
Keisha mengeluarkan sepeda Mabk Vina dari gudang dengan susah payah.
"Perlu bantuan?" tanya seorang lelaki, bertubuh tinggi dengan jas kerja berwarna abu-abu, berjalan mendekat ke arahnya dengan segera.
"Pak Fauzan? Kenapa Anda ke sini?" tanya Keisha, menatap Fauzan yang senantiasa membantunya mengeluarkan sepeda itu dari bagasi.
"Menjemput Aina, sekalian menengok kamu," jawab Fauzan.
Fauzan menghela napas panjang sambil menyingkirkan debu yang ada di pedal sepeda itu dengan tangannya.
"Kandungannya, bagaimana?" tanya Fauzan, menoleh pada Keisha sejenak dan kembali fokus membersihkan sepeda tersebut.
"Kandungan saya baik-baik saja, Pak," jawab Keisha, tampak sedih dan tak bersemangat.
Fauzan selalu menanyakan tentang kandungannya saja. Tapi tidak pernah bertanya tentang dirinya.
"Padahal sebentar lagi kalian menikah, tapi kenapa kamu selalu bersikap dingin pada Keisha, Fa?" celetuk Aina, membuat Fauzan mengerutkan keningnya dalam.
"Apa kamu bilang?" tanya Fauzan, tampak tak senang melihat sosok istrinya yang semakin acuh dan tak perhatian padanya. Bahkan sampai memanggilnya dengan nama?
"Aku bilang apa? Aku hanya bertanya. Kenapa kamu dingin sekali pada Keisha, Fa-uz-an!" celetuk Aina, mengeja nama itu dengan jelas.
Fauzan mengepalkan tangannya, mendatangi Aina dengan sorot mata marah. "Kamu memanggil namaku?!" tanyanya, geram.
Keisha yang melihat sosok Fauzan yang tampak marah besar, hanya bisa menelan ludahnya dan terus memperhatikan keduanya, tanpa berani melerai. Sebab Fauzan sangat menakutkan bagi Keisha saat ini.
"Kenapa? Tidak suka? Padahal aku hanya memanggil nama kamu. Tapi kamu sudah marah! Wah, sensi sekali kamu," pekik Aina, memutar bola matanya malas, seakan tak peduli dengan amarah suaminya.
"Sekali lagi kamu mengatakan namaku–"
"Memangnya nama kamu siapa?" sergah Aina, membuat omongan Fauzan terpotong.
Fauzan memejamkan matanya. Mencoba menenangkan diri dari rasa amarah yang sudah sampai di ubun-ubun.
"Namaku memang Fauzan! Orang-orang juga memanggilku dengan Fauzan. Tapi berbeda dengan kamu, sa-ya-ng! Kamu harus memanggilku dengan 'sayang' atau 'Mas', seperti biasanya. Ini pinta suamimu, Aina! Jangan kurang ajar," geram Fauzan, memperingati.
"Mas?" Aina tersenyum miring, menatap Fauzan dengan tatapan angkuh. "Kamu punya umur 1 tahun lebih muda dariku, Fauzan! Tidak seharusnya aku memanggilmu dengan sebutan 'Mas' seharusnya aku memanggilmu dengan 'Adik'," sembur Aina, membuat Fauzan memejamkan matanya sekali lagi.
Fauzan kembali berusaha keras untuk menahan semua amarah dan rasa gemasnya melihat sikap mengesalkan istrinya.
"Kamu marah, Dik?" pekik Aina, tak takut.
"Sekali lagi aku dengar kamu tidak menurut, aku bawa kamu ke kamar dan aku ajak bergulat!" desis Fauzan, membuat kedua bola mata Aina melotot.
"Aku sedang libur!" amuk wanita berjilbab itu, tampak menggemaskan bagi suaminya.
"Dari belakang juga bisa! Lebih endul," sahut Fauzan, enteng.
"Astagfirullah. Bisa-bisa kamu melakukan KDRT pada istrimu!" seru Aina, meninggi.
"Aina, tidak sopan bicara dengan suara membentak begitu pada suamimu! Aku ingatkan sekali lagi. Jangan kurang– hmph!"
Aina membekap mulut Fauzan dengan tangannya. Dia menundukkan kepala, merasa malu dan lelah menghadapi sikap suaminya yang tak mau mengalah dalam debat mereka.
Fauzan tersenyum, menatap Istrinya yang tampak pusing menghadapi dirinya. "Kamu menyerah?" tanyanya, angkuh.
Aina tersenyum dengan tidak ikhlas. Membuat senyuman Fauzan menghilang seketika.
"Hehe ... malam ini tidur di luar!" tegas Aina, melepaskan tangannya dari mulut Fauzan dan meninggalkannya begitu saja.
Fauzan menepuk keningnya ampun, menatap Keisha yang dari tadi mengulas senyuman masam, melihat pertengkaran keduanya.
"Mungkin Anda lupa hukum di antara pria dan wanita, Pak," pekik Keisha, tampak sungkan melihat wajah masam Fauzan.
"Ahh ... aku harap kamu tidak sepertinya besok-besok. Menurutlah padaku, suamimu! Dengan begitu aku akan merasa sedikit tenang memiliki dua wanita di hidupku," ungkap Fauzan, meminta.
Keisha tertawa hambar. "Hahaha, saya tidak bisa berjanji," gumamnya, memalingkan tatapan dari Fauzan.
Fauzan menatapnya lelah. "Astagfirullah, calon wanita kedua yang merepotkan juga. Hahh ... aku harap aku tidak cepat botak," pekiknya, masam.