
Keisha menatap beberapa orang yang duduk di depannya dengan tatapan malas.
Kedua orang wanita yang sempat tak mau berbicara dengannya karena pernikahannya dengan Fauzan yang di anggap menyimpang.
Namun kini dia menatap dua orang wanita itu, duduk di antara teman-temannya yang lain di hadapannya.
"Selamat atas pernikahanmu, Keisha! Aku tidak percaya jika gadis miskin sepertimu berhasil naik pangkat, haha ...."
Keisha hanya diam, tak menghiraukan perkataan menyakitkan itu. Dia hanya fokus menatap Lina dan Fani yang terus diam, dengan menghiraukan yang lainnya.
"Jadi kapan tanggal pernikahannya, Keisha? Jangan lupa undang kami, hahaha. Aku akan bawakan kado mahal untukmu, kamu pasti senang!"
"Ya, aku akan belikan yang belum pernah kamu kenakan. Selama ini aku terus melihatmu dengan pakaian KW itu. Yah, walaupun cocok dengan kelasmu sih hahaha."
"Kenapa kalian terus mencemooh adikku?" seru seorabg wanita, datang bersama dengan beberapa orang wanita berjilbab di belakangnya.
Semua orang di angkatan Keisha langsung berdiri, menatap Aina dan teman-temannya dengan tatapan pucat.
Aina mendekat pada Keisha dan menepuk-nepuk pundaknya. "Jangan mau di rendahkan. Kenapa diam saja? Mulut temanmu sangat pedas, sebaiknya kamu ikut denganku ke sana. Kami juga akan mengadakan reuni di sini," jelasnya, ramah.
Keisha mengerutkan keningnya dalam, menatap sikap Aina yang tetap baik dan ramah seperti biasanya, membuat Keisha merasa sedikit risik dan tertekan.
"Kenapa saya harus bergabung bersama dengan Mbak? Teman-teman saya ada di sini. Lagi pula, tidak ada yang bisa aku bahas dengan kalian di sana," ucap Keisha, tampak angkuh tapi tak menunjukkannya secara nyata.
Aina menaikkan sebelah alisnya, menatap teman-teman Keisha yang tampak kagum dan takut padanya.
"Di sini?" Aina kembali menatap Keisha yang masih menentangnya. "Memangnya kamu juga bisa bicara di sini? Dari tadi kamu terus di anggap sampah karena merebut suami orang."
Aina menghela napas panjang, menghentikan pembicaraannya dan pergi meninggalkan tempat itu.
"Terserah kamu saja Keisha. Pokoknya aku sudah mengajakmu ikut denganku!" Aina melirik ke arah Keisha dengan tatapan datar. "Jika di tempatku, setidaknya kamu tidak akan di rendahkan dan di caci seperti itu."
Setelah mengucapkan itu, Aina benar-benar pergi dengan teman-temannya dan membuat teman-teman Keisha kembali duduk dengan helaan napas berat di waktu yang sama.
"Aina memang selalu bersikap baik padamu?" tanya salah seorang teman wanita, pada Keisha dengan nada julid.
"Baguslah. Kamu bisa akur dengannya setelah kamu dan Fauzan menikah." Wanita itu tersenyum culas. "Lalu, kamu bisa menyingkirkannya dengan mudah dan menempati posisinya. Kamu cantik dan pintar, kamu pasti menang dalam soal hati!"
Keisha mengerutkan keningnya dalam, menatap wanita itu dengan tatapan bengis.
"Jangan berbicara sembarangan. Aku tidak ada niat untuk menggantikan posisinya! Jaga mulutmu," desis Keisha, mengundang ketegangan.
Namun wanita itu tak sadar diri. Dia malah tertawa terbahak-bahak dan menganggap Keisha rendahan.
"Jika kamu ingin naik ke posisi itu. Kamu memang harus menyingkirkannya! Hah, jangan munafik Keisha. Kami tahu kamu menginginkan posisi istri pertama agar anakmu bisa menjadi pewaris keluarga Trisany. Jadi jangan berbohong!" celetuknya, lagi.
Keisha geram, ingin rasanya dia menjambak wanita berambut blonde itu dan menyiram wajahnya dengan segelas anggur.
"Sudah cukup. Jangan membuat Keisha tertekan dan banyak pikiran. Dia sedang mengandung," ucap Fani, menghentikan pertikaian itu dengan tegas.
Wanita yang mengganggu Keisha, langsung terdiam dengan memalingkan wajahnya, enggan menatap Fani yang terus membela sahabatnya.
"Kamu juga Keisha. Tawaran Nyonya Aina tidak buruk. Kenapa kamu menolaknya dengan ketus?" Fani mendengus kasar. "Aku lebih tenang melihatmu bersama dengannya dari pada terus di sini dan mendapatkan banyak hinaan sari mereka," jelasnya, bermaksud baik.
Namun Keisha tak mendengarkannya. Mungkin karena dia sedang marah pada Fani. Jadi baginya, pendapat Fani itu tidaklah penting dan dia tidak mau mendengarkannya.
Fani yang mendapatkan sikap itu, hanya memutar bola matanya malas dan bangkit dari tempat duduknya, tepat di saat Fauzan masuk dengan wajah bahagia.
"Itu suamimu, Kei!" celetuk seorang lelaki, membuat langkah Fauzan terhenti dan kedua manik matanya menatap ke arah Keisha berada.
"Kamu di sini?" tanya Fauzan, menghampiri Keisha dengan tatapan biasa saja. Tidak ada permusuhan atau cinta dari sorot matanya.
"Ya, aku juga ada reuni. Anda pergi menemui Mbak Aina?" tanya Keisha, tampak akrab walaupun bahasa mereka masih terlihat sangat kaku.
"Iya. Aku menyusul Aina ke sini." Fauzan menatap teman-teman Keisha dengan tatapan lekat. "Hem, bagaimana gaun yang aku kirim? Kamu suka? Aku yang memilihnya sendiri, dan Aina yang mengantarnya ke rumahmu kemarin," jelasnya, mengubah tatapan semua orang terhadap Keisha.
Mereka tak lagi menatap Keisha dengan pandangan mencibir, melainkan terkejut dan kagum karena hubungan keduanya begitu baik.
"A-Anda yang memilihnya untukku? Sungguh?" seru Keisha, tampak senang.