
"Mama," panggil Alva, tak membuat wanita berusia 32 tahun itu menoleh padanya.
Aina hanya diam di dalam mobil, memandang keluar jendela tanpa mengatakan apa pun padanya.
Sementara Nuri juga diam dengan memandang sang Ibu, dengan tatapan sedih.
Sejak melihat Aina masuk ke dalam mobil dengan wajah yang sembab, putri bungsunya itu tak mengatakan apa pun dan hanya diam memandangnya dari belakang.
"Mama kenapa, Kak?" tanya Nuri, pada Alva, yang duduk di sampingnya dan terus memandang ke arah Ibunya.
"Tidak ada, Nuri. Jangan khawatir, semua baik-baik saja," ucap Alva, memeluk adik perempuannya dengan lembut dan menepuk-nepuk pundaknya pelan.
Nuri pun diam, tak mengatakan apa pun dan terus diam di dalam pelukan Alva, sampai mobil mereka sampai di rumah.
"Mama masuk dulu," ucap Aina, segera turun dari mobil dan meninggalkan mobil begitu saja.
Alva pun tak bisa berbuat apa pun. Dia hanya diam dengan kepala menunduk dalam, merasa bersalah karena sudah membuat sang Ibu menangis di depan banyak orang.
Alva turun dari mobil dengan menggendong Nuri yang tertidur di pelukannya. Membawa adik perempuannya ke dalam kamar dan menidurkannya dengan nyaman.
"Mbok, besok malam akan ada tamu yang datang. Tolong di persiapkan, ya!" ucap Aina, berbicara pada pembantu perempuan mereka.
Mbok Yanti menganggukkan kepalannya pelan. "Baik, Nyonya. Ada yang datang nggeh, besok?" tanyanya, penasaran.
"Iya. Besok ada tamu penting yang datang. Usahakan masak menu yang mewah ya, Mbok," seru Aina, sambil tersenyum lembut, seperti biasa.
"Baik, Nyonya. Kalau begitu saya izin pergi ke pasar untuk beli bahan makanannya, nggeh?!" ucap Mbok Yanti, bersemangat.
Aina hanya mengangguk dan membiarkan wanita berusia 40 tahun itu berlalu pergi.
Alva berjalan turun dari lantai dua sambil menatap ke arah sang ibu dengan tatapan lurus.
Aina menunggunya, menunggu Alva sampai di depannya dan membiarkan putra sulungnya mengatakan apa yang menjanggal di hatinya.
Aina memandang Alva dengan tatapan sendu. Membuat hati sang anak tercabik-cabik saat melihatnya.
"Iya, sayang. Besok Keisha akan datang ke rumah." Aina menatap raut wajah Alva yang mengeras. "Tolong bersikap baik padanya, besok. Mama minta tolong sama kamu," lanjutnya, dengan suara kalem.
Alva terdiam, tak menjawab apa pun atas permintaan itu. Dia hanya berlalu pergi dengan ekspresi marah, meninggalkan sang Ibu seorang diri di lantai satu.
"Kamu belum menjawab Mama, Alva!" seru Aina, membuat Alva menghentikan langkahnya di tengah-tengah tangga.
"Iya, Alva mengerti. Alva usahkan, Ma. Senggaknya Alva gak ngerusuh dan buat Mama malu seperti tadi," jawab Alva, sambil berjalan pergi, masuk ke dalam kamarnya.
Klap ....
Aina menghela napas panjang. Dia tampak lelah menghadapi masalah ini.
Hatinya terasa berat, tapi dia berusaha menahan tangis dan amarahnya sebaik mungkin.
Setidaknya, jangan sampai kedua anaknya tahu jika dia menderita karena kehadiran Keisha.
"Mau aku buatkan minum?" tanya seorang lelaki berusia 37 tahun, keluar dari kamarnya dengan tatapan sendu.
Aina mengulas senyum lembut, menyambut kedatangan kakak iparnya dengan tatapan sedih.
"Tidak usah, Kak. Terima kasih. Kakak pulang untuk ambil baju, kan? Mau Aina bantu siapkan?" tanya Aina, menatap Fadil yang beranjak duduk di sofa sebelahnya.
"Enggak perlu. Sudah beres semua. Kamu kenapa? Fauzan berbuat buruk lagi? Biar aku marahi kalau dia bertindak tidak–"
"Fauzan punya selingkuhan, Kak."
"Apa?!!"