Don'T Be The Antagonist

Don'T Be The Antagonist
Yang Pertama



Aina menatap kelaur jendela kamar pribadinya dengan tatapan lelah, setelah lama bekerja, akhirnya dia punya waktu untuk sedikit bernapas.


Tapi baru 5 menit dia bersantai, tiba-tiba Aina mendengar suara ribut dari luar kamarnya dan memicu rasa penasarannya muncul.


Aina keluar dari kamar, berjalan ke dekat anak tangga dan menatap apa yang ada di bawah sana.


"Apa? Kamu gimana sih, Bang! Gila aja kamu jadi orang. Kamu kira itu kerjaan yang bakal selesai seminggu?!" amuk Izra, mengacak rambutnya kasar berulang kali.


Sementara Alva hanya bisa diam dan menundukkan kepalanya, dan hanya bisa meminta maaf padanya.


"Aku tidak tahu, maaf. Aku kira hanya sampah karena di biarkan berserakan di lantai. Aku akan bantu kamu buat yang baru, maaf ...." Alva menundukkan kepalanya terus menerus, tapi tak membuat Izra meredam amarahnya.


Aina turun dari atas, mendekati kedua putranya dengan melipat kedua tangannya di depan dada.


"Sebenarnya kenapa kalian ribut sekali? Apa yang di ributkan?" tanya Aina, menengahi keduanya.


Izra hanya menghela napas kasar dan melangkah pergi. "Tidak ada!"


Aina beralih menatap Alva yang masih setia di sana, dengan sorot matanya yang tampak bersalah.


"Apa yang kamu lakukan sampai adikmu marah?" tanya Aina, menatap Alva dengan tegas.


"Aku tidak sengaja membuang laporan sekolahnya. Aku benar-benar tidak tahu, Ma," ucap Alva, tak berusaha membela dirinya. Tapi karena itulah yang terjadi pada mereka.


Drt ... drt ....


Aina menatap ponselnya yang berdering di dalam saku baju terusannya. Dia mengambil benda itu dan melihat nama suaminya di sana.


"Minta maaflah pada adikmu, tanggung jawab padanya. Mama mau mengangkat telepon dulu," ucap Aina, melangkah keluar rumah dan duduk di bagian teras.


"Halo, ada apa, Mas? Kamu butuh bantuanku?" tanya Aina, malah mendengar suara hembuskan napas lega dari seberang sana.


Aina yang mendengar itu, lantas mengerutkan keningnya dalam, menatap ponselnya dengan tatapan heran.


"Kenapa, Mas? Kamu ada masalah di sana? Katakan saja, aku akan bantu sebisa–"


"Aku merindukan kamu, Na. Maaf, tapi aku sempat mau pulang karena kamu tidak bisa di hubungi selama 2 hari, kemarin. Tapi kata anak-anak kamu hanya sibuk, walau sempat sakit," ucap Fauzan, terdengar sendu.


Aina diam beberapa saat dan mengulas senyuman lembut sambil menundukkan kepalanya pelan.


"Maaf tidak menghubungi kamu, aku kira kamu sibuk dengan Keisha di sana. Jadi aku tidak ingin mengganggu kamu. Hanya itu, maaf jika membuat kamu khawatir, Mas."


Fauzan hanya tersenyum kecil dan menatap Keisha yang berjalan mendekat padanya dengan membawa banyak makanan di tangan kanannya.


"Mbak Aina?" tanya Keisha, dengan suara lirih agar tidak terdengar orang di seberang sana.


Fauzan mengangguk dan tersenyum senang, melihat itu Keisha hanya menggelengkan kepalanya ampun dan lanjut fokus pada makanannya.


Sementara Fauzan masih enggan menutup telepon mereka, walaupun keduanya tidak mengatakan apa pun.


"Sudah, kah? Aku harus lanjut bekerja sekarang. Kamu makan malam, lah. Aku sudah makan malam dengan anak-anak tadi," jelas Aina, membuat rona wajah Fauzan berubah sedih.


Sementara Keisha hanya memperhatikannya dari jauh, memandang lelaki yang juga menjadi suaminya itu, dengan tatapan bingung.


"Di depan Aina dia selalu banyak berekspresi. Tapi di depanku, dia hanya terus terlihat menyebalkan dan kadang tersenyum saja," batin Keisha, tampak bosan melihat wajah Fauzan yang seperti itu.


Keisha merasa aneh pada dirinya sendiri. "Apa aku cemburu? Kenapa beranggapan begitu?" batinnya, menepuk-nepuk dadanya yang terus berdebar semakin kencang saat memikirkannya.


