dari kemarin kan Nuri terus pulang sore, jadi kalau di buat tidur aja, pasti rasa sakitnya bakal hilang," ucap Nuri, membuat Alva menganggukkan kepalanya pelan dan membantunya bangkit dari jatuhnya.


"Kakak antar ke kamar, terus Kakak tinggal beli obat dulu di apotek, ya? Kamu tidur aja di kamar. Jangan ke mana-mana," ucap Alva, sambil memapah adik perempuannya masuk ke dalam kamar dan membantunya berbaring di atas ranjang.


"Iya, iya, bawel banget sih jadi orang. Sudah sana cepat pergi, buruan balik ya? Jangan tinggalkan aku lama-lama," ucap Nuri, dengan suara lemah.


Alva menganggukkan kepalanya mengerti dan segera keluar dari kamar adik perempuannya, tanpa menutup pintu.


Alva bergegas turun ke lantai 1 dan mengambil kunci motornya di dalam kamar, lalu pergi terlebih dahulu ke arah pos satpam untuk mencari Pak Dirga dan Pak Dion, kedua satpam yang bekerja di rumahnya.


"Pak, saya nitip Nuri sebentar, ya?! Di rumah enggak ada orang, soalnya Mbok Yanti sama Pak Yanto pergi ke pasar. Terus tadi, Pak Zean antar Mama sama Ayah ke dokter. Jadi di dalam rumah enggak ada siapa-siapa. Tolong, ya, Pak. Nuri lagi sakit di dalam, nanti sesekali kalian lihat aja ke kamarnya. Kalau ada apa-apa langsung hubungi saya," ucap Alva, berpesan.


Kedua lelaki yang mengenakan seragam satpam itu langsung menganggukkan kepalanya dan salah satunya pergi ke dalam rumah untuk berjaga di dalam rumah, siapa tahu keadaan Nuri semakin parah.


Setelah usai melakukan pekerjaannya, Alva segera pergi ke apotek untuk memberi beberapa obat.


Jarak apotek dari rumah mereka cukup jauh. Mungkin sekitar 15 menit dengan kecepatan 100 km per jam.


Jalanan juga terlihat cukup macet, jadi Alva membutuhkan waktu lebih lama untuk pulang-pergi dari tempat itu.


Selang 45 menit setelah Alva keluar dari rumah, akhirnya dia kembali dengan membawa obat.


Pak Yanto yang masih setia di pas satpamnya, langsung membukakan gerbang saat Alva sampai di rumah.


"Den, Non Nuri muntah darah. Tadi saya sudah panggil ambulans, dan katanya pihak rumah sakit masih dalam perjalanan," ucap Pak Yanto, membuat Alva membulatkan matanya dan langsung meninggalkan motornya di halaman rumah, di parkir dengan sembarangan, karena dia terburu-buru untuk masuk ke rumah dan melihat keadaan adiknya.


"Huhu, hoek!"


Suara tangisan Nuri dicampur dengan suara panik Pak Dion terdengar sampai lantai 1. Membuat Alva yang baru datang, langsung berlari naik ke lantai dua dan pergi ke kamar artinya.


"Nur, gak papa?" teriak Alva, begitu masuk ke dalam rumah dan berlari naik tetangga.


Mungkin karena saking paniknya Alva saat itu, tiba-tiba saja dia terjatuh saat menaiki tangga dan sempat terguling cukup lama. Mungkin dia terjatuh dari tengah-tengah tangga sampai ke bawah tangga, membuat siku dan lututnya mendapatkan cedera ringan.


Namun Alva tidak terlalu menghiraukan rasa sakit di lutut dan sikunya, karena yang ada di otaknya hanya rasa panik dan cemas terhadap adik perempuannya.


Lantas begitu Alva sampai di kamar, dia terkejut bukan main karena pakaian putih yang dikenakan Pak Dion sudah didominasi warna merah dari daerah Nuri.


Karena saat Alva datang, posisi Nuri sedang memeluk Pak Dion sambil terus memuntahkan darah dari mulutnya, membuat sebagian besar seragam Pak Dion terkontaminasi oleh cairan merah itu.


"Nur ... Nuri, kamu kenapa?" teriak Alva, langsung memeluk adik perempuannya dan berusaha menenangkannya dari tangisan yang terdengar pilu itu.


"Huhu ... daku sakit, Kak! Nuri gak-"


Baru saja ingin mengeluhkan rasa sakitnya setelah sekian lama hanya menangis, karena Nuri merasa sungkan dan canggung jika harus mengeluh di depan Pak Dion, tapi kini dia malah kehilangan kesadarannya dan membuat kedua lelaki itu semakin panik.


"Nur ... Nuriii!!" jerit Alva, histeris.


Lantas, suara Alva yang menggelegar itu, sampai membuat para tetangganya berkerumun di rumah mereka dan membantu anak sulung keluarga Tristany itu, membawa adiknya ke rumah sakit terdekat.


"Dik, sadar, Dik! Kamu kenapa hiks ... sadar, Nur?!" tangisan Alva, pecah di dalam mobil.