
Fauzan menatap Aina yang sedari tadi diam dengan menatap makanannya.
Dia tampak tak berselera, padahal biasanya dia terlihat yang paling tegas dan bersemangat walaupun di guncang masalah besar seperti Keisha!
Lantas kenapa dengannya hari ini? Kenapa pendiam sekali?
Keisha dan Fauzan saling menatap, menatap dengan tatapan bingung dan resah melihat sikap Aina yang pendiam saat ini.
Padahal Aina yang meminta Keisha datang ke rumah untuk makan siang bersama, bertiga. Tapi dia juga yang terlihat aneh dari tadi.
"Kamu kenapa, sayang?" tanya Fauzan, menggenggam tangan Aina lembut, membuatnya menoleh pada suaminya.
"Aku baik-baik saja. Hanya sedikit pusing karena pekerjaanku banyak," ucap Aina, tersenyum ala kadarnya.
Fauzan mengerutkan keningnya samar, menatap wajah Aina yang terlihat lebih pucat dari biasanya.
"Apa dia sakit lagi?" batin Fauzan, mulai menerka. "Tapi kenapa harus sekarang? Padahal dia berkata jika ada sesuatu yang ingin di sampaikan, tapi dia malah diam. Membuatku resah saja," lanjutnya, khawatir.
"Ini," Aina menyerahkan sebuah amplop coklat yang cukup besar kepada Keisha. "Kalian berdua bisa memilih salah satu dari tempat yang sudah aku pilih untuk wedding hallnya."
Keisha membuka amplop itu dan membuat Fauzan mendekat ke arahnya, melihat beberapa potret yang terlihat di sana dengan serius.
"Kamu ingin yang mana? Aku serahkan saja padamu. Aku tidak bisa memilihnya, karena pilihan Istriku selalu 'the best' untukku," celetuk Fauzan, membuat Keisha mencibir pelan.
"Dasar bucin. Bagaimana kalau kita pergi langsung untuk melihatnya?" celetuk Keisha, menatap Fauzan dengan bersemangat.
Fauzan langsung mengangguk dan menatap ke arah Aina yang tampak diam, dengan kedua mata yang terus menuju ke arah keduanya.
Deg ....
Tatapan Aina membunuh keberanian Fauzan untuk meminta izin, agar mereka berdua bisa pergi melihat gedungnya secara langsung.
"Mbak, kami boleh melihat gedungnya secara langsung, kan?" tanya Keisha, sok tidak peka dengan sorot mata Aina yang tampak sendu tapi berusia tegar saat melihat kedekatan keduanya.
Aina mengangguk pelan. "Terserah kamu, Kei. Ini adalah pernikahan kalian berdua. Dan aku yang telah mengizinkannya, jadi lakukanlah sebaik mungkin," jawabnya, kalem.
Keisha terdiam, ada perasaan ngilu melihat senyuman lembut itu terukir di wajah Aina yang pucat.
"Mbak sakit? Kenapa terlihat sangat pucat?" tanya Keisha, dengan lantang dan berani.
Dia merasa Aina tak akan menyakiti atau marah padanya. Karena itu Keisha memutuskan untuk mendekati Aina dengan lebih berani.
"Aku baik-baik saja, Keisha. Kalian bisa melanjutkan pembicaraan kalian. Aku akan masuk dan tidak mengganggu kalian." Aina bangkit dari tempatnya dengan langkah anggun dan menatap suaminya dengan lekat. "Berusahalah, jangan mengecewakanku," ucapnya, seakan menekankan.
Tok ... tok ... tok ....
"Aina, kenapa kamu masuk ke sana? Kenapa tidak pergi ke kamar kita saja, sayang!" teriak Fauzan, tampak sangat cemas, sampai-sampai membuat semua orang keluar untuk melihat keributan yang terjadi.
"Kenapa kamu berteriak, Fauzan?" tanya Fadil, berjalan mendekati adiknya yang tampak pucat karena khawatir.
"Aina masuk ke sini, Bang. Kamu juga tahu, apa arti kamar ini untukku, kan? Jika sampai Aina masuk ke dalam sana, berarti dia–"
"Dia sudah ada di dalam sana sejak 3 hari yang lalu, Fauzan! Jangan membuat kami takut, dia sudah keluar masuk ke kamar itu sejak kamu pergi dinas kemarin," jelas Fadil, menepuk keningnya ampun.
"Tapi jika Aina masuk ke sana, berarti dia sedang–"
"Sudahlah! Dia akan baik-baik saja. Dia hanya tidak ingin sekamar dengan kamu. Jangan di perpan–"
Brak!
Fadil dan Fauzan membulatkan matanya, tampak kaget dengan suara benturan yang sangat nyaring di dalam ruangan itu.
"Sudah aku bilang. Jika dia masuk ke sini, dia pasti sedang kesakitan! Jangan sok tahu tentang istriku," marah Fauzan, menatap Fadil dengan tatapan benci.
Sementara Fadil pun terdiam, menatap Fauzan yang terus menyerukan nama Aina dengan tatapan bersalah.
"Apa yang Abang lakukan? Minta kunci cadangannya dari Mbok Yanti!" pinta Fauzan, panik.
"B-baiklah."
"Aina, kamu baik-baik saja? Jangan membuat kami takut. Jawab aku!!" teriak Fauzan, terus mendobrak pintunya dengan raut wajah khawatir.
"Apa yang terjadi di rumah ini?" batin Keisha, tak bisa menalar alasannya.
...Aina Anindya Putri...
...(Aina)...
...Berusia 32 tahun. Pendiri Perusahaan Keamanan SC. Direktur Utama yang identitasnya tidak banyak di tahu oleh sang bawahan, tapi di waspadai oleh rekan bisnisnya. ...
...Dia adalah wanita yang memiliki banyak pekerjaan walaupun jarang keluar rumah! Sikap sabar dan lemah lembutnya dapat menyembunyikan segala pemikirannya. ...
...Karena Aina bukan orang yang mudah di tebak, dia adalah salah satu orang yang di anggap berbahaya di dalam dunia bisnis. ...