Don'T Be The Antagonist

Don'T Be The Antagonist
Tentang Keikhlasan



Nyut!


"Aw," Aina memekik kesakitan, menatap Fauzan yang ikut meringis saat mendengar suara Aina mengeluh sakit ketika dia mengobatinya.


"Maaf, aku enggak sengaja," cicit Fauzan, merasa bersalah pada sang istri.


Aina hanya menghela napas panjang dan kembali diam, membiarkan Fauzan melanjutkan pengobatannya.


"Yang," panggil Fauzan, membuat Aina menoleh ke arahnya dengan tatapan biasa. "Kamu yakin dengan pilihan kamu?" tanyanya, memastikan untuk yang terakhir kalinya.


Aina tersenyum getir. "Kamu masih tidak mau menikahinya?"


Fauzan menggeleng. "Aku bukan mempermasalahkan pernikahannya. Aku mempermasalahkan tanggung jawab setelahnya, Aina," tutur Fauzan, lembut.


"Kenapa? Apa yang kamu takutkan? Kamu pernah bersama dengan Keisha di ranjang yang sama. Aku kira, sayang padanya bukan hal yang sulit. Dia cantik dan pintar walaupun pendidikan hanya sampai SMA!" ucap Aina, seakan tak membawa beban selama pembicaraan mereka berlangsung.


"Aku tahu. Mencintai orang sepertinya memang mudah. Apa lagi dia tipe orang yang di sukai semua lelaki." Fauzan menatap punggung istrinya yang tampak tegar, tapi tersimpan luka di dalam hatinya. "Apa kamu tidak takut jika nanti aku tidak lagi adil atau menyayangi kamu seperti sekarang?"


Aina menoleh pada suaminya. Menatap lelaki itu dengan benar. "Mas," panggilnya, dengan suara lembut sambil mengambil tangan Fauzan. "Jika aku tidak bisa menerima risikonya, mana mungkin aku meminta kamu meminangnya? Aku sudah paham dengan baik, plus dan minusnya hubungan kita nanti, saat Keisha hadir di kehidupan kamu. Aku baik-baik saja, Mas. Aku akan berusaha," ucapnya, tabah.


Fauzan menatap Aina dengan tatapan berat. Seakan tak ingin melakukan hal yang lebih buruk dari ini pada istrinya yang sabar dan pemaaf.


Aina mengangguk pelan. "Sayangi dan pedulikan dia, sama seperti kamu memperlakukan aku sekarang. Aku akan melakukan hal yang sama, menjaga dan membimbingnya untuk menjadi wanita lebih baik untuk kamu. Percaya aku, Mas. Di madu memang tidak senyaman di jadikan ratu. Tapi selama itu melindungi kita dari neraka, aku akan baik-baik saja."


Aina menatap Fauzan dengan mata berkaca-kaca. "Setidaknya, biar Tuhan dan aku saja yang tahu betapa sakitnya hatiku saat mengatakan bisa mengikhlaskanmu dan dia bersama!" batinnya, pedih.


"Aku ikhlas, Mas. Nikahilah dia, besarkan anak kalian selayaknya kasih sayang yang harus di dapatkan seorang anak, dari kedua orang tuanya. Yang tercela itu kalian! Bukan buah hati kalian. Anak adalah titipan Tuhan. Jadi jagalah dia dengan baik, selayaknya kamu menjaga anak-anakku dulu," ucap Aina, penuh keikhlasan baik dari sorot mata atau di dalam senyumannya.


Fauzan menangis. Dia meneteskan air matanya mendengar penuturan Aina yang begitu lembut, tanpa ada kemarahan di dalamnya.


"Satu tahun yang lalu, aku baru sadar kalau kamu benar-benar berhijrah. Dan sekarang aku di buat takut dengan ketabahan kamu, Na. Bagaimana bisa kamu setabah itu, saat aku tidak sengaja menghancurkan kebahagiaan kamu?" ucap Fauzan, dengan mulut gemetar.


Fauzan menelungkupkan kepalanya ke dalam pangkuan Aina, membuat sang istri membelai kepalanya pelan.


Kata maaf tak henti-hentinya keluar dari mulut lelaki itu di sela-sela tangisnya.


Aina tahu seberapa besar dan kerasnya Fauzan menjaga hati dan dirinya. Dan, saat ujian seperti ini datang, bukan hati Aina saja yang hancur. Bukan pula dunia dan Aina saja yang menjadi gentar dan takut. Tapi juga Fauzan!


Karena kisah hidup mereka di ukir bersama, setidaknya Aina sadar jika yang sakit hati dan hancur bukan dirinya sendiri. Karenanya, Aina tak pernah menyalahkan Fauzan untuk segalanya.


Aina mendongak, menghirup dalam udara sejuk yang berembus dari luar jendela. "Astagfirullah, ujianmu sungguh berat, Tuhan," batinnya, sesak.