Don'T Be The Antagonist

Don'T Be The Antagonist
Anak Angkat



"Alva, tolong ambilkan Bunda minum dong," bisik Keisha, di dekat telinga Alva yang setia berdiri di bawah panggung, membantu mereka menyambut tamu yang datang.


Alva menatap wajah Keisha yang tampak lelah dengan tatapan sedih. "Bunda baik-baik saja? Bagaimana jika aku bilang ke Mama saja? Dia pasti mengizinkan Bunda istirahat jika memang di perlukan," ucapnya, memberikan ide.


Keisha melirik ke arah Fauzan, dan menoleh ke arah Aina yang duduk di temani Mirza dan Nuri, mereka tampak asyik mengobrol dan dia tidak ingin mengganggu ketenangan mereka.


"Tidak perlu. Kamu ambilkan Bunda minuman saja, itu sudah cukup."


Alva mengangguk mengerti, meninggalkan Keisha yang stay di atas panggung untuk mengambil minuman.


Tapi betapa kagetnya Alva saat melihat seorang lelaki yang datang dengan mengenakan jas serba hitam, dengan kacamata hitam yang menutupi wajah dinginnya.


Deg!


"Mati aku, sejak kapan Izra sampai di sini? Bagaimana aku menjelaskan situasi ini padanya?" celetuk Alva, seketika membeku melihat wajah adik lelakinya yang datang dengan tatapan tak senang.


Izra berjalan lurus ke arah panggung, menemui sang Ayah dan ibu barunya dengan langkah cepat.


"Weh! Mau apa kamu? Jangan mengacau di depan umum. Nanti Mama marah sama kamu!" celetuk Alva, segera menghentikan langkah sang adik.


Izra melepas kacamata hitamnya, menghela napas panjang dan menatap wajah Alva yang tegang dan canggung karena mereka sudah lama tidak bersua, dengan tatapan malas.


"Aku sudah tahu. Biarkan aku pergi ke mereka untuk mengucapkan selamat." Izra kembali menghela napas berat, menatap Kakak lelakinya dengan tatapan malas. "Mama tidak mungkin melupakan aku seperti kamu dan Ayah. Dia sudah memberi tahuku semuanya, minggir!"


Izra mendekati Fauzan yang terkejut melihat kehadirannya.


"N-nak? Sejak kapan kamu sampai? Kenapa tidak memberitahu Aya–"


"Haih, Ayah bahkan lupa denganku. Bagaimana Ayah tahu aku akan pulang tahun ini?" celetuk Izra, menyalami Keisha yang tampak bingung dengan kehadiran lelaki muda ini.


Keisha menoleh pada Fauzan, meminta kejelasan tentang identitasnya.


"Siapa kamu?" tanya Keisha, menatap Izra dengan tatapan bertanya-tanya.


Izra menoleh pada Aina yang menatapnya dari tempatnya dengan senyuman lembut, meminta anak keduanya bersikap baik pada Keisha di sana.


"Nama saya Mirza Pradana Putra, panggil saja Izra. Saya adalah anak angkat mereka. Anak tengah mereka!" celetuk Izra, memperkenalkan dirinya dengan benar.


Izra menatap Keisha dari ujung kaki sampai ujung kepala dengan tatapan intens. Menatap ekspresi kaget Keisha dengan tatapan santai nan tenang.


"Ah, Anda pasti terkejut. Ya, wajar jika Anda tidak pernah melihat saya. Saya jarang pulang ke sini karena menyelesaikan studi di luar negeri, karena pertukaran siswa di sekolah saya. Tapi mulai sekarang saya akan menetap di sini. Salam kenal, Bunda. Tolong bersikap baik pada saya juga," ucapnya, di akhiri dengan senyuman tipis.


Fauzan menatap tangan Izra, mengode anak lelaki keduanya untuk melepaskan tangan Keisha, karena mulai banyak pandangan tidak enak karena alasan itu.


Izra melepaskan tangan Keisha dengan lembut, memastikan wanita itu agar tidak terkejut dengan pergerakan kecilnya.


"Dia anakku, Aina yang membawanya. Dia anak yang pintar, karena itu dia di kirim ke luar negeri oleh sekolahnya untuk mendapatkan banyak pengalaman di sana." Fauzan menatap Keisha dengan tatapan akrab. "Perlakukan dia seperti kamu memperlakukan Alva. Dia anak yang baik walaupun tidak banyak bicara dan sedikit ketus. Dia masih tetap anakku yang penurut!" celetuknya, mengacak rambut Izra sampai setengah berantakan.


Izra yang mendapati sikap itu hanya mengeluh dengan menatap tajam sang Ayah, sebelum akhirnya pamit turun sari panggung, untuk menemui Aina dan adik perempuannya di bawah sana.


Keisha terdiam, masih syok dengan kedatangan anggota baru keluarga Fauzan yang tidak dia sangka-sangka.


"Dia benar-benar anak kalian? Tampan sekali," celetuk Keisha, malah melantur ke hal yang tidak jelas.


Fauzan memutar bola matanya malas, menatap wajah Keisha dengan tatapan lelah.


"Jangan macam-macam padanya. Dia tidak seperti Alva atau Nuri yang memiliki sikap frontal. Dia orang yang tertutup dan mengerikan." Fauzan menatap Izra yang tampak bahagia di dekat Aina dengan tatapan lurus. "Dia anak yang sama berbahayanya dengan Aina. Mereka orang yang sejenis. Jangan sampai kamu menyinggungnya," ucapnya, memperingatkan.


Keisha menganggukkan kepalanya mengerti dan kembali duduk ke tempatnya, dengan sesekali mengipasi dirinya dengan tangan.


Alva memberikan air dingin untuk Keisha dan menatapnya lama. "Bunda benar-benar baik? Aku tidak yakin," ucapnya, khawatir.


Keisha menatap Alva dengan senyuman lembut, menepuk-nepuk lengannya dengan pelan, sambil berkata, "Bunda baik-baik saja, Alva. Kamu tidak perlu khawatir, kecuali satu hal."


Fauzan dan Alva mengerutkan keningnya samar, menatap Keisha dengan tatapan bertanya-tanya. "Apa?" tanya mereka, bersamaan.


"Kakiku!" Keisha menunjukkan tumitnya yang berdarah dengan mengeluarkan ekspresi masam.


Izra menatap keributan di panggung dengan tenang, menatap Aina yang juga melihat ke arah itu dengan tatapan lelah.


"Mama tidak terganggu dengan kedatangan Bunda? Sepertinya dia orang yang merepotkan dan penuh rencana," celetuk Izra, bisa mengetahui kepribadian Keisha dengan cepat.


Aina menoleh padanya dan tersenyum lembut. "Jangan menyalahkan cara orang bertahan hidup, Nak. Selama kamu tidak merasa tersakiti atau bisa bertahan di tengah badai yang dia buat. Sikap sabar adalah kuncinya. Kamu paham?"


Izra mengangguk paham dan bangkit dari tempat duduknya. "Izra keluar sebentar. Sepertinya Bunda butuh sepatu yang nyaman dari pada high heels yang membuatnya cantik. Aku akan mencarikannya."


Aina mengangguk dan mengusap lembut pundaknya dengan menunjukkan senyuman lembut. "Baiklah, hati-hati di jalan."


"Iya."