
“Aina, kamu pikir sudah berapa lama usia pernikahan kita?” Fauzan memandang wajah istri pertamanya yang pucat dengan tubuh semakin lemah itu dengan tatapan lurus. “Apa semua ini terjadi karena kehadiran Keisha?”
Aina buang muka. Tak ingin melihat suaminya dengan kedua mata sendu yang menyiratkan kepedihannya. “Tidak. Aku hanya tak ingin lagi bersama denganmu.”
Fauzan mengusap wajahnya kasar. “Sebenarnya apa yang menjadi alasanmu sampai memberikan surat seperti ini kepadaku?” Fauzan mengepal erat surat perceraian yang telah di tanda tangani Aina dengan erat. “Kamu sudah tak mencintaiku lagi?”
Aina diam beberapa saat. Membuat Fauzan semakin tercekik dengan situasi mereka. “Jika itu yang kamu inginkan, aku akan menurutinya.”
Fauzan mengambil bolpoinnya dan membubuhkan tanda tangannya di dalam surat tersebut. “Puas?” ucapnya, sambil memperlihatkan isinya pada Aina.
Aina menelan ludahnya susah dan hendak meraih kertas tersebut. Tapi Fauzan langsung menyobeknya menjadi dua. “Tak akan ku turuti semua keinginanmu!”
Aina membeku di tempatnya. Kertas perceraian yang telah di tanda tagani keduanya telah di robek sampa Aina tak akan bisa memperbaikinya.
Wanita itu terduduk di tepi ranjang dengan tatapan nanar. Rasa sakit mulai menyerang kepala dan membuatnya menjadi sesak.
“Apa sangat sulit membiarkan aku lepas dari kehidupanmu?” Aina menatap Fauzan sendu. Air matanya hampir menetes dari pelupuk matanya yang menghitam.
“Ya. Itu sulit. Aku tak ingin melakukan ini untuk keluarga kita. Aku masih mencintaimu, Na.” Fauzan berujar lembut saat menyatakan perasaannya pada Aina.
Aina mengerutkan keningnya. Wajah pucat itu langsung memerah dengan sempurna di tengah badai air mata yang berjatuhan di pipinya.
“Jika seperti itu, seharusnya aku masih merasakan hal yang sama kepadamu, Mas.” Aina menggeleng lemah. Menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya yang gemetar. “Tapi aku tak bisa merasakan kebahagiaan lagi saat bersamamu.”
Fauzan diam. Dia terkejut dengan pengakuan itu. “Kamu tidak mencintaiku lagi?”
Aina kembali menggeleng dengan lemah. “Aku tak tahu.”
Wajah Fauzan berubah. Tatapan nanar yang di tunjukan lelaki itu dapat mengukir semua perasaannya di benak lawan bicaranya.
“Aku tak percaya kamu mengatakan hal ini, Aina. Kamu tak mencintaiku? Ap kamu telah mencintai lelaki lain?”
Aina menggelengkan kepalanya kuat. Kali ini dia memandang Fauzan yang tampak kecewa pada dirinya dengan benar.
“Aku tak pernah mencintai lelaki lain saat bersamamu. Mau pun dulu atau sekarang. Aku tak pernah menduakan kamu, Mas.”
Aina memberikan jeda. Menyusuri kedua manik mata cemerlang milik suaminya dalam-dalam.
“Tapi bagaimana denganmu? Apakah aku masih satu-satunya di dalam hatimu?”
Fauzan menghela napas dari mulutnya. Air matanya ikut turun. Menyertai rasa sakit yang menusuk dadanya ribuan kali dengan kasar.
“Kamu mencurigaiku?” Fauzan menyandarkan dirinya di kepala sofa. Kedua kakinya sudah lemas karena pertengkaran yang jarang terjadi ini, terasa begitu pelik untuknya. “Kamu adalah orang yang memintaku menikahi Keisha, Na. Kamu! Bukan aku yang menginginkannya!”
Aina kembali menunduk dan menangis pada posisi yang sama. “Aku tak mempermasalahkan pernikahan itu. Aku kira kamu tak akan mencintainya selama aku ada di sampingmu. Tapi tatapan kamu saat melihatnya tak pernah salah, Mas.”
“Jangan menuduhku! Kamu tak tahu apa yang aku rasakan. Bahkan setelah aku menikah dengannya, aku memilih berada di kamarmu dari pada menemainya tidur. Kamu pikir aku lebih mencintainya dari pada kam—“
Fauzan terdiam. Melihat kedua hidung Aina mengeluarkan darah dan membuat tubuh istrinya tampak goyah.
“Aina, kamu baik-baik saja—“
Hoek!
Fauzan mengangkat kedua tangannya untuk menadahi muntahan istrinya yang mulai lunglai. Lantas cairan merah menggenang di telapak tangannya dengan tenang.
Fauzan mendongak. Menatap Aina yang berbicara dengan mulut yang masih penuh darah dan tatapan tak fokusnya.
“Ini juga karena kondisiku yang memburuk.” Aina menggenggam lengan Fauzan lemah. “Jadi lepaskanlah aku dari ikatan kita sebelum kamu melepas aku dengan ayat-ayat Allah.”
***
"Apa maksud Anda, Dok?!" Fauzan menggebrak pelan meja dokter yang ada di depannya.
Tatapan nanar yang menunjukkan ke tidak perayaan pada penjabaran penyakit Aina membuatnya tampak tertekan.
“Sel kanker di dalam tubuh Bu Aina telah menyebar luas ke semua organ dalamnya, Tuan. Beliau tak akan hidup panjang."
Fauzan termenung. Menatap dokter yang baru saja menarik garis penjelasan yang kokoh setelah penjelasan medis yang tak terlalu dia mengerti.
"Kata Anda, dia baik-baik saja. Lalu kenapa sekarang berbeda?" Fauzan mengerutkan keningnya. Tak terima. "Anda berbohong, kan?"
Dokter menggeleng pelan. "Saya berbohong untuk anak-anak. Tapi untuk Anda, saya tak berani." Dokter menghela napas panjang nan penat. "Bu Aina tak ingin kedua anaknya terlalu memikirkannya. Studi mereka lebih penting. Begitu katanya."
Fauzan mengusap kasar wajahnya. Sedikit menundukkan kepala dan menatap kosong kedua kakinya.
"Jadi maksud Anda, kondisinya tetap tak membaik walau sudah menjalani pengobatan berhari-hari di sini?"
Dokter itu diam. Melihat rahang Fauzan yang menegang karena amarah, dia tak mampu mengatakan "Ya" sebagai jawabannya.
"Kondisinya tidak membaik setelah semua obat yang saya resepkan. Tubuh Bu Aina terlalu cepat kebal pada obat-obat baru yang selalu saya resepkan kepadanya."
"Jika memang begitu, kenapa–"
"Pak, saya bukan Tuhan. Saya hanya dokter. Saya menjaga pasien jika memang masih bisa. Masih di dalam kemampuan saya." Dokter menegaskan. "Tapi saya tak bisa melawan takdir walau pun saya sangat ingin melihat semua pasien saya sembuh."
Fauzan menangis. Ini kedua kalinya dia meneteskan air mata dalam sehari hanya karena Aina.
"Lalu apa yang harus saya lakukan sekarang? Jika di sini pun dia tidak membaik, bukankah sebaiknya Anda memulangkan dia?"
"Obat masih berperan penting untuk menjaga kesadaran Bu Aina. Jika Anda meminta beliau pulang, saya tak akan bisa berbuat banyak."
Dokter itu terus menjelaskan. Meyakinkan Fauzan untuk tak membuat keputusan gegabah dalam menghadapi situasi ini. Dia hanya harus tabah dan menerima sebelum semua semakin memburuk dan membuat luka hatinya semakin berlubang.
"Saya akan mempertahankannya selama yang saya bisa. Tapi Anda juga harus bersiap untuk kemungkinan terburuknya." Dokter menunjukkan reaksi sedih. "Tuan, sebenarnya orang baik tak pernah memiliki usia sepanjang manusia tercela di mata saya."
"Maksud Anda, saya tercela?"
Dokter menggelengkan kepalanya. "Saya tahu beliau ingin melepaskan diri dari keluarga Anda. Tidak bisakah Anda melakukan keinginannya? Sebut saja, itu adalah permintaan terakhirnya."
"Sekarang Anda mengira saya membelenggunya?"
Dokter kembali menggeleng. "Pasien saya seperti tidak bisa bernapas dengan baik karena menahan luka hatinya. Tuan, saya juga memiliki seorang istri dan saya orang yang mudah cemburu walau saya memiliki sikap sabar."
Fauzan mengerutkan keningnya dalam. "Sebenarnya apa yang ingin Anda katakan kepada saya, Dok?"
"Bu Aina– sepertinya dia sangat tertekan dengan Anda. Dia tak memperlihatkannya, karena beliau orang yang sabar. Tapi semakin diam seseorang, kadang kala– hatinya terlampau hancur sampai dia tak mampu mengungkapkannya."