
"Mari ikut saya untuk berbicara dengan Tuan Fadil, Nona Keisha!" ucap Fani, dengan tatapan datar.
***
Keisha menatap enggan. Dia tidak lagi bersemangat. Sikap angkuh yang sudah dia latih semalaman, hilang begitu saja. Padahal dia sampai menonton adegan antagonis di sinetron untuk hari ini.
"Tch, kenapa Anda ingin membawa Tante Keisha bertemu Om Fadil?" tanya seorang lelaki berusia 17 tahun, keluar dari pintu bagasi dengan mendorong motor metriknya.
Fani dan Keisha menoleh padanya dengan tatapan beragam. Fani yang langsung tunduk, sementara Keisha yang terlihat ciut di depan anak remaja itu.
"Memalukan!" pekik Keisha, merutuk dirinya yang tak berdaya di depan Alva.
Alva menatap angkuh kedua wanita yang sama-sama tak bisa menatap matanya secara langsung, dengan tatapan malas.
"Jika tidak ada yang penting. Saya akan mengantar Tante Keisha pulang," celetuk Alva, menghela napas kasar beberapa kali.
Keisha mendongak, menatap Alva dengan tatapan bingung dan setengah takut. Ada rasa waspada di dalam manik matanya, namun Alva tak terlalu memusingkannya dan melanjutkan apa yang harus dia lakukan.
"Ayo, Mama menyuruhku mengantar, Tante. Jangan khawatir. Walaupun mulutku kurang ajar, aku tidak akan memukul perempuan!" ucap Alva, mendengus kasar sambil menunggu Keisha naik ke boncengan motornya.
"Tidak kasar? Kemarin siapa yang mendorongku di depan banyak orang, halo?!" pekik Keisha, di dalam hati.
Fani tak bisa berbuat apa pun. Dia hanya menundukkan kepalanya, membiarkan Keisha pergi dengan Alva.
Fani tidak ingin mengundang keributan. Terlebih lagi, jika Alva tahu apa yang telah di lakukan oleh Fadil pada Keisha, dia pasti akan marah dan bertengkar dengan Pamannya.
Bagaimana pun juga, Alva lebih tidak senang jika ada seseorang yang menentang keinginan baik sang Ibu, dari pada harus melakukan apa yang dirinya benci.
Keisha duduk di boncengan Alva, tak mengatakan apa pun dan tak berani berpegangan pada remaja lelaki itu.
"Saya pergi," ucap Alva, pada Fani.
"Baik, hati-hati, Tuan."
Alva menjalankan motornya, keluar dari pekarangan rumah inti yang sangat besar, dengan pelan.
"Aku tidak menentangnya lagi," ucap Alva, membuat Keisha menatapnya dengan tatapan bingung.
"Maksudnya?" tanya Keisha, heran dan kebingungan.
"Tentang pernikahan Anda dan Ayah. Aku tidak menentangnya lagi," ucap Alva, menjelaskan dengan sedikit panjang.
"Bukannya kamu tidak suka denganku?" tanya Keisha, masih penasaran dengan alasan Alva berubah pikiran secara tiba-tiba seperti itu.
Alva diam beberapa saat dan mengulas senyuman getir. "Anda tidak perlu tahu. Kita juga tidak perlu akrab satu sama lain. Asalkan Anda tidak berbuat jahat pada Mama dan Nuri, aku tidak akan mengganggu Anda," jelasnya.
Keisha diam. Merasa tak puas dengan jawaban Alva yang terkesam menggantung dan menyembunyikan sesuatu.
"Aku tidak bisa menyakiti orang baik seperti Ibumu. Aku lemah terhadap orang tulus. Jadi kamu tidak perlu khawatir," ucap Keisha, dengan nada lirih.
"Khawatir itu harus. Anda sudah pernah membuat Mama menangis. Aku hanya berharap kejadian seperti itu tidak terulang lagi. Mangkanya aku memperingatkan Anda, Bunda!"
Keisha membulatkan matanya, mendengar dirinya kembali di panggil "Bunda" oleh anak Aina dengan enteng.
"Ka-kamu juga akan memanggilku dengan sebutan Bunda?" tanya Keisha, tak percaya sekaligus heran, kenapa Alva juga mau melakukan hal yang jelas-jelas tidak dia suka.
"Iya. Mulai sekarang aku akan panggil seperti itu juga. Mama menyuruh kami menerima Bunda dengan baik. Mangkanya aku coba. Aneh ya?" Alva melirik ke arah Keisha yang masih tercengang di belakang sana.
"Jangan tanyakan hal itu. Jawabannya sudah jelas, kan?" celetuk Keisha.
Keisha menelan ludahnya susah, menatap ke arah Alva dengan tatapan tak yakin.
"Jika adikmu, aku bisa mengerti kenapa dia menurut saja dengan perkataan Ibu kamu. Tapi, lain dengan kamu Alva. Kamu sudah besar dan bisa menentang itu. Tapi kenapa kamu memilih melakukannya?" tanya Keisha, terheran-heran.
Alva tersenyum miring. "Bukankah jawabannya juga sudah jelas?" Alva menatap Keisha dengan tatapan licik. "Karena kami bukan anak durhaka, Bunda."
"Bukan anak durhaka, ya?" gumam Keisha, menimbang-nimbang jawaban dari calon anak sulungnya.
"Iya. Tidak suka pun, aku akan melakukannya. Asal itu permintaan Mama, bukannya Ayah yang sudah menyakiti Mama!" ucap Alva, geram.