Keisha segera menggelengkan kepalanya kuat, menghalau semua pikiran itu dan berjalan pergi meninggalkan Fauzan tanpa pamit.


Fauzan yang baru menutup teleponnya, hanya menatap Keisha yang berpindah tempat dengan tatapan tak acuh, sebelum kembali melanjutkan makan malamnya dengan tenang.


Ya, baru saja tenang untuk Fauzan! Tapi seorang wanita dengan berpakaian sangat feminin mendekatinya dan pura-pura jatuh di depan Fauzan, terlebih dengan sengaja menumpahkan minumannya kebagian dadanya.


Fauzan tak salah fokus, dia hanya sigap menolong wanita itu dan kembali duduk di tempatnya, lanjut makan.


Tapi wanita bergaun merah itu tampak kesal dan menatapnya tajam. "Kamu sudah menumpahkan minuman ke bajuku! Setidaknya kamu meminta dan mengantarku membeli yang baru, kan?!" celetuknya, marah.


Fauzan menoleh padanya dengan tatapan datar, menatap wanita itu dengan tatapan tak berminat.


"Maaf, saya bahkan dalam sikap sempurna saat Anda jatuh di samping saya. Lalu, kenapa pula saya harus membuat Anda jatuh dan basah seperti itu? Saya tidak kekurangan wanita sampai harus menggoda seorang wanita muda," celetuk Fauzan, membalas dengan cara yang cukup ketus.


Keisha yang mendengar itu langsung terkekeh, sementara banyak orang yang memperhatikan keributan mereka dengan tatapan risik.


"Kalau Anda ingin uang, saya bisa memberikannya. Tapi kalau Anda butuh perhatian saya juga, maaf ... saya tidak berminat untuk memberikannya!" celetuk Fauzan, memberinya beberapa lembar uang dan berjalan mendekati meja Keisha.


Fauzan duduk di sana dan menatap Keisha yang menertawakannya, dengan tatapan tajam. "Jangan tertawa! Kamu mau mempermalukan aku?!"


Keisha masih tertawa, terlebih saat dia melihat wajah kesal Fauzan. Dia benar-benar terlihat menghibur.


"Maafkan aku, Mas. Tapi wajahmu tak bisa membuatku berhenti tertawa. Coba bantu aku menghentikan tawa ini kalau kamu bisa, hahaha ... aku akan menutup mulutku setelahnya!" ucap Keisha, terus menertawakan Fauzan.


Drk ....


Fauzan berpindah tempat duduk, duduk tepat di samping Keisha dan menarik dagu gadis itu mendekati wajahnya.


Sebuah kecupan yang penuh hasrat hadir di bibir Keisha yang terasa manis, karena baru saja makan cake itu.


Beberapa saat Fauzan melakukan adegan itu di depan umum, cukup membuat sikap dan diri Keisha syok setengah mati sampai di buat mati kutu.


Fauzan membenarkan jasnya, mengusap sudut bibir Keisha yang basah karena liurnya. "Kita suami istri, tak apa melakukan tindakan itu. Sudah pernah tidur juga, apa yang perlu di permasalahkan, iya kan?"


Keisha hanya diam, tak menjawab perkataan Fauzan dan hanya menatap lelaki itu dalam.


"Kamu menciumku?" tanya Keisha, seketika kedua aliasnya mencuram dalam dan membuat Fauzan menatap dingin dan terkesan meremehkan.


"Memangnya kenapa? Aku hanya mencium istriku, tidak ada yang masalah. Mau aku tidur denganmu dan membuatmu kepanasan saat malam pun, tak akan ada yang bisa menyalahkannya. Karena aku suaminya, dan kamu istrinya! Jadi menurutlah, dan jangan remehkan suamimu lagi. Aku tidak suka yang seperti itu," cetus Fauzan, panjang.


Keisha tak bisa bergeming, dia hanya diam dan mengalihkan pandangannya pada Fauzan. Menutupi wajahnya yang merona dengan kedua telapak tangannya, lalu menunduk dalam dan berteriak pelan.


Akhhh ....


Fauzan mengerutkan keningnya dalam, menatap Keisha yang tampak malu tapi juga mencurigakan. Respons yang kekanak-kanakan itu, nyaris terlihat menggemaskan bagi Fauzan.


"Salting?" tanya Fauzan, menarik bahu Keisha dan membuat Keisha menatapnya dengan wajah memerah.


"Tidak!!"