Don'T Be The Antagonist

Don'T Be The Antagonist
Home Alone



Keisha duduk di tepi ranjang dengan menundukkan kepalanya. Kini rumah yang tadinya ramai oleh tamu undangan, telah sepi dan menyisakan mereka serta para pembantu di rumah itu.


Pintu kamar yang masih di buka, dan penampakan Keisha yang menyedihkan di dalam kamar pengantinnya, menjadi tontonan utama para pembantu rumah Fauzan.


"Hahh, kamu tidak membawakan makan malam untuk Non Keisha?" tanya Mbok Yanti, menatap Mbak Vina yang menyapu lantai di bagian depan kamar pengantin baru itu.


Mbak Vina menggelengkan kepalanya mantap, menatap Mbok Yanti dengan tersenyum masam.


"Kalau Non Keisha mau, sudah dari tadi dia mengomel lapar, Mbok." Mbak Vina mencelingukkan kepalanya menatap ke dalam ruangan, melihat kondisi Keisha yang tampak murung. "Tapi sepertinya Non Keisha sedang tidak berselera," ucapnya, berbisik.


Mbok Yanti kembali menghela napasnya, menatap Keisha dengan tatapan lekat. "Mbok buatkan susu hamilnya saja, besok Non Keisha juga kontrol ke dokter. Tidak baik mengabaikan nutrisi anaknya walaupun dia tidak mau makan," ucapnya, bergegas turun ke dapur.


Mbak Vina hanya diam, membiarkan wanita itu melakukan apa yang dia inginkan. Sementara dia hanya bisa melihat ke dalam ruangan dengan tatapan sedih.


Tok ... tok ....


Mbak Vina mengetuk pintu, membuat perhatian Keisha teralih padanya dengan sempurna.


"Anda tidak makan malam?" tanya Mbak Vina, menatap sedih pada sosok majikan barunya. "Walaupun tidak berselera, bayi Anda butuh nutrisi."


Keisha menunduk, menatap perutnya yang mulai menggembung, bagi Keisha. Padahal jika di lihat, perutnya masih datar seperti biasanya.


"Baiklah, aku akan makan." Keisha menghela napas dalam, berusaha menguatkan dirinya untuk bangkit dari posisinya. "Aku ganti baju dulu, kamu bisa siapkan makan malamnya di dapur," ucapnya, beranjak menutup pintu.


Mbak Vina mengangguk dan meninggalkan tempat itu dengan segera, pergi ke ruang bawah untuk menemui Mbok Yanti.


"Mbok, Non Keisha mau makan malam. Tolong siapkan. Saya masih bersih-bersih," ucap Mbak Vina, memberitahukan.


Mbok Yanti yang ada di dapur langsung mengangguk sambil tersenyum pada Mbak Vina yang membawa berita gembira itu padanya.


"Iya, Non Keisha suka apa? Nanti biar Mbok masakkan, biar dia semangat makan," ucap Mbok Yanti, semangat.


"Non Keisha mah suka nasi padang, tapi ayam goreng saja dia pasti suka," jawab Mbak Vina.


Mbok Yanti mengangguk, segera mengeluarkan ayam dari lemari pendingin dan membiarkan Mbak Vina pergi meninggalkannya.


Brak!


Mbak Vina, Mbok Yanti dan Mas Gintara, menoleh pada kamar Keisha, tempat asal dari bunyi keras itu berasal.


Mbak Vina menatap Mas Gintara yang ada di lantai dua, tengah membersihkan dekorasi dinding dengan menaiki tangga, dengan tatapan cemas.


Namun baru saja mau mengetuk pintunya, Keisha sudah keluar dari kamarnya dengan pakaian tidur yang cukup terbuka di bagian dadanya.


Mas Gintara langsung membalik tubuhnya, bersikap canggung karena baru saja melihat belahan duren milik Nyonya Muda barunya.


"Kamu kenapa Mas Gin? Tegang amat," celetuk Keisha, menatap aneh penampakan Gintara yang memunggungi dirinya.


Glek!


Keisha semakin mengerutkan keningnya saat mendengar Gintara menelan ludahnya dengan kasar. "Kamu kenapa, heh? Canggung lihat aku kayak gini?" tanyanya, di sertai tawa kecil, seakan mengejeknya.


Mas Gintara hanya diam dan membiarkan Keisha berlalu darinya. Bagaimanapun, mereka hanya terpaut 1 tahun. Gintara masih bisa malu melihat pemandangan seperti itu dari gadis kota, karena dia adalah orang desa yang punya sopan santun.


Keisha masih terus meledek Mas Gintara sampai dia sampai di meja makan dan duduk di sana, menunggu makan malamnya siap.


"Kenapa, Non? Kok ketawa terus?" tanya Mbok Yanti, menatap Keisha yang terus cekikikan sambil memainkan ponselnya.


"Enggak, itu loh Mbok. Masa Mas Gintara canggung lihat saya kayak gini? Padahal dulu juga sering lihat pas di villa. Kan aku jadi ketawa lihatnya, hahaha," celetuk Keisha, membuat Mbok Yanti kembali memperhatikan penampilannya dari ujung kaki sampai ujung kepala.


"Walah, Non. Memang pakaian Non Keisha cantik gitu. Pantas saja Mas Gintara ketar-ketir. Orang dia itu, orang desa. Beda sama orang kota yang udah bisa lihat perempuan pakai baju terbuka, dia mah jarang. Nyonyakan selalu pakai pakaian tertutup, jadi mungkin dia baru lihat yang sexy dari Non Keisha aja," celetuk Mbok Yanti, entah kenapa membuat Keisha ke pikiran ke mana-mana.


"Gitu, ya? Ya udah. Saya ke kamar dulu deh. Mau ganti baju. Malu juga kalau kayak gitu jadinya," celetuk Keisha, segera naik dan mengganti pakaiannya dengan yang lebih sopan.


Klek ....


Gintara kembali berpapasan dengan Keisha saat dia hendak turun dan membawa sampah gabus dari hasil bersih-bersihnya.


Namun kini dia mengulas senyuman sambil menghela napas lega melihat penampilan Keisha yang lebih tertutup.


Keisha yang melihat ekspresinya kembali tertawa, membuat Gintara menundukkan kepalanya malu, karena harus menunjukkan betapa lugunya dia, di depan Nyonya Mudanya itu.


"Tidak salah menjadi polos, Mas. Maafkan aku, lain kali aku akan lebih memperhatikan penampilanku di luar kamar," celetuk Keisha, sambil beranjak menuruni tangga.


Gintara yang mendengar itu tersenyum, dan memuji betapa baiknya sikap Keisha dalam menghargai pandangan orang lain.


"Terima kasih, Non," ucap Mas Gintara, membuat Keisha mengangguk dan lekat turun untuk makan malam, karena hidungnya sudah mencium aroma sedap dari masakan Mbok Yanti.


Gintara menghela napas lelah, menatap Keisha dengan tatapan kasihan.


"Padahal ini malam pertama beliau, tapi Non Keisha malah di tinggal sendirian di rumah dengan keadaan kacau," batin Gintara, merasa sedih melihat kondisi rumah dan Nyinya Muda barunya itu